Minggu, 31 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 6)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Tel Aviv, Israel

(Jurgen Warmbrunn sangat suka masakan Ethiopia, dan itulah alasan mengapa kami bertemu di Restoran Falasha. Dengan kulitnya yang pucat dan alis lebat di bawah rambut berantakan ala Einstein, dia bisa dikira ilmuwan gila atau profesor di universitas. Dia bukan keduanya. Walaupun dia tak pernah memberitahu divisi intelijen Israel mana yang pernah mempekerjakannya, dia terus terang mengakui bahwa dirinya bisa dibilang pernah menjadi semacam mata-mata).

Kebanyakan orang tak pernah memercayai sesuatu sampai sesuatu itu benar-benar terjadi. Itu bukan kebodohan atau kelemahan, tapi sudah sifat manusia. Aku tak pernah menyalahkan mereka karena tidak percaya, tapi aku tidak menyebut diriku pintar atau semacamnya. Kurasa itu karena tempat kelahiranku. Aku lahir di antara kaum yang selalu merasa takut bahwa mereka akan tersingkir. Itulah bagian dari identitas dan cara berpikir kami, dan kami selalu diingatkan akan hal itu lewat bermacam peristiwa mengerikan, sehingga kami sudah terbiasa untuk bersikap waspada.

Peringatan pertama yang kudapat tentang wabah zombie berasal dari kawan-kawan dan klien kami di Taiwan. Mereka mulanya mengeluh soal program dekripsi piranti lunak kami yang terbaru; bilang bahwa program kami gagal menguraikan isi email rahasia dari sumber-sumber di Cina, dan yang berhasil mereka peroleh sangat sulit dimengerti. Kupikir mungkin ini karena orang-orang Cina punya kebiasaan menggunakan komputer-komputer berbeda yang diproduksi pada tahun-tahun berbeda di negara-negara berbeda pula. Aku sudah akan menjelaskan teori ini pada klien-klien kami di Taipei, tapi aku kemudian berpikir untuk menguraikan pesan-pesan itu sendiri terlebih dahulu. 

Mulanya aku agak heran, karena kulihat kode-kodenya sudah terurai dengan sempurna. Tapi isi emailnya...pokoknya ada hubungannya dengan penyebaran semacam wabah yang membunuh korban yang terjangkiti, sebelum menghidupkan mayatnya kembali dan mengubahnya menjadi mesin pembunuh gila. Tentu saja aku mulanya tak percaya. Kupikir itu semacam metode enkripsi pesan, seperti kode di atas kode, prosedur standar untuk mempersulit mata-mata. Kupikir mungkin orang-orang Cina tidak benar-benar bermaksud mengatakan "mayat hidup," melainkan kode untuk semacam senjata baru atau strategi perang rahasia. Aku pun mencoba berpikir seperti itu, walaupun aku tetap merasa bahwa, seperti yang salah satu pahlawan super kalian sering bilang: "indra laba-labaku bekerja."

Tak lama setelah itu, saat pesta resepsi pernikahan putriku, aku mengobrol dengan dosen menantuku di Hebrew University. Si tua itu benar-benar cerewet, dan hari itu dia juga agak mabuk. Dia mengoceh tentang sepupunya di Afrika Selatan yang memberitahunya cerita tentang golem. Kau tahu golem? Itu legenda tentang seorang rabi yang menghidupkan patung tak bernyawa. Mary Shelley mencuri ide itu untuk menulis Frankenstein. Yah, pokoknya, pria itu bilang bahwa golem yang sebenarnya tidak terbuat dari tanah liat, sama sekali tidak ramah dan penurut. Ketika dia menyebut "mayat hidup," aku langsung minta nomor telepon sepupunya. Si sepupu saat itu masih di Cape Town, baru saja ikut sebuah "Tur Adrenalin" berenang dengan ikan hiu.

(Dia memutar bola matanya).

Rupanya si ikan hiu menggigit bokongnya atau apalah, dan si sepupu diopname di Rumah Sakit Groote Schuur, ketika korban pertama dari peristiwa di Khayelitsha dibawa ke sana. Dia tidak pernah melihat langsung kasusnya, namun para staf rumah sakit yang bercerita padanya memberinya cukup banyak informasi. Aku mencatat ceritanya, lalu mengirimkannya bersama dengan email-email dari Cina kepada atasan-atasanku.

Di sinilah aku diuntungkan dari situasi keamanan nasional kami. Pada bulan Oktober 1973, setelah serangan bangsa Arab yang nyaris mendesak kami semua ke Laut Mediterania, kami baru sadar bahwa kami telah mengabaikan semua data-data intelijen yang akan berguna untuk menghadapi serangan itu dengan lebih baik. Kami tidak pernah memperhitungkan adanya kemungkinan serangan besar terkoordinasi dari beberapa negara sekaligus, apalagi di hari-hari sakral keagamaan. Sebut saja itu stagnasi, pikiran kaku atau mentalitas kelompok. Coba bayangkan sekelompok besar orang berdiri menghadap tembok yang ditulisi. Akan tetapi, tanpa mereka ketahui, di belakang mereka ada cermin yang mengungkapkan makna sebenarnya dari pesan di tembok itu, namun tak ada yang berbalik untuk melihatnya karena merasa tidak perlu. Nah, setelah serangan itu, kami berpikir bahwa "konsep cermin" itu tidak hanya penting, namun juga harus menjadi bagian dari kebijakan keamanan nasional kami.

Maka, sejak tahun 1973 hingga seterusnya, jika sembilan orang analis intelijen kami mencapai kesimpulan yang sama, maka satu orang harus menjadi pihak yang tidak setuju. Tidak peduli seberapapun anehnya suatu informasi atau teori, orang ini harus terus menggalinya. Jika ada rumor bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir milik negara tetanggamu digunakan untuk membuat senjata plutonium, atau seorang diktator dikabarkan membuat meriam yang begitu besar sampai bisa melontarkan mayat hidup ke negara ini, orang ini harus terus dan terus menggali sampai menemukan kebenarannya. 

Itulah yang kulakukan: aku terus menggali. Mulanya itu tidak mudah. Cina memutuskan hubungan, krisis wabah di Taiwan mengakhiri tiap upaya pengumpulan informasi intelijen...aku hanya punya sedikit sekali sumber informasi, namun banyak di antaranya hanya omong kosong, terutama jika sumbernya dari internet. Zombie alien, obsesi kalian di Amerika terhadap Area 51.... Sampai akhirnya, aku berhasil menemukan data-data yang lebih bisa dipercaya. Laporan kasus-kasus "rabies" di Cape Town. Evaluasi psikologis terhadap beberapa prajurit Kanada yang baru pulang dari Kyrgyzstan. Ada juga postingan blog seorang perawat di Brazil yang mengisahkan serangan dan pembunuhan terhadap ahli bedah jantung di kliniknya.

Mayoritas sumber informasi utamaku datang dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). PBB adalah mahakarya birokrasi ruwet; begitu banyak potongan data berharga terkubur di antara timbunan laporan yang tak terbaca. Aku berhasil menemukan laporan beragam insiden di seluruh dunia yang semuanya telah diabaikan. Laporan kasus-kasus ini membantuku menyusun kepingan-kepingan informasiku menjadi satu gambaran sumber ancaman yang nyata: sudah mati namun hidup kembali, ganas, dan menyebar dengan cepat. Aku bahkan berhasil menemukan satu informasi berguna, yaitu bagaimana cara membunuh mereka.

Hancurkan otaknya.

(Dia tertawa terkekeh). Kita menyebut hal ini seolah kita membicarakan semacam solusi ajaib seperti ramuan penangkal, air suci atau peluru perak. Tapi, menghancurkan otak bukan hanya berguna untuk membunuh mayat hidup; itu juga membunuh kita semua.

Maksudmu manusia hidup?

Bukankah kita semua seperti itu? Hanya otak hidup yang fungsinya disokong oleh mesin rumit yang kita sebut "tubuh?" Otak tidak bisa bertahan hidup jika salah satu bagian mesin itu rusak atau kekurangan bahan bakar penting seperti makanan dan oksigen. Hanya itu yang membedakan kita dari "Mayat Hidup." Otak mereka tidak memerlukan mesin yang berfungsi untuk menyokong kerjanya, jadi sangat penting untuk langsung menghancurkan otak itu sendiri. (Dia pura-pura menembak kepalanya sendiri.) Solusi yang mudah sekali, tapi seandainya saja waktu itu kita mengetahuinya lebih cepat! 

Berhubung wabah itu menyebar cukup cepat, kupikir sebaiknya aku mencari informasi tambahan dari lingkungan intelijen internasional. Paul Knight dan aku sudah berteman sejak kami masih sama-sama bertugas di Entebbe. Dialah yang dulu punya ide untuk membuat kembaran sedan BMW hitam milik Idi Amin. Paul berhenti tepat sebelum agensinya mengalami "reformasi," kemudian dia bekerja sebagai konsultan di Bethesda, Maryland. Ketika aku mengunjunginya, aku kaget melihat bahwa dia menyelidiki hal yang sama denganku, dan laporan kami hampir sama tebalnya. Kami saling membaca laporan masing-masing sepanjang malam, nyaris tanpa bicara; kupikir kami bahkan hampir tidak menyadari apa yang terjadi di sekitar kami. Baru saat fajar ketika kami akhirnya selesai.

Aku ingat dia menoleh ke arahku setelah menutup halaman terakhir, lalu bertanya, "gawat sekali, ya?" Aku mengangguk, sebelum balas bertanya, "jadi, apa yang harus kita lakukan?"

Dan itulah awal kemunculan dokumen "Warmbrunn-Knight Report."

Kuharap orang berhenti menyebutnya begitu, kau tahu. Secara keseluruhan, ada lima belas orang yang terlibat di dalamnya: virolog, staf operasi intelijen, analis militer, jurnalis, bahkan seorang staf pengamat PBB yang memantau pemilihan umum di Indonesia ketika wabah mulai melanda negara itu. Mereka semua adalah para ahli di bidangnya, dan mereka masing-masing harus sudah memiliki kesimpulan kuat sebelum kami hubungi. Keseluruhan laporan kami mencapai seratus halaman panjangnya; sangat lengkap, mendetail, dan saat itu kami pikir sudah cukup untuk mencegah agar wabah ini tidak menjadi epidemi. Seandainya saja lebih banyak orang membaca laporan-laporanku dan mewujudkannya menjadi rencana yang konkrit untuk menghadapi wabah zombie, kami mungkin bahkan tak perlu membuat "Warmbrunn-Knight Report."

Tapi ada orang yang membacanya, 'kan? Dan pemerintahmu juga....

Ya, tapi hanya sepintas, dan lihatlah apa akibatnya.

Baca bagian selanjutnya di sini.

Minggu, 24 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 5)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Silakan ke sini.



Pelabuhan Bridgetown, Barbados, Federasi Hindia Barat

(Aku disuruh menunggu kedatangan "kapal yang layarnya tinggi," namun yang disebut "layar tinggi" kapal IS Imfingo ternyata mengacu ke empat buah turbin angin vertikal yang mencuat dari lambungnya. Kapal ini dilengkapi dengan PEM, Proton Exchange Membrane, teknologi yang mengubah air laut menjadi listrik. Digadang-gadang sebagai masa depan transportasi laut, aku belum pernah melihat kapal semacam ini berlayar tanpa bendera yang menandakan status sebagai milik pemerintah. Akan tetapi, Imfingo adalah kapal milik pribadi, dan Jacob Nyathi adalah kaptennya).

Aku lahir di Afrika Selatan pada tahun-tahun ketika masa apartheid baru saja berakhir. Pada tahun-tahun penuh euforia itu, pemerintah tidak hanya menjanjikan kesetaraan dalam demokrasi, namun juga pekerjaan dan rumah untuk kami. Ayahku mengira hal itu akan segera terwujud; dia tidak paham bahwa itu adalah tujuan jangka panjang, yang harus dicapai dengan bertahun-tahun kerja keras. Pikirnya, jika kami meninggalkan kampung halaman dan pindah ke kota, kami akan langsung mendapat rumah baru dan pekerjaan bergaji besar. Ayahku seorang buruh harian, cara berpikirnya sederhana, jadi aku tak bisa menyalahkannya hanya karena bermimpi untuk memberi kami kehidupan yang lebih baik walaupun ia tak punya pendidikan. Kami pun pindah ke Khayelitsha, salah satu dari empat kota utama di luar Cape Town. Kami sangat miskin dan masa kecilku sangat sulit.

Pada malam peristiwa itu terjadi, aku sedang berjalan dari halte bus menuju rumah. Aku baru menyelesaikan giliran kerjaku di restoran T. G. I. Friday's di Victoria Wharf. Aku ingat malam itu lumayan menyenangkan; aku dapat banyak tips, dan tim rugby Springboks baru saja mengalahkan All Blacks...untuk yang kedua kalinya!

(Dia tersenyum sejenak)

Mungkin hal-hal itu membuatku sedikit lengah, tapi aku ingat tubuhku langsung bereaksi ketika mendengar suara tembakan. Tembak-menembak bukan hal yang aneh di tempat tinggalku pada masa itu. "Satu orang, satu senjata," begitulah slogan hidup di Khayelitsha. Kau langsung mengembangkan naluri bertahan hidup layaknya veteran perang, dan naluriku setajam pisau cukur. Aku langsung jongkok dan merunduk, mencoba mencari tahu darimana asal suara tembakan itu, dan pada saat yang sama berusaha mencari tempat untuk berlindung. Sayangnya, kebanyakan "rumah" di sana lebih tepat disebut gubuk semi-permanen, terbuat dari kayu-kayu sisa dan seng berkarat, atau bahkan lembaran plastik yang dipasang pada tiang-tiang setengah jadi. Tempat itu sering kebakaran, dan kau bisa bayangkan peluru menembusi mereka seperti menembus udara saja.

Aku berlari cepat dan berjongkok di belakang tempat cukur rambut yang dibangun dari sisa-sisa kontainer besi seukuran mobil. Bukan tempat sembunyi yang sempurna, tapi lumayan memberiku waktu untuk setidaknya menunggu sampai tembak-menembak berhenti. Hanya saja, suara-suara tembakan tidak berhenti. Pistol, shotgun, dan suara rentetan yang memberitahuku kalau seseorang punya Kalashnikov. Rasanya terlalu lama untuk ukuran pertempuran antar geng yang biasa. Aku mendengar jeritan dan teriakan. Aku mencium asap. Ada suara-suara gaduh. Saat aku mengintip, aku melihat lusinan orang, kebanyakan penghuni di daerah sekitar situ, semuanya berlari sambil menjerit-jerit: "lari! Pergi dari sini! Mereka datang!"

Lampu-lampu langsung menyala di pemukiman kumuh itu, wajah-wajah melongok keluar dari gubuk. "Apa yang terjadi?" Seru mereka. "Siapa yang datang?" Seru anak-anak. Tapi orang-orang yang lebih tua, mereka tidak berkata apa-apa dan langsung berlari. Mereka punya naluri sendiri, kau tahu, naluri yang lahir dari masa-masa ketika mereka masih jadi budak di negeri mereka sendiri. Pada masa-masa itu, semua orang tahu siapa "mereka" itu, dan jika "mereka" datang, sebaiknya kau lari dan berdoa.

Apakah kau ikut lari?

Aku tak bisa. Ibuku dan kedua adik perempuanku tinggal tak jauh dari stasiun radio Zibonele, area yang dijauhi orang-orang itu. Aku memang bodoh; harusnya aku berbalik dan menemukan gang atau sudut-sudut sepi untuk sembunyi. Tapi, aku malah langsung berlari ke arah mereka, menembus kerumunan orang yang panik. Aku tertabrak sana-sini, sampai aku terlempar ke salah satu gubuk. Aku terbelit lembaran plastik ketika tiang-tiang rapuh gubuk itu runtuh. Aku terjebak, tak bisa bernapas, kepalaku tertendang. Aku membebaskan diri dan berguling ke jalan. Aku masih tengkurap di aspal ketika akhirnya aku melihat mereka: ada sepuluh atau lima belas, semuanya berupa siluet yang dilatarbelakangi kobaran api. Aku tak bisa melihat wajah mereka, tapi aku bisa mendengar erangan mereka. Mereka berjalan dengan langkah separuh diseret, lengan-lengan mereka terangkat ke arahku.

Kepalaku masih pusing dan tubuhku sakit semua, tapi aku langsung berdiri. Aku mundur ke gubuk terdekat, ketika sesuatu mendadak mencengkeram kerahku dari belakang. Kerahku robek, dan aku langsung berputar sambil menendang. Makhluk itu besar, besar dan lebih gemuk dariku setidaknya beberapa kilo. Ada cairan hitam menodai mulut dan bagian depan kaus putihnya. Sebilah pisau menancap di dadanya, terkubur di antara rusuk sampai ke gagangnya. Potongan kain kerahku jatuh dari mulutnya ketika ia menggeram dan menerjang. Aku mencoba menghindar. Ia menangkap lenganku, dan aku mendengar suara retakan serta merasakan sakit luar biasa. Aku jatuh berlutut, lalu mencoba berguling dan mungkin membuatnya tersandung.

Tanganku mendadak meraih sesuatu; sebuah penggorengan besi berat. Aku langsung mengayunkannya sekuat tenaga ke wajahnya. Aku memukulnya berkali-kali sampai kulihat tengkoraknya retak dan otaknya berhamburan dekat kakiku. Ia jatuh tersungkur dan aku langsung mundur ketika kulihat yang lainnya mendekat. Kali itu, gubuk-gubuk reyot itu membantuku. Aku langsung menendang salah satu dinding rapuh, dan satu gubuk langsung runtuh menimpa mereka.

Aku lari lagi. Aku tidak tahu kemana aku pergi. Benar-benar mimpi buruk; gubuk reyot dan kebakaran dan tangan-tangan terulur berusaha meraihku. Aku berlari menembus gubuk ini, dan kulihat seorang wanita bersembunyi di sudut. Ada dua anak kecil meringkuk sambil menangis di pelukannya. "Ayo!" Teriakku. "Berdirilah, kita harus pergi!" Aku mendekat sambil mengulurkan tangan, tapi dia menarik anak-anaknya lebih dekat sambil mengacungkan obeng yang ujungnya sudah ditajamkan. "Kumohon!" Teriakku, "kau harus lari!" Aku berusaha menyentuhnya, tapi dia menusuk tanganku. Aku lari meninggalkannya, aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Sampai sekarang aku masih mengingatnya setiap kali aku menutup mata. Kadang-kadang, wajahnya berubah menjadi wajah ibuku, dan tangisan anak-anaknya adalah tangisan adik-adikku.

Pokoknya, aku masih berlari ketika kulihat cahaya terang lampu mobil menembus sela-sela gubuk di depanku. Aku lari secepat mungkin dan berusaha memanggil siapapun mereka. Aku kehabisan napas dan langsung jatuh menembus dinding rapuh salah satu gubuk, dan tiba-tiba saja aku sudah ada di area terbuka. Cahayanya menyilaukan sekali, dan aku mendadak merasakan hantaman keras di bahuku. Kurasa aku sudah pingsan bahkan sebelum mencium tanah.

Aku siuman di atas ranjang di Rumah Sakit Groote Schuur. Aku tidak pernah melihat bagian dalam rumah sakit yang seperti ini; begitu putih dan bersih. Kupikir aku sudah mati, atau mungkin itu pengaruh obatnya. Aku tak pernah menyentuh alkohol, apalagi obat-obatan. Aku tak pernah mau berakhir seperti banyak anak-anak muda di lingkunganku, atau seperti ayahku. Seumur hidup, aku berjuang untuk tetap bersih, dan sekarang....

Morfinnya, atau apapun yang mereka suntikkan ke tubuhku, rasanya enak sekali. Aku tak peduli lagi pada semuanya. Aku tak peduli ketika mereka bilang polisi telah menembakku di pundak. Aku sama sekali tak menoleh ketika pasien di sampingku langsung didorong keluar ruangan segera setelah nafasnya berhenti. Aku bahkan tak peduli ketika telingaku menangkap potongan-potongan pembicaraan tentang "wabah rabies."

Apakah mereka berbicara tentang peristiwa itu?

Aku tidak tahu waktu itu. Seperti yang sudah kubilang, aku sedang teler. Aku hanya ingat suara-suara di lorong di luar kamarku, suara-suara keras penuh kemarahan saat mereka berdebat. "Itu bukan rabies!" Salah satunya berteriak. "Rabies tidak menyebabkan hal seperti itu!" Lalu ada lagi...aku tak ingat...lalu, "yah, kalau begitu menurutmu itu apa!? Ada limabelas yang seperti itu di sini! Apa kau tahu berapa banyak yang mungkin ada di luar sana!?" Lucu sekali; aku terus saja mengulang-ulang percakapan itu di kepalaku setelahnya. Lama sekali sebelum aku akhirnya sadar dan menghadapi semua mimpi burukku.

Baca bagian selanjutnya di sini.

Jumat, 22 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 4)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Silahkan ke sini.


Hutan Amazon, Brazil

(Mataku ditutup sepanjang perjalanan sehingga aku tak akan membocorkan lokasi tempat tinggal suku pribumi ini. Orang-orang menyebut mereka Yanomami, "Kaum Beringas," dan tak ada yang tahu apakah ini karena reputasi mereka sebagai suku yang ganas, atau fakta bahwa desa mereka dibangun tinggi di atas pepohonan sehingga mereka mampu melewati krisis wabah zombie secara lebih efektif dibandingkan kota-kota industri. Aku juga tidak tahu apakah Fernando Olivieira, pria kulit putih kurus bertampang pecandu "dari tepian dunia" itu adalah tamu, maskot, atau tahanan mereka).

"Aku masih seorang dokter," begitulah biasanya aku meyakinkan diriku dulu. Ya, aku memang kaya dan semakin bertambah kaya sebanyak yang kubisa, tapi kesuksesanku setidaknya datang dari praktik medis yang memang dibutuhkan. Aku tidak mengiris dan membentuk hidung mancung di wajah para remaja atau menjahit "pinto" orang-orang Sudan* ke tubuh para diva pop banci. Aku dokter yang menolong orang, dan jika apa yang kulakukan dianggap "tidak bermoral" oleh Amerika dan Eropa yang sok suci, kenapa banyak dari mereka yang menjadi pasienku?

Paket itu tiba dari bandara satu jam sebelum pasienku datang, diletakkan di atas es dalam kotak plastik. Jantung adalah organ yang sulit didapatkan, tidak seperti hati, jaringan kulit, dan ginjal yang bisa diperoleh dari rumah sakit atau kamar mayat dimana saja di negara ini setelah semua ijinnya "diurus."

Apakah kau mengetesnya?

Untuk apa? Jika kau mau melakukan tes, kau harus tahu apa yang hendak kau temukan. Kami tidak tahu apa-apa tentang wabah zombie sebelumnya. Kami lebih memikirkan soal hepatitis, HIV/AIDS, dan kami bahkan tidak sempat melakukan tes untuk penyakit-penyakit itu.

Kenapa?

Karena penerbangannya sangat panjang. Organ tubuh tak bisa disimpan dalam es selamanya. Kami sudah habis-habisan untuk yang satu itu.

Dari mana jantung itu datang?

Cina. Perantaraku beroperasi di Makau. Kami percaya padanya karena rekam jejaknya bagus. Ketika ia bilang bahwa paketnya bersih, aku percaya saja. Dia tahu resikonya, aku tahu resikonya, dan pasien-pasienku juga. 

Sebagai tambahan atas penyakit jantungnya, Tuan Muller juga didiagnosis menderita kelainan genetis langka: dekstrokardia dengan situs inversus. Organ-organ tubuh dalamnya terletak di posisi yang salah; hatinya di sebelah kiri, nadi jantung di sebelah kanan, dan seterusnya. Kau paham situasi yang kami hadapi? Kami tidak bisa sekedar memasang jantung baru dan memutarnya; bukan begitu caranya. Kami harus segera memesan jantung segar dari "donor" yang memiliki kondisi sama. Dimana lagi kami bisa menemukannya selain di Cina?

Jadi, itu keberuntungan?

Ya, dan sedikit "kelonggaran politis." Aku hanya bilang pada perantaraku apa yang kubutuhkan, termasuk semua informasi spesifiknya. Tiga minggu kemudian, aku menerima e-mail berjudul: "Ada yang cocok."

Jadi, kau melakukan operasi itu.

Aku hanya membantu; Dokter Silva yang melakukan prosedurnya. Dia ahli bedah jantung andal yang menangani kasus-kasus sulit di Hospital Israelita Albert Einstein di São Paulo. Bajingan sombong, dia itu, bahkan untuk ukuran ahli bedah jantung. Aku harus mati-matian menekan ego ketika bekerja bersamanya...bangsat itu memperlakukanku seolah aku masih calon dokter. Tapi bisa apa lagi aku? Tuan Muller butuh jantung baru, dan rumah pantaiku butuh Jacuzzi baru.

Ternyata Tuan Muller tak pernah sadar dari pengaruh anestesi. Hanya beberapa menit setelah kami selesai, ia mulai menunjukkan gejala-gejala aneh. Temperatur, denyut nadi, pernapasan, semua kacau. Aku jadi cemas, tapi aku yakin kolegaku yang terhormat itu pasti lebih senewen. Ia gelagapan memberitahuku bahwa itu mungkin reaksi umum dari obat-obatan imunosupresan, atau komplikasi yang bisa terjadi pada pasien usia enam puluh tujuh tahun yang kelebihan berat badan. Aku setengah menyangka bangsat sombong itu akan menepuk-nepuk kepalaku ketika ia menyuruhku pulang, mandi air hangat, mungkin memesan satu atau dua gadis panggilan, tidur, pokoknya santai. Dia akan menunggu di klinik dan meneleponku jika ada perubahan.

(Olivieira menggigit bibir dengan marah dan mengunyah lagi sejumput daun-daunan asing di sampingnya).

Aku tak bisa bilang apa-apa lagi. Ya, mungkin saja itu karena obatnya, OKT 3. Atau mungkin aku yang terlalu khawatir. Lagipula, itu operasi transplantasi jantung pertamaku. Memangnya aku tahu apa? Tapi perasaanku tetap saja tak enak, jadi aku melakukan apa yang dilakukan para dokter baik-baik ketika pasien mereka sedang menderita; aku pergi ke kota, berdisko, mabuk-mabukan, bercinta dengan entah siapa dan berapa orang. Aku bahkan tidak sadar ketika ponselku berdering. Mungkin baru empat jam kemudian ketika aku akhirnya menjawab dering ponsel. Resepsionisku, Graziela, kedengaran sangat panik. Dia bilang, Tuan Muller sudah satu jam mengalami koma. Aku sudah berada di mobilku bahkan sebelum dia selesai bicara. Perjalanan kembali ke klinik memakan waktu tiga puluh menit, dan aku mengutuki Silva serta diriku sendiri sepanjang perjalanan. Jadi firasatku memang benar! Memang ada yang harus dikhawatirkan! Tapi, meskipun aku sadar bahwa hal ini akan berakibat buruk untukku, diam-diam aku juga merasa senang ketika menyadari bahwa reputasi Dokter Silva akhirnya tercoreng.

Ketika aku tiba, Graziela sedang sibuk menenangkan Rosi, seorang perawat muda. Gadis malang itu sangat histeris. Aku menamparnya satu kali, lalu mencecarnya dengan pertanyaan. Kenapa ada bekas darah di seragamnya? Mana Dokter Silva? Kenapa pasien-pasien ini ada di luar ruangan? Suara gedoran apa itu di dalam sana? Perawat itu bilang Tuan Muller mendadak kehilangan tanda-tanda vitalnya. Ketika mereka mencoba menyadarkannya lagi, ia mendadak membuka matanya dan menggigit tangan Dokter Silva. Keduanya bergulat. Rosi berusaha memisahkan mereka, namun ia pun nyaris digigit. Karena ketakutan, ia lari keluar dan mengunci pintunya.

Aku nyaris tertawa mendengarnya. Konyol sekali! Mungkin si Dokter Superman salah diagnosa. Mungkin Tuan Muller hanya merasa linglung setelah terbangun, dan karenanya langsung mencengkeram tangan Silva, bukan menggigitnya. Tapi...pandanganku terarah ke darah di seragam Rosa, dan suara-suara gaduh dari kamar Tuan Muller masih saja terdengar. Aku bergegas ke mobilku untuk mengambil pistolku, lebih untuk menenangkan Graziela dan Rosi daripada diriku.

Kau membawa pistol?

Hei, aku tinggal di Rio. Kau pikir apa yang kubawa, pinto-ku? Pokoknya, aku berlari ke kamar Tuan Muller, dan kuketuk pintunya beberapa kali. Tak ada yang menjawab, tapi aku melihat genangan darah merembes dari bawah pintu. Ketika aku masuk, lantai benar-benar tergenang oleh darah. Silva tergeletak di pojok ruangan, dan Tuan Muller membungkuk di atasnya, punggungnya yang pucat dan berbulu menghadap ke arahku. Aku tidak tahu apakah aku memanggil namanya atau mengumpat, yang jelas, dia tiba-tiba menoleh ke arahku, potongan-potongan daging berjatuhan dari mulutnya. Kulihat jahitannya sudah terbuka, dan ada cairan kental kehitaman keluar dari irisan bekas operasinya. Dia berdiri, dan perlahan berjalan ke arahku.

Kuangkat pistolku dan kuarahkan ke jantung Tuan Muller, jantung barunya itu. Pistolku "Desert Eagle," buatan Israel, bentuknya besar dan menyolok; alasan utama kenapa aku memilihnya, walau aku belum pernah menembak seseorang sampai saat itu. Aku tidak siap dengan hantaman baliknya, sehingga bidikanku mengarah ke kepalanya. Untungnya, dia langsung terjatuh, dan aku hanya bisa berdiri gemetaran sambil mengompol. Graziela yang kemudian gantian menamparku beberapa kali, sampai akhirnya aku sadar dan segera menelepon polisi.

Apakah kau ditahan?

Kau gila? Tentu saja tidak. Polisi adalah rekananku; mereka yang membantuku mendapatkan organ-organ tubuh segar, dan membereskan semua kekacauan itu. Mereka pintar sekali; membantu menjelaskan pada para pasien bahwa ada pembunuh gila yang menerobos ke klinik dan membunuh Tuan Muller serta Dokter Silva. Mereka juga memastikan para staf tutup mulut.

Bagaimana dengan mayat-mayatnya?

Mereka melaporkan Silva sebagai korban "pembajakan mobil." Aku tidak tahu dimana mereka membuang mayatnya; mungkin di salah satu daerah kumuh, dibumbui cerita-cerita yang biasa tentang transaksi narkoba yang gagal atau semacamnya. Kuharap mereka membakar mayatnya, atau menguburnya dalam-dalam.

Apakah kau pikir dia hidup lagi?

Aku tidak tahu. Kupikir otaknya masih utuh waktu dia mati. Kalau tubuhnya tidak dibungkus dalam kantung mayat...kalau tanahnya cukup lembek...berapa lama yang diperlukan sampai dia bisa menggali keluar?

(Olivieira mengunyah sejumput daun lagi. Ia menawariku, namun kutolak).

Bagaimana dengan Tuan Muller?

Tak ada penjelasan. Tidak untuk jandanya ataupun Kedutaan Austria. Mereka hanya melaporkannya sebagai satu dari turis-turis sial yang hilang diculik. Aku tidak tahu apakah Nyonya Muller percaya atau tidak, tapi aku hanya bisa bilang kalau dia beruntung sekali.

Apa maksudmu "beruntung?"

Apa maksudmu? Coba pikir, bagaimana kalau dia tidak keburu berubah menjadi zombie? Bagaimana kalau dia sempat pulang ke rumahnya?

Apa itu mungkin?

Tentu saja! Coba kau pikir; infeksinya menyebar dari jantung barunya. Virus apapun yang menyerangnya jadi punya akses ke sistem sirkulasinya, dan menyerang otaknya hanya dalam beberapa detik setelah transplantasi. Bandingkan dengan organ-organ lain seperti hati, ginjal atau kulit, pasti butuh waktu lebih lama.

Tapi donornya....

Donornya tidak harus berubah menjadi zombie dulu! Mungkin si donor baru terinfeksi sehingga organnya tidak keburu rusak. Kalau kau taruh organ itu di tubuh baru, mungkin masih perlu waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu sebelum virusnya mencapai aliran darah. Sampai saat itu tiba, si pasien mungkin sudah hampir sembuh, merasa sehat, dan hidup senang tanpa tahu apa-apa.

Jadi, siapapun yang memindahkan organnya dari tubuh donor...

...kemungkinan tidak tahu apa-apa soal apa yang dihadapinya. Aku juga tidak. Saat itu baru permulaan, ketika orang-orang masih tidak tahu apa-apa. Bahkan sekalipun mereka tahu sesuatu, seperti beberapa orang di militer Cina.... Kau tahu, mereka sudah mengambil banyak keuntungan dari menjual organ-organ tubuh narapidana yang dieksekusi selama bertahun-tahun. Pikirmu masalah penyebaran virus akan membuat mereka berhenti menyedot semua sumber uang itu?

Tapi bagaimana bisa?

Itu bisa terjadi jika kau memindahkan organ dari donor yang baru meninggal, atau bahkan ketika ia masih hidup. Mereka biasa melakukan itu, untuk menjaga kesegaran organ tubuh. Kemas dalam es, masukkan ke pesawat, kirim ke Rio. Cina dulu merupakan eksportir organ tubuh manusia terbesar di dunia. Siapa yang tahu berapa banyak organ terinfeksi di luar sana? Itu baru organ tubuh. Kita belum bicara tentang sel telur, darah dan sperma "sumbangan" dari para tahanan politik. Pikirmu imigrasi adalah satu-satunya penyebab penyebaran wabah zombie? Tidak semua yang terinfeksi pertama kali adalah warga negara Cina. Bisakah kau menjelaskan laporan kasus-kasus orang-orang yang mati mendadak, lalu berubah menjadi zombie padahal mereka tidak digigit? Mengapa banyak kasus penyebaran wabah berawal dari rumah sakit? Imigran ilegal miskin dari Cina tidak pergi ke rumah sakit, tahu. Berapa ribu orang yang mendapat organ-organ tubuh dari Cina di masa-masa awal penyebaran wabah? Biarpun hanya satu persen, satu persen saja dari mereka yang terinfeksi....

Apakah kau punya bukti untuk teori ini?

Tidak, tapi bukan berarti hal-hal itu tidak terjadi. Kalau aku mengingat-ingat semua operasi transplantasi yang pernah kulakukan...semua pasien dari Eropa, Timur Tengah, bahkan Amerika Serikat sok suci.... Kalian di Amerika mungkin tak pernah bertanya-tanya darimana ginjal atau pankreas baru kalian datang, apakah dari seorang bocah gelandangan di Rio, atau tahanan politik yang dihukum mati. Kalian tidak tahu dan tidak peduli. Yang kalian pikirkan hanya menandatangani cek perjalanan, dioperasi, dan pulang ke Miami atau New York atau apalah.

Apakah kau pernah mencoba melacak pasien-pasien ini untuk memperingatkan mereka?

Tidak. Aku lebih sibuk memulihkan diri dari skandal, berusaha membangun kembali reputasiku, jaringan pasienku, dan rekening bankku. Aku hanya ingin melupakan semuanya, jadi aku tak pernah menyelidiki lebih lanjut. Ketika aku menyadari bahaya yang sesungguhnya, sudah terlambat.

Baca bagian selanjutnya di sini.


*Organ-organ seksual pria Sudan yang dipotong karena tuduhan melakukan hubungan seks di luar nikah kerap diduga dijual di pasar gelap sebagai jimat. 

Minggu, 17 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 3)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Silakan ke sini.


Meteora, Yunani

(Komplek biara itu dibangun di atas tebing batu curam yang sulit diakses, dan beberapa di antaranya nampak bertengger di atas pilar-pilar karang yang nyaris vertikal. Biara ini mulanya adalah tempat perlindungan di zaman Turki Ottoman, namun kemudian terbukti menjadi salah satu benteng teraman di tengah wabah zombie. Tangga-tangga dari besi atau kayu yang bisa ditarik dan diturunkan menjadi sarana untuk menerima para peziarah maupun wisatawan. Meteora sangat populer; banyak yang datang mencari pencerahan spiritual, sementara lainnya hanya menginginkan kedamaian. Stanley MacDonald, seorang veteran asal Kanada, termasuk golongan kedua. Pertemuan pertamanya dengan zombie adalah ketika ia bergabung dengan Batalion Ketiga Pasukan Infantri Ringan Princess Patricia dalam operasi militer di Kyrgyzstan).

Pertama, tolong jangan mengira kami sama dengan "Tim Alfa" Amerika. Peristiwa ini jauh sebelum pasukan itu diturunkan, sebelum masa-masa "Kepanikan Besar," dan sebelum Israel mengarantina negara mereka sendiri. Ini bahkan jauh sebelum penyebaran wabah besar-besaran di Cape Town. Ini terjadi pada masa-masa awal penyebaran, ketika orang-orang masih belum menyadari bencana apa yang akan datang. Misi kami adalah misi rutin, terbatas pada pembasmian penyebaran opium dan hash, tanaman ekspor favorit para teroris di seluruh dunia. Hanya itu yang kami temui di wilayah tandus tersebut, dan kami memang hanya disiapkan untuk menghadapi itu.

Gua itu mudah ditemukan; ada jejak-jejak darah panjang mengarah ke pintu masuknya. Ketika kami tiba, kami seketika tahu bahwa ada yang tidak beres, karena tidak ada mayat. Suku-suku yang bermusuhan suka meletakkan mayat-mayat di pintu masuk gua setelah memutilasinya terlebih dahulu, sebagai peringatan. Sebaliknya, walau ada banyak darah dan kerat-kerat daging berwarna coklat yang membusuk, satu-satunya "mayat" yang kami temukan adalah bangkai-bangkai keledai pengangkut. Mereka tidak ditembak, tetapi dibunuh oleh apa yang nampaknya seperti hewan liar. Perut mereka koyak dan bekas-bekas gigitan menutupi sekujur tubuh mereka. Kami pikir mungkin ini perbuatan anjing liar. Gerombolan anjing liar memang banyak terdapat di lembah itu, dan mereka sama besar dan ganas seperti serigala Kutub.

Yang paling membingungkan adalah barang-barang yang diangkut keledai-keledai itu. Semuanya masih utuh, terikat pada sadel atau berhamburan di sekitar bangkai mereka. Tidak peduli walaupun itu pembunuhan karena perebutan wilayah, pembunuhan religius atau balas dendam antar suku, tidak ada seorangpun yang akan membiarkan lima puluh kilogram Bad Brown* mentah berkualitas tinggi, senapan-senapan serbu, serta barang-barang mahal seperti arloji, pemutar CD, dan pelacak GPS terabaikan begitu saja.

Jejak darah yang kami ikuti berawal dari apa yang nampaknya sebuah pembunuhan keji di dekat sumber air. Ada banyak sekali darah di sana. Siapapun yang kehilangan darah sebanyak itu jelas tak akan berdiri lagi. Akan tetapi, kami salah. Si korban nampaknya berhasil berdiri dan pergi. Tidak ada jejak lain kecuali apa yang kelihatannya seperti jejak kakinya sendiri. Nampaknya, orang ini lari sambil mengucurkan darah, lalu jatuh tertelungkup; kami bisa melihat bekas berdarah wajahnya di pasir. Entah bagaimana, ia terbaring di sana tanpa mati kehabisan napas, kemudian bangkit lagi dan berjalan. Akan tetapi, jejak langkahnya yang kedua nampak berbeda dari yang pertama. Langkahnya lebih pelan, lebih rapat satu sama lain. Kaki kanannya kelihatannya diseret; kami bisa tahu dari salah satu sepatunya yang copot, sebuah Nike tua, hanya yang sebelah kanan. Jejak kaki itu nampak dinodai cairan aneh. Tetesan-tetesan sesuatu yang kental berwarna hitam, dan tak ada seorangpun yang tahu apa itu. Jejak-jejak itulah yang menuntun kami ke gua tersebut.

Tidak ada api unggun, tidak ada seorangpun yang menyambut kami. Pintu masuk gua itu nampak terabaikan dan tidak dijaga. Ketika kami masuk makin dalam, kami mulai menemukan mayat-mayat berlumuran darah, pria-pria yang terkena jebakan mereka sendiri. Mereka nampak mencoba lari dari sesuatu.

Lebih jauh, kami melihat sisa-sisa dari apa yang nampaknya seperti pertempuran yang tak seimbang. Kubilang tidak seimbang karena hanya satu sisi gua itu yang dipenuhi bekas-bekas tembakan. Di sisi lain ada mayat-mayat para penembak. Tubuh mereka terkoyak-koyak, otot dan tulang-belulang mereka dikunyah. Beberapa masih menggenggam senjata mereka, dan ada satu tangan yang terputus dari lengannya, masih menggenggam sebuah Makarov tua. Tangan itu kehilangan salah satu jarinya. Aku menemukan jari itu di seberang gua. Ada sesosok mayat pria yang nampak telah ditembaki berkali-kali, dan setengah batok kepalanya hancur. Sebuah jari terjepit di antara gigi-geliginya.

Setiap bagian gua itu menampakkan hal yang sama. Kami menemukan barikade yang berantakan, senjata-senjata yang dijatuhkan. Lebih banyak mayat terkoyak dan potongan-potongan tubuh. Mayat-mayat yang masih utuh semuanya memiliki luka tembak di kepala. Banyak serpihan daging yang dikoyak dan dikunyah, bertebaran di lantai gua. Dimana-mana ada ceceran darah, jejak kaki, selongsong peluru, dan bekas-bekas tembakan yang menandakan bahwa baku tembak di gua itu berasal dari sebuah ruang yang dijadikan klinik. Kami menemukan beberapa ranjang berlumuran darah, dan di ujung ruangan klinik, ada sesosok mayat tanpa kepala. Sepertinya itu si dokter. Ia terbaring di samping sebuah ranjang bernoda, setumpuk pakaian robek-robek, serta sebuah sepatu Nike tua sebelah kiri.

Terowongan terakhir yang kutemukan telah runtuh karena ledakan sebuah jebakan dinamit. Ada sebuah tangan menonjol dari balik tumpukan batu. Tangan itu masih bergerak. Didorong naluri, aku mengulurkan tanganku sendiri dan menggenggam tangan itu, lantas merasakan cengkeraman kuat. Rasanya jari-jariku hampir remuk. Aku mundur dan berusaha melepaskan diri, namun tangan itu tak mau melepaskanku dan mulai menarik. Mulanya sebuah lengan muncul, lantas kepalanya, lantas wajahnya yang setengah hancur dengan mata melotot dan bibir kelabu, dan kemudian tangannya yang satu lagi keluar mencengkeram lenganku. Aku jatuh terduduk ketika setengah badan makhluk itu akhirnya keluar dari reruntuhan. Bagian bawah tubuhnya masih terjebak di dalam reruntuhan, nyaris terpisah dari tubuh bagian atas dan hanya tersambung oleh ususnya. Makhluk itu berusaha menarik tanganku ke mulutnya. Aku meraih senjataku.

Berondongan peluruku mengarah sedikit ke atas, tepat di bawah dagunya, membuat serpihan otaknya menghantam langit-langit gua. Saat itu tidak ada seorangpun yang bersamaku, jadi akulah satu-satunya saksi peristiwa itu.

(Dia terdiam).

"Kontak dengan bahan kimia tak dikenal," begitulah diagnosis mereka terhadapku ketika aku kembali ke Edmonton. "Atau bisa jadi karena efek dari pengobatan antibiotik." Mereka bahkan menyebutku menderita PTSD** dan bilang kalau aku hanya perlu beristirahat, serta mengikuti "evaluasi jangka panjang." Hah, evaluasi. Kalau aku dari pihak musuh, pasti istilahnya bukan "evaluasi," tapi "interogasi." Kami sudah belajar teknik menghadapi interogasi, belajar menguatkan mental dan pikiran kami dari orang-orang yang berupaya melemahkan kami. Akan tetapi, orang-orang ini tidak melemahkanku; akulah yang melemahkan diri sendiri. Aku ingin percaya pada mereka. Aku ingin mereka menolongku. 

Aku prajurit terlatih dan berpengalaman. Aku tahu apa saja yang bisa kulakukan pada manusia lain, sama seperti aku tahu apa yang mereka bisa lakukan padaku. Aku selalu mengira diriku siap untuk segala hal.

(Dia memandang ke luar jendela).

Siapa gerangan yang akan siap untuk hal seperti itu?


Baca bagian selanjutnya di sini.

*Bad Brown: istilah untuk salah satu jenis opium yang banyak ditanam di Propinsi Badakhshan, Afganistan.

**PTSD: Post-Traumatic Stress Disorder, gangguan stres pasca trauma yang bisa berlangsung dalam jangka panjang dan biasa menimpa orang-orang yang mengalami peristiwa traumatik seperti bencana, perang, kejahatan dan sebagainya.

Jumat, 15 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 2)

Baca bagian pertama di sini.



Lhasa, Republik Rakyat Tibet

(Kota terpadat di dunia ini masih perlahan menyesuaikan diri setelah kehebohan pemilu seminggu sebelumnya. Partai Sosial Demokrat melibas Partai Lama, dan jalan-jalan masih dipadati oleh para pendukung yang kegirangan. Aku menemui Nury Televaldi di sebuah kedai kopi pinggir jalan yang ramai. Kami harus setengah berteriak agar percakapan kami tidak tenggelam di tengah riuh-rendah perayaan).

Sebelum wabah zombie menyebar, bisnis penyelundupan di Cina sama sekali tidak populer. Menyiapkan paspor dan perjalanan tur palsu, kontrak dan jasa perlindungan selama perjalanan, semuanya memerlukan uang. Dulu, jalur penyelundupan paling populer hanya ada dua, ke Thailand dan Myanmar. Di Kashi, tempat tinggalku dulu, satu-satunya jalur penyelundupan yang tersedia hanyalah ke Uni Sovyet. Tak ada orang yang mau pergi ke sana, jadi aku tak pernah membayangkan akan menjadi seorang shetou.* Aku bisa dibilang berbisnis barang impor: opium mentah, permata yang belum diasah, perempuan, anak laki-laki, apapun yang berharga. Wabah itu mengubah segalanya. Tiba-tiba saja kami dibanjiri permintaan, dan tidak hanya dari para liudong renkou** tapi juga orang-orang kaya dan pejabat. Mereka ini orang-orang yang sanggup mengeluarkan uang sebanyak apapun dan tidak peduli akan pergi kemana, yang penting mereka bisa keluar.

Tahukah kau apa yang mereka hindari pada saat itu?

Kami mendengar desas-desusnya. Di Kashi bahkan sudah ada kasus penyebaran wabah saat itu. Pemerintah memang cepat-cepat menutupinya, tapi kami sudah tahu ada yang tidak beres.

Apakah pemerintah tidak berusaha membasmi kalian?

Secara resmi, ya. Hukuman untuk penyelundupan semakin keras, dan pos-pos pemeriksaan di perbatasan semakin ketat. Mereka kadang-kadang mengeksekusi satu atau dua shetou di depan publik sebagai peringatan. Kalau kau tidak tahu apa-apa soal apa yang terjadi sebenarnya, kau mungkin berpikir langkah-langkah itu efektif.

Jadi maksudmu itu tidak efektif?

Ada banyak orang yang jadi kaya karena aku: penjaga perbatasan, kaum birokrat, polisi, bahkan walikota. Saat itu masih bisa dibilang masa-masa keemasan bagi Cina, dimana semua orang menganggap cara terbaik mengenang Ketua Mao adalah dengan melihat wajahnya sebanyak mungkin di lembar-lembar uang ratusan Yuan.

Dan kau sukses besar.

Ya. Kashi menjadi penuh sesak dengan cepat. Ada sekitar sembilan puluh persen atau mungkin lebih lalu-lintas darat menuju perbatasan, dan hanya sedikit sekali ruang untuk jalur udara.

Ada jalur udara?

Sedikit. Aku bertanggungjawab mengantar orang-orang yang pergi lewat jalur udara, lantas beberapa penerbangan kargo ke Kazakhstan atau Rusia. Hanya pekerjaan remeh-temeh, tidak seperti di timur, dimana kota-kota seperti Guangzhou dan Jiangsu memfasilitasi puluhan ribu orang setiap minggunya.

Bisa dijelaskan lagi?

Penyelundupan manusia lewat udara adalah bisnis besar di area timur. Para pelanggannya adalah orang-orang kaya, mereka yang bisa membayar paket-paket perjalanan mahal di muka dan mendapat visa turis kelas satu. Pada akhirnya, mereka akan turun dari pesawat di London, Roma atau bahkan San Fransisco, masuk hotel, keluar jalan-jalan, dan akhirnya menghilang. Bisnis itu untungnya banyak sekali, dan aku selalu menginginkannya.

Tapi bagaimana dengan infeksi yang menyebar? Bagaimana dengan resiko jika ketahuan?

Itu tak jadi masalah sampai adanya Penerbangan 575. Pada awalnya, tidak banyak orang-orang terinfeksi yang menggunakan jalur udara. Kalaupun ada, biasanya hanya mereka yang baru di stadium awal. Para shetou yang menggunakan jalur udara sangat berhati-hati. Jika kau adalah penumpang yang mulai menunjukkan tanda-tanda infeksi, mereka tak akan mau mengangkutmu. Mereka sangat berhati-hati soal bisnis mereka. Kau tidak akan bisa membohongi petugas imigrasi jika kau tidak bisa membohongi shetou. Kau harus terlihat dan bersikap seolah kau sehat-sehat saja, padahal kau sedang berpacu dengan waktu. Sebelum ada Penerbangan 575, aku mendengar cerita tentang pasangan suami istri ini. Suaminya seorang pebisnis sukses, dan dia tergigit. Dia tidak langsung berubah; gejalanya hanya muncul perlahan. Mereka pasti mengira bisa menemukan obatnya di negara-negara Barat; banyak dari orang-orang ini yang berpikir demikian. Mereka nampaknya berhasil masuk ke sebuah hotel di Paris, tepat sebelum keadaan si suami bertambah parah. Istrinya mau menelepon dokter, tapi si suami melarangnya. Dia takut mereka akan dikirim balik ke Cina. Si suami menyuruh istrinya pergi meninggalkannya, dan si istri melakukannya. Selama dua hari, terdengar suara geraman dan ribut-ribut di kamar si suami, dan para pelayan hotel akhirnya mendobrak pintunya. Aku tidak tahu apakah itu yang mengawali penyebaran wabah di Paris, tapi mungkin saja.

Kau bilang mereka tidak mau menelepon dokter karena khawatir akan dikirim balik, tapi mengapa mereka pergi mencari obat ke negara Barat?

Kau ini tidak paham isi hati para pengungsi. Mereka orang-orang putus asa; terperangkap antara ancaman infeksi dan ancaman akan digelandang serta "dirawat" oleh pemerintah. Kalau seseorang yang kau cintai terinfeksi, entah itu anggota keluarga atau anak, dan kau mendengar ada setitik harapan untuk mengobati mereka di suatu tempat, tidakkah kau akan berusaha sekuat tenaga untuk pergi ke sana? Tidakkah kau akan percaya bahwa masih ada harapan?

Kau tadi bilang istri pria itu dan para pengungsi lainnya menghilang.

Itu tidak aneh, sejak sebelum wabah juga seperti itu, apalagi banyak pengungsi miskin yang jadi punya hutang besar kepada mafia Cina. Mereka biasanya menghilang ke area-area paling bobrok di negara tujuan mereka.

Maksudmu daerah kumuh?

Ya, kalau kau mau menyebutnya begitu. Tempat apa lagi yang lebih baik untuk bersembunyi daripada area-area yang dijauhi sebagian besar anggota masyarakat? Memangnya kau pikir kenapa penyebaran wabah di negara-negara maju itu selalu dimulai dari daerah kumuh?

Kudengar ada shetou yang menyebarkan kabar burung bahwa ada obat ajaib di negara-negara tujuan.

Benar.

Apakah kau melakukannya?

(Diam sejenak). Tidak.

Bagaimana Penerbangan 575 mengubah segalanya tentang penyelundupan udara?

Pengamanan udara memang diperketat, tapi hanya di beberapa negara. Shetou udara sangat waspada tapi juga cerdik. Mereka punya pepatah: "setiap rumah orang kaya punya pintu khusus untuk pembantu."

Maksudnya?

Jika Eropa Barat mengetatkan penjagaannya, masuklah lewat Eropa Timur. Amerika tak mengijinkanmu masuk? Menyusuplah lewat Meksiko. Aku yakin penduduk negara-negara kulit putih itu pasti merasa aman, walaupun infeksi sudah meluas di luar perbatasan mereka. Tapi ini bukan keahlianku; bisnisku terutama adalah transportasi darat, dan negara-negara tujuanku kebanyakan ada di Asia Tengah.

Apakah negara-negara itu lebih mudah dimasuki?

Mereka bisa dibilang memohon agar kami mau berbisnis dengan mereka. Negara-negara itu benar-benar bobrok, dan para pejabat mereka begitu korup sehingga mereka justru membantu membuatkan surat-surat resmi untuk kami untuk sedikit persen. Di sana bahkan ada shetou, atau apapun sebutannya dalam bahasa barbar mereka, yang menyelundupkan pengungsi kaya melewati negara-negara pecahan Sovyet menuju Rusia, India, bahkan Iran, walaupun aku tak pernah benar-benar menanyakannya. Pokoknya, semua tugasku selesai di perbatasan; hanya memastikan dokumen mereka dicap, kendaraan mereka ditandai dan penjaga diberangkatkan, sebelum aku akhirnya mengambil bayaranku.

Apakah kau melihat orang-orang yang terinfeksi?

Pada awalnya tidak. Wabah menyebar sangat cepat, apalagi transportasi darat tidak secepat transportasi udara. Perlu waktu berminggu-minggu untuk mencapai Kashi lewat jalur darat, dan aku diberitahu bahwa mereka yang terinfeksi hanya bertahan selama beberapa hari. Orang-orang yang terinfeksi biasanya menjadi zombie saat masih berada di perjalanan, dan mereka kemudian ditangani oleh polisi setempat. Tak berapa lama kemudian, ketika jumlah zombie semakin banyak dan polisi mulai kewalahan, aku mulai melihat lebih banyak dari mereka.

Apakah mereka berbahaya?

Tidak juga. Keluarga mereka biasanya mengikat dan menyumbat mulut mereka. Kau kadang melihat sesuatu bergerak-gerak di bangku belakang mobil, meronta-ronta dan tertutup selimut tebal. Kadang juga ada suara benturan dari lantai mobil, atau dari dalam bagasi mobil van yang diberi lubang udara. Orang-orang itu masih belum tahu apa yang terjadi pada anggota keluarga mereka.

Apakah kau sudah tahu waktu itu?

Ya, tapi percuma saja menjelaskannya pada mereka, jadi aku hanya mengambil uangnya dan mengirim mereka ke perbatasan. Aku masih beruntung, karena aku tidak pernah harus mengurusi perjalanan lewat air.

Apakah itu lebih sulit?

Ya, dan berbahaya. Rekan-rekanku yang berbisnis di perjalanan lewat air harus berurusan dengan resiko para zombie ini lepas dari ikatan mereka dan menkontaminasi seluruh isi kapal.

Apa yang mereka lakukan?

Aku mendengar mereka menjelaskan beberapa "solusi." Kadang-kadang, kapal-kapal itu akan berbelok sebentar ke perairan terbuka dan melemparkan orang-orang yang terinfeksi ini ke laut. Aku pernah dengar cerita kapten kapal ini yang melemparkan satu kerumunan zombie sekaligus langsung ke laut; itu mungkin menjelaskan kasus-kasus perenang atau penyelam yang mendadak menghilang tanpa jejak, atau cerita-cerita dari orang-orang di berbagai wilayah yang mengatakan bahwa mereka melihat zombie keluar dari laut. Pokoknya, setidaknya aku tak pernah berurusan dengan hal-hal itu.

Akhirnya, aku mengalami insiden ini, yang membuatku memutuskan pensiun untuk selamanya. Truk tua bobrok ini datang, dan ada suara-suara erangan keluar dari dalamnya. Kepalan tinju terdengar menghantam-hantam dindingnya. Truk itu sampai bergoyang-goyang. Yang menyetirnya adalah seorang bankir kaya dari Xi'an. Ia jadi kaya raya lewat bisnis yang berkaitan dengan hutang-hutang kartu kredit Amerika. Ia menawariku uang untuk meloloskan seluruh anggota keluarganya, yang ada di dalam truk itu. Jas Armaninya nampak kusut dan kotor. Ada bekas cakaran di salah satu sisi wajahnya, dan sorot matanya liar. Tatapannya sama seperti tatapan mataku sendiri waktu itu, yang menyiratkan pemahaman bahwa uang sebentar lagi tak akan banyak gunanya.

Aku memberinya selembar uang lima puluh Dolar dan mengucapkan "semoga beruntung." Hanya itu yang bisa kulakukan.

Kemana truk itu pergi?

Kyrgyzstan.


Baca bagian selanjutnya di sini.

*Shetou: "kepala ular," orang yang menyelundupkan pengungsi gelap.
**Liudong renkou: julukan untuk kaum buruh miskin di Cina yang tak punya tempat tinggal tetap.

Rabu, 13 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 1)

Baca pendahuluan di sini.



Chongqing, Federasi Cina Bersatu

(Pada masa awal Perang Zombie, area ini memiliki populasi lebih dari 35 juta orang, namun sekarang populasinya hanya ada 50 ribu orang. Area ini cenderung lebih lambat menerima kucuran dana karena pemerintah lebih banyak berkonsentrasi pada area padat penduduk. Di sini tak ada jaringan listrik primer, dan tak ada air kecuali yang mengalir di Sungai Yangtze. Akan tetapi, jalanannya bersih dari reruntuhan, dan "dewan keamanan" lokal telah berhasil mencegah semua upaya pemberontakan pasca perang. Kwang Jingshu, si ketua dewan keamanan, adalah seorang dokter yang masih menerima panggilan ke rumah pasien-pasiennya, walaupun sudah tua dan masih memiliki cedera perang.)

Penyebaran wabah pertama dimulai di desa terpencil yang pejabat setempat bahkan tak tahu namanya. Penduduk desa menyebut daerah itu "Dachang Baru," tapi hanya karena alasan nostalgia. Rumah mereka sebelumnya, "Dachang Lama," sudah ada sejak zaman Tiga Kerajaan, lengkap dengan lahan-lahan pertanian, rumah-rumah, dan bahkan pepohonan yang kabarnya sudah berusia berabad-abad. Akan tetapi, ketika Bendungan Tiga Lembah selesai dibangun dan membanjiri desa itu, sebagian besar Dachang dibangun kembali di atas daratan yang lebih tinggi. Dachang Baru yang ini bukan lagi rumah penduduk desa, melainkan sebuah "museum sejarah nasional." Sangat ironis ketika penduduk melihat desa mereka dibangun kembali, namun kemudian hanya bisa mengunjunginya sebagai turis. Mungkin itu sebabnya mereka menyebut desa kedua ini sebagai "Dachang Baru" agar masih bisa merasa punya hubungan dengan akar tradisi mereka, walau hanya sebatas nama. Aku sendiri dulu tidak tahu-menahu soal desa kecil bernama Dachang Baru, jadi bisa kau bayangkan betapa bingungnya aku ketika menerima telepon itu.

Saat itu, rumah sakit sedang sepi; tak banyak pasien malam itu walau jumlah kecelakaan karena pengemudi mabuk sedang meningkat. Sepeda motor sangat populer. Kami biasa bercanda bahwa Harley Davidson kalian membunuh lebih banyak pemuda kami dibandingkan dengan para prajurit saat Perang Korea. Suasana sepi itu membuatku lega; aku sudah lelah, dan punggung serta kakiku sakit. Aku sedang berjalan keluar untuk merokok sambil menikmati pemandangan fajar ketika namaku dipanggil. Resepsionisnya masih baru dan tidak begitu paham dialek setempat; pokoknya, ada kecelakaan atau kasus penyakit yang darurat dan bisakah seseorang datang melihat?

Yah, aku bisa apa? Para dokter muda, bocah-bocah yang berpikir bahwa jabatan sebagai dokter hanya sarana untuk mengisi rekening bank, sudah tentu tak mau repot-repot pergi untuk menolong para "nongmin" tanpa bayaran. Kurasa aku masih punya jiwa revolusioner. Tugas kita adalah bertanggungjawab untuk kesejahteraan masyarakat*. Kata-kata itu masih terngiang di kepalaku saat mobil Deer milikku menerjang jalan tanah yang tadinya dijanjikan akan diperbaiki oleh pemerintah tapi tak kunjung selesai.

Susah sekali menemukan tempat itu, karena resminya tidak ada di peta. Aku beberapa kali tersesat dan harus bertanya pada penduduk setempat yang semuanya menyangka aku sedang mencari museum. Ketika aku akhirnya melihat rumah-rumah kecil di atas bukit itu, aku sudah kesal. Pikirku, sebaiknya ini serius. Tapi ketika melihat ekspresi mereka, aku seketika menyesali pikiranku itu.

Ada tujuh orang pasien; semuanya tak sadarkan diri dan terbaring di ranjang. Penduduk desa telah memindahkan mereka ke ruang pertemuan desa, yang dinding dan lantainya berlapis semen. Udaranya dingin dan lembab. Jelas saja mereka jadi sakit, pikirku. Aku bertanya ke penduduk desa tentang siapa yang merawat mereka, dan mereka bilang tidak ada, karena "tidak aman." Kulihat pintunya juga dikunci dari luar. Orang-orang itu terlihat ketakutan; mereka saling berbisik, menjaga jarak, dan beberapa berdoa. Aku jadi marah; bukan marah pada mereka, melainkan melihat tindakan mereka yang mencerminkan karakteristik kami sebagai bangsa. Setelah melalui berabad-abad tekanan dari bangsa asing dan eksploitasi, kami akhirnya berhasil mendapat tempat yang cukup terhormat di dunia. Kami menjadi negara kaya dan adikuasa, dan menguasai segalanya mulai dari teknologi luar angkasa sampai jaringan cyber. Saat itu adalah awal dari apa yang disebut dunia sebagai "Abad Tiongkok," namun ternyata banyak dari kami yang masih hidup penuh takhayul, seperti bandit-bandit Yangshao jaman dulu

Pikiranku masih setengah mengembara dalam kritik kebudayaan ini ketika aku akhirnya berlutut untuk memeriksa pasien pertama. Gadis itu menderita demam tinggi, dan dia gemetaran. Dia mengerang ketika aku mencoba menggerakkan lengannya. Ada bekas gigitan di lengan kanannya. Ketika aku memeriksanya lebih lanjut, aku menyadari bahwa luka itu bukan bekas gigitan hewan. Dilihat dari radius luka dan bentuk bekas gigi, gadis itu nampaknya digigit manusia, mungkin anak-anak. Aku menduga bahwa infeksinya mungkin berasal dari luka ini, namun lukanya ternyata bersih. Aku bertanya lagi pada penduduk desa: siapa yang telah merawat orang-orang ini? Lagi-lagi mereka menjawab tidak ada, tapi aku tahu itu tidak benar. Mulut manusia dipenuhi bakteri, bahkan melebihi mulut anjing paling jorok sekalipun. Jika benar tak ada seorangpun yang merawat gadis ini, mengapa lukanya sangat bersih?

Aku memeriksa keenam pasien lainnya. Semua menunjukkan gejala yang sama dan memiliki luka yang mirip, namun di bagian-bagian tubuh yang berbeda. Aku bertanya pada salah satu dari mereka yang nampaknya masih cukup sadar soal siapa yang telah menggigit mereka, dan ia menjawab "dia."

Aku menemukan si Patient Zero dikunci di dalam sebuah rumah kosong di seberang desa. Umurnya dua belas tahun. Tangan dan kakinya diikat dengan tali. Kulit di bawah ikatan tali itu telah tergores, namun tidak mengeluarkan darah. Aku juga tidak melihat darah di luka-luka di lengan dan kakinya, serta ujung koyak dimana jempol kaki kanannya tadinya berada. Ia menggeliat-geliut seperti binatang liar, dan sebuah sumpal kain menyumbat suara geraman dari mulutnya.

Penduduk desa mencoba menahanku. Mereka memperingatkanku agar tidak menyentuhnya, bahwa dia telah "dikutuk." Aku tak menghiraukan mereka dan mengambil masker serta sarung tangan lateksku. Kulit bocah itu dingin dan berwarna kelabu seperti lantai semen tempatnya dibaringkan. Aku tak bisa merasakan denyut nadi atau detak jantungnya. Matanya menyorot liar dan nampak menonjol pada rongganya, tatapannya terarah padaku seolah aku mangsa. Ia sangat buas ketika aku memeriksanya, beberapa kali mencoba meraihku dan berusaha mengatup-ngatupkan giginya ke arahku di balik sumpalan di mulutnya.

Aku harus meminta bantuan dua orang pria desa berbadan besar untuk menahannya. Mereka mulanya menolak, merengket di pintu masuk seperti bayi-bayi kelinci. Aku berusaha menjelaskan bahwa mereka tak akan terinfeksi jika menggunakan masker dan sarung tangan sepertiku. Ketika mereka masih juga menggelengkan kepala, aku membentak dan mengatakan bahwa itu perintah resmi, walaupun sebenarnya aku tak punya kewenangan untuk itu. Akan tetapi, itu sudah cukup membuat mereka menurut dan berlutut di sampingku. Satu orang memegangi kaki si bocah sementara yang lain memegangi tangannya. Aku mengambil sampel darah, tetapi suntikanku hanya berhasil mengambil cairan kental kecoklatan. Bocah itu kembali memberontak ketika aku menarik jarum suntik dari kulitnya.

Salah satu "asistenku" memutuskan untuk melepaskan tangan si bocah dan menahannya di lantai dengan lututnya sebagai gantinya. Akan tetapi, bocah itu tetap memberontak, dan kemudian kudengar lengan kirinya patah. Ujung-ujung tajam tulang nampak menonjol menembus kulitnya. Bocah itu nampaknya tidak merasa kesakitan atau bahkan menyadarinya, namun itu sudah cukup bagi kedua pria besar itu untuk melesat kabur karena ketakutan.

Aku langsung mundur beberapa langkah. Aku malu sekali mengakui ini, sebenarnya. Aku sudah menjadi dokter sepanjang usiaku. Aku sudah dilatih dan...yah, kau bahkan bisa bilang kalau aku dibesarkan oleh Pasukan Pembebasan Rakyat. Aku sudah merawat banyak korban perang dan bahkan beberapa kali hampir tewas. Tapi saat itu, aku ketakutan seperti anak kecil.

Bocah itu memutar tubuhnya menghadapku, dan lengan kirinya terputus. Kulihat otot dan daging lengannya makin lama makin tertarik, hingga lengan itu hanya menyisakan puntung. Lengan kanannya, yang kini bebas namun terikat pada potongan tangan kirinya, menyeret tubuhnya melintasi lantai.

Aku buru-buru lari keluar dan mengunci pintu. Aku mencoba menenangkan diriku sambil mencoba menyembunyikan rasa takut sekaligus malu. Suaraku masih sedikit bergetar ketika aku bertanya bagaimana bocah itu bisa sampai terinfeksi. Tak ada yang menjawab, dan aku mendengar suara gedoran lemah pada pintu kayu di belakangku. Aku berharap mereka tidak sadar kalau wajahku sudah jadi pucat sepenuhnya. Setengah berteriak karena rasa takut sekaligus frustrasi, aku mengulang pertanyaanku.

Seorang wanita muda akhirnya maju, mungkin dia ibu si bocah. Nampaknya dia sudah menangis berhari-hari; matanya nampak kering dan merah. Menurutnya, peristiwa itu terjadi ketika anak dan suaminya pergi "memancing," yang berarti mereka mencari sisa-sisa barang berharga di antara reruntuhan Dachang Lama yang telah tenggelam oleh air bendungan. Karena ada sekitar seribu seratusan desa yang terendam, selalu ada barang berharga yang bisa ditemukan. Praktik itu sangat umum sekaligus ilegal. Menurut si wanita, keluarganya tidak menjarah, namun hanya sekedar mengambil kembali barang-barang berharga mereka yang tak sempat mereka bawa. Dia terus mengulanginya sehingga aku harus meyakinkannya bahwa aku tak akan melapor pada polisi. Menurutnya, putranya kembali dengan bekas gigitan di kakinya. Si bocah tak tahu apa yang terjadi karena suasananya terlalu gelap dan airnya keruh. Sang ayah tak pernah terlihat lagi.

Aku mengeluarkan ponsel dan menghubungi Doktor Gu Wen Kuei, rekanku ketika aku masih menjadi dokter tentara, yang sekarang bekerja di Institut Penyakit Menular di Universitas Chongqing. Ketika wajahnya muncul di layar video ponselku, kami berbasa-basi sejenak, membahas kesehatan masing-masing, bercerita tentang cucu-cucu kami. Aku lantas memberitahunya tentang wabah di desa, dan ia menanggapi dengan lelucon kasar soal kebersihan orang-orang kampung. Aku mencoba ikut tertawa, tapi akhirnya aku berkata bahwa hal ini mungkin patut menjadi perhatian. Dengan segan, dia bertanya padaku apa saja gejala-gejala yang ditunjukkan pasien. Aku memberitahunya segalanya: luka gigitan, demam, bocah itu... Ekspresi wajahnya mendadak menjadi kaku dan senyumnya hilang.

Dia memintaku menunjukkan para pasien. Aku kembali ke ruang pertemuan desa dan mengarahkan kamera ponselku ke wajah masing-masing pasien. Dia memintaku mendekatkan kamera ke luka-luka para pasien. Aku melakukannya, dan ketika aku melihat ke layar ponselku lagi, dia ternyata sudah memutuskan hubungan video.

"Tetap di tempatmu," katanya, hanya suaranya saja yang terdengar, begitu jauh dan datar. "Catat nama-nama mereka yang telah mengalami kontak dengan pasien. Tahan semua yang telah terinfeksi. Jika ada pasien yang mengalami koma, tinggalkan ruangan itu dan amankan semua jalan keluar." Suaranya datar mirip robot, seolah dia sudah melatih pidato ini sebelumnya.

"Kau punya senjata?" Tanyanya.

"Tidak, memangnya kenapa?" Tanyaku. Dia hanya bilang bahwa dia akan menghubungiku lagi. Katanya, dia akan menelepon beberapa orang, dan "bantuan" akan datang dalam beberapa jam.

Bantuan yang dimaksud tiba tak sampai sejam kemudian; lima puluh orang pria turun dari helikopter Z-8A yang besar, semuanya mengenakan pakaian anti kontaminasi. Mereka bilang mereka dari Departemen Kesehatan, tapi mereka tak bisa membohongiku. Mereka nampak kasar, arogan dan mengintimidasi, dan bahkan orang-orang desa miskin terpencil itu tahu bahwa mereka adalah Guanbou**.

Mereka langsung menuju ruang pertemuan desa. Para pasien diangkut dengan tandu, lengan dan kaki mereka dirantai, dan mulut mereka disumbat. Berikutnya giliran si bocah. Mereka mengangkutnya dalam kantung mayat. Si ibu meratap ketika dia dan penduduk desa lainnya dikumpulkan untuk "pemeriksaan." Nama mereka dicatat, darah mereka diperiksa. Satu-persatu mereka dilucuti dan difoto. Orang terakhir yang diperiksa adalah seorang wanita tua renta. Tubuhnya kurus dan bertonjolan, wajahnya penuh keriput, dan kaki kecilnya pasti pernah diikat saat dia masih gadis. Wanita itu mengacung-acungkan kepalan tinjunya ke arah para "dokter" itu. "Inilah hukuman kalian!" Pekiknya. "Ini balasan untuk Fengdu!"

Fengdu adalah Kota Para Arwah, yang kuilnya dipersembahkan pada alam baka. Sama seperti Dachang Lama, Kuil Fengdu dianggap sebagai salah satu penghalang untuk Lompatan Besar Cina berikutnya. Kuil itu sudah pernah dipindahkan, dihancurkan, dan akhirnya ditenggelamkan. Aku tak percaya takhayul, dan aku bahkan tidak pernah mengisap opium. Aku seorang dokter, seorang ilmuwan. Aku hanya percaya pada apa yang kulihat dan kusentuh. Bagiku, Kuil Fengdu tak lebih dari atraksi murahan untuk wisatawan. Tentu saja kata-kata wanita tua itu tak berpengaruh bagiku. Tetapi nada suaranya...kemarahannya...wanita itu telah menyaksikan begitu banyak kengerian sepanjang hidupnya. Serbuan panglima perang, orang-orang Jepang, mimpi buruk sepanjang masa Revolusi Budaya...dia selalu tahu kapan bencana akan datang, bahkan ketika dia tidak memiliki pengetahuan untuk memahaminya.

Doktor Kuei, kolegaku itu, sangat memahaminya. Dia sudah mempertaruhkan keselamatannya untuk memperingatkanku, memberiku waktu untuk menelepon atau bahkan memperingatkan beberapa pihak sebelum orang-orang "Departemen Kesehatan" ini datang. Sesuatu yang dia katakan di telepon...kata-kata yang tak pernah dilontarkannya lagi sejak perseteruan dengan Uni Sovyet di perbatasan kami.

Saat itu tahun 1969. Kami sedang berada di bungker bawah tanah di Ussuri, kurang dari satu kilometer dari Chen Bao. Artileri Rusia berulangkali menghantam kami. Gu dan aku sedang berusaha mengeluarkan serpihan dari perut seorang prajurit yang usianya tak jauh beda dari kami. Ususnya telah robek, dan darah bercampur tinja mengotori baju operasi kami. Nyaris setiap detik, setelah suara tembakan terdengar, kami harus menunduk untuk melindungi lukanya dari tanah yang berjatuhan saat bunker kami dihantam, dan kadang kami cukup dekat untuk mendengarnya merintih memanggil ibunya. Ada suara-suara lain di belakang kami, keluar dari kegelapan yang mengarah ke pintu masuk bunker kami. Salah satunya berseru "Spetsnaz!" sebelum mulai menembak. Kami sudah tak tahu lagi milik siapa suara-suara tembakan yang kemudian terdengar.

Suara rentetan tembakan lain terdengar, dan kami membungkuk lagi di atas tubuh pemuda itu. Wajah Gu hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Ada butir-butir keringat menuruni keningnya. Bahkan di bawah penerangan redup lampu parafin, aku bisa melihatnya gemetaran, wajahnya pucat. Dia menatap pasiennya, menoleh ke arah pintu, lantas melihat ke arahku, dan mendadak dia berkata, "jangan khawatir, semuanya akan beres."

Nah, kau harus tahu bahwa dia adalah pria yang tak pernah sekalipun mengatakan hal-hal positif dalam hidupnya. Gu tipe orang yang sering cemas. Jika dia sakit kepala, dia akan bilang mungkin dia kena tumor otak. Jika hujan turun, dia akan bilang bahwa panen tahun itu akan gagal. Itulah caranya agar dirinya selalu bisa memegang kontrol dan mengendalikan situasi. Ketika realita ternyata lebih mengerikan dari prediksi terburuknya, dia tak punya jalan lain kecuali mengadopsi cara berpikir lain. "Jangan khawatir, semuanya akan beres." Prediksinya kali itu ternyata benar; orang-orang Rusia tak berhasil menyeberangi sungai, dan kami berhasil menyelamatkan pemuda itu.

Bertahun-tahun setelahnya, aku suka meledeknya soal optimisme singkatnya itu, dan dia selalu berkata bahwa dibutuhkan peristiwa yang jauh lebih mengerikan untuk membuatnya kembali mengatakan hal yang sama. Kemudian, kami menjadi tua, dan peristiwa mengerikan itu terjadi. Segera setelah dia bertanya apakah aku punya senjata dan aku bilang tidak, ada keheningan sejenak, sebelum dia berkata "jangan khawatir, semuanya akan beres." Saat itulah aku sadar bahwa itu bukan wabah terisolasi.

Aku mengakhiri panggilan dan cepat-cepat menelepon putriku di Guangzhou. Suaminya bekerja di China Telecom dan selalu bertugas di luar negeri minimal seminggu dalam sebulan. Aku bilang pada putriku bahwa dia sebaiknya ikut dengan suaminya lain kali, dan bawa cucuku dan tinggallah di negara itu selama yang mereka bisa. Aku tak punya waktu untuk menjelaskan, karena sinyal ponselku mendadak mati segera setelah helikopter pertama muncul. Hal terakhir yang kukatakan pada putriku adalah "jangan khawatir, semuanya akan beres."

(Kwang Jingshu ditahan oleh MSS dan dipenjara tanpa diadili. Ketika dia akhirnya dilepaskan, wabah zombie telah menyebar hingga keluar perbatasan Cina).

Baca bab selanjutnya di sini.

* Kutipan-kutipan Ketua Maozedong, diambil dari Situasi dan Kebijakan Pasca Kemenangan dalam Pertempuran Melawan Jepang (13 Agustus 1945).

** Guokia Anquan Bu (Departemen Keamanan)

Senin, 11 Mei 2015

Terjemahan World War Z: Pendahuluan

Sudah lama ya saya tidak posting terjemahan cerita di sini (karena saya agak sibuk dan lebih banyak ngurusin blog yang satu lagi, hehe *guilty*. Kali ini, saya ingin membuat proyek pribadi yang agak panjang di blog ini, yaitu menerjemahkan novel World War Z (yang sebelumnya sudah pernah saya tulis reviewnya).

World War Z mungkin lebih dikenal sebagai film zombie horror-action dengan bintang utama Brad Pitt, namun film ini sebenarnya diangkat dari novel karya Max Brooks. Berbeda dengan filmnya, buku ini mengambil bentuk epistolary, alias ditulis sedemikian rupa sehingga bentuknya seolah seperti kumpulan hasil wawancara, sehingga bisa memberikan kesan nyata. Setting waktu dalam novel ini adalah sekitar 20 tahun lebih setelah peristiwa ledakan pandemi zombie yang berimbas ke seluruh dunia. Seorang agen United Nations Postwar Commission asal Amerika (yang juga bernama Max Brooks) menjadi narator utama dalam buku ini. Ia berkeliling beberapa negara untuk mewawancarai berbagai individu, dan banyak bab dalam buku ini terdiri dari wawancara antara dirinya dan bermacam narasumber, sehingga kita para pembaca seolah mendapat gambaran tangan pertama ketika wabah zombie mulanya meledak, hingga apa yang terjadi setelahnya.

Wabah zombie dalam buku ini kadang disebut dengan istilah seperti Krisis (The Crisis), Tahun-tahun Gelap (The Dark Years), Wabah Berjalan (The Walking Plague), serta Kepanikan Besar (The Great Panic) dan Rabies Afrika (African Rabies) di tahun-tahun awal penyebarannya. Keadaan berbagai negara digambarkan berubah total karena wabah ini, termasuk bahkan hingga ke bentuk negara karena perubahan sosial politik yang drastis (contohnya bisa dilihat dari judul-judul tiap bab, dimana banyak negara mengalami perubahan bentuk nama serta sistem pemerintahan). World War Z juga menjadi sarana kritik terhadap korupsi, kinerja pemerintah, fenomena sosial, dan karakteristik berbagai bangsa, termasuk Amerika Serikat sendiri.

Setiap bab dalam buku ini memiliki kisah berbeda, dimana sang narator novel menemui orang-orang yang berbeda dari negara berbeda, dan saya akan menerjemahkan buku ini per bab serta bagian. Penerjemahan ini adalah upaya seorang amatir dan murni berdasarkan hobi, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin dan semoga Anda semua menyukai novel ini seperti saya menyukainya.

Tanpa basa-basi, baca bagian pertama di sini.