Senin, 25 Januari 2016

World War Z: Bab III: Kepanikan Besar (part 2)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Alang, India

(Aku berdiri di pantai bersama Ajay Shah, memandangi bangkai-bangkai kapal reyot berkarat yang dulunya pasti gagah. Karena pemerintah tidak punya dana untuk menyingkirkan mereka, dan waktu serta cuaca telah membuat onggokan besi tersebut tidak berguna, mereka pun menjadi monumen bisu pembantaian besar-besaran yang dulu pernah terjadi di tempat itu).

Mereka bilang padaku yang terjadi saat itu bukan hal aneh. Di mana saja di seluruh dunia, ketika laut bertemu daratan, orang akan hinggap di atas apapun yang bisa mengapung agar selamat di laut.

Aku tidak tahu apa itu Alang walaupun aku menghabiskan hidupku di dekat Bhavnagar. Aku manajer kantor; aku sudah jadi golongan pekerja kerah putih "keren" sejak lulus kuliah. Pekerjaan tangan yang kulakukan hanyalah mengetik, dan itupun sudah jarang sejak perangkat lunak kami menggunakan sistem pengenalan suara. Aku hanya tahu bahwa Alang adalah galangan kapal, dan itulah mengapa aku langsung memutuskan pergi ke sini saat itu. Aku mengira akan melihat tempat konstruksi raksasa yang membangun kapal demi kapal untuk menyelamatkan kami semua.

Ternyata yang kulihat malah kebalikannya. Alang bukan tempat untuk membuat kapal, tapi melucutinya. Sebelum perang zombie, Alang adalah tempat pembongkaran kapal terbesar di dunia. Kapal-kapal dari berbagai negara dibeli oleh perusahaan besi bekas India, dibawa ke sini, dan dilucuti sampai tak ada sebutir bautpun tertinggal. Beberapa kapal yang kulihat saat itu bukan kapal utuh, melainkan rangka telanjang yang tinggal menunggu mati. Tak ada dek kolam, tak ada landasan. Walau disebut galangan kapal, Alang hanya nampak seperti rangkaian lapangan berpasir. Prosedur standar di sini adalah menyandarkan kapal ke pantai, membuat mereka terdampar seperti paus.

Saat itu, harapanku ada pada setengah lusin kapal yang baru datang dan berlabuh di lepas pantai; mereka yang masih memiliki awak seadanya dan sedikit bahan bakar. Salah satu kapal itu, Veronique Delmas, sedang mencoba menarik sebuah kapal lain yang terdampar. Tali-temali dan rantai diikatkan secara sembarangan ke buritan APL Tulip, kapal kontainer Singapura yang nampak sudah separuh dilucuti. Ketika aku tiba, Delmas sedang berjuang menarik kapal itu. Aku bisa melihat air berbuih di sekitarnya, dan beberapa tali putus dengan suara seperti letusan pistol. Tapi rantai-rantainya...mereka jauh lebih kuat daripada buritan Tulip. Lunas kapal itu pasti dulunya remuk ketika disandarkan ke pantai. Ketika Delmas menarik semakin kuat, aku mendengar suara seperti erangan keras logam yang membengkok dan terbelah. Kapal Tulip terbelah jadi dua; haluan kapalnya tertinggal di pantai sementara buritannya terseret ke laut.

Tak ada yang bisa dilakukan. Delmas sudah melaju dengan kecepatan tinggi, menyeret buritan Tulip ke laut dalam, sebelum akhirnya tenggelam. Pasti ada ribuan orang di sana, memadati setiap kabin dan dek terbuka. Jeritan mereka teredam oleh suara gemuruh semburan udara.

Kenapa para pengungsi tidak menunggu saja di atas kapal-kapal yang terdampar, lalu mengangkat tangganya supaya kapalnya aman?

Kau bicara dengan akal jernih, tapi kau tidak ada di sana malam itu. Galangan kapal itu penuh orang sampai ke garis pantai; orang-orang yang berebut menyelamatkan diri, sementara api berkobar di belakang mereka. Ratusan orang berusaha berenang mencapai kapal yang berlabuh di laut dalam; air dipenuhi mayat-mayat mereka yang tak berhasil melakukannya.

Ada lusinan kapal kecil bolak-balik ke pantai, mengangkut orang ke kapal-kapal besar di laut. "Berikan uangmu," seru mereka. "Berikan semua uangmu, baru aku akan menolongmu."

Uang masih berharga?

Uang, makanan, apapun yang dianggap berharga. Aku melihat satu kapal yang hanya mau mengangkut perempuan-perempuan muda. Lainnya hanya menerima orang-orang berkulit terang. Bangsat-bangsat itu menyoroti kami dengan senter, menyisihkan orang-orang berkulit gelap seperti aku. Ada seorang kapten kapal yang berdiri di dek sambil melambaikan senapan, dan berteriak "kami tak menerima kasta rendah!" Kasta rendah? Memangnya siapa yang masih memikirkan itu? Gilanya, beberapa orang tua kulihat keluar dari barisan setelah mendengarnya! Percayakah kau?

Tapi aku hanya menekankan beberapa contoh ekstrem. Dari setiap satu pencari keuntungan atau psikopat gila seperti itu, ada sepuluh orang baik yang karmanya masih belum ternoda. Banyak nelayan dan pemilik perahu yang sebenarnya bisa saja melarikan diri bersama keluarga mereka, tapi memilih mengambil risiko bolak-balik menjemput orang di pantai. Coba kau pikirkan bahaya apa yang mereka tempuh...dibunuh lalu perahunya dirampas, atau terdampar di pantai, atau diserang oleh zombie-zombie dari bawah air....

Ya, ada beberapa zombie seperti itu. Banyak pengungsi yang sebenarnya sudah terinfeksi mencoba berenang ke kapal, lalu tenggelam dan berubah. Saat itu pasang sedang rendah; cukup dalam untuk menenggelamkan orang hidup, tapi cukup dangkal bagi zombie untuk berdiri dan mencengkeram mangsa di permukaan. Aku melihat banyak orang yang berenang tiba-tiba menghilang, atau perahu yang terbalik dan seluruh penumpangnya diseret ke bawah air. Akan tetapi, masih saja ada orang-orang yang mencoba menolong, bahkan melompat ke air untuk menyelamatkan mereka yang hampir tenggelam.

Begitulah aku diselamatkan. Aku adalah salah satu yang mencoba berenang. Kapal itu terlihat lebih dekat dari jarak sebenarnya. Aku perenang yang cukup kuat, tapi setelah berjalan jauh-jauh dari Bhavnagar dan berjuang seharian penuh untuk menyelamatkan nyawaku, aku nyaris tak punya tenaga bahkan untuk mengapung. Ketika aku akhirnya mencapai sebuah kapal, aku tak kuat lagi, bahkan untuk berteriak minta tolong. Di sana tak ada tangga, dan sisi kapal itu licin. Aku menggedor-gedor sisi kapal sambil berteriak sekuat-kuatnya.

Ketika aku merasa hendak tenggelam, sepasang tangan kuat mendadak melingkari dadaku. Ini dia, pikirku, aku akan digigit. Akan tetapi, bukannya menyeretku ke bawah laut, aku malah ditarik ke atas. Tubuhku merosot di atas Sir Wilfred Grenfell, sebuah kapal cepat yang dulunya digunakan Pengawas Pantai Kanada. Aku mencoba bicara dan minta maaf karena tidak punya uang, dan bahwa aku akan bekerja apa saja asal mereka mau menyelamatkanku. Kru kapal yang menolongku hanya tersenyum.

"Pegangan," katanya. "Kita akan ngebut." Aku merasakan dek kapal itu bergetar, lalu menyentak, dan kapal pun meluncur.

Itu bagian yang paling buruk; aku harus melihat kapal-kapal lain di sekitar kami saat kami melaju. Beberapa pengungsi yang terinfeksi berubah menjadi zombie di atas kapal dan perahu. Beberapa kapal sudah berubah menjadi tempat penjagalan, yang lainnya terbakar. Orang-orang melompat ke laut. Banyak yang tenggelam dan tak pernah muncul lagi.

Baca bagian selanjutnya di sini.

Kamis, 21 Januari 2016

World War Z: Bab III: Kepanikan Besar (part 1)

Baca bab sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.



Pangkalan Udara Nasional Pannell Air, Memphis, Tennessee, Amerika Serikat

(Gavin Blaire menerbangkan salah satu kapal udara tempur D-17 yang menjadi tulang punggung Patroli Udara Sipil Amerika. Tugas itu cocok untuknya. Ketika masih menjadi penduduk sipil, dia menerbangkan balon udara Fujifilm).

Pemandangan itu membentang sampai ke cakrawala: sedan, bus, truk, mobil rekreasi, pokoknya apa saja yang bisa dikendarai. Aku melihat traktor dan pengaduk semen. Aku bahkan melihat lori dengan papan iklan Gentlemen's Club besar di atasnya. Orang-orang duduk di atas segala macam; atap mobil, rak barang. Aku jadi ingat foto-foto kereta api di India, dengan orang-orang bergelantungan di atasnya seperti monyet.

Segala macam barang bertebaran di jalan: koper-koper, kotak kardus, bahkan perabot mahal. Aku bahkan melihat piano besar yang hancur, sepertinya baru didorong jatuh dari atas truk. Banyak mobil yang ditinggalkan pemiliknya; beberapa didorong atau dilucuti, yang lainnya terbakar habis. Aku juga melihat banyak orang berjalan kaki, di jalan maupun di lahan kosong di pinggirnya. Beberapa orang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil sambil mengangsurkan berbagai macam barang. Beberapa perempuan memamerkan payudara . Mereka pasti ingin menukar barang, mungkin bensin. 

Lebih jauh lagi, sekitar 30 mil ke belakang, lalu-lintas nampaknya lebih lancar. Kau mungkin pikir suasananya lebih tenang, tapi ternyata tidak. Orang-orang memencet klakson, menyundul mobil-mobil di depan mereka, melompat, atau diseret keluar dengan paksa. Aku melihat banyak orang terbaring di pinggir jalan, sama sekali tidak bergerak. Orang-orang lain berlari melewati mereka, menggotong barang-barang, menggendong anak-anak, menuju ke arah yang sama dengan barisan mobil itu. Beberapa mil kemudian, aku melihat penyebabnya.

Makhluk-makhluk itu berlari melewati deretan mobil. Pengendara di jalur pinggir mencoba kabur ke luar jalan, sehingga mobil mereka terjebak di lumpur atau malah memerangkap mobil lainnya. Orang-orang tak bisa membuka pintu karena jalanannya terlalu padat. Banyak yang terperangkap. Pintu-pintu mereka tertutup rapat, dan kuduga dikunci. Jendela mobilnya juga ditutup. Mayat hidup tak bisa menerobos ke dalam, tapi yang di dalam tak bisa keluar. Aku melihat beberapa orang yang panik malah menembak menembus jendela mereka, menghancurkan satu-satunya perlindungan  yang mereka punya. Dasar bodoh. Padahal mereka mungkin bisa bertahan beberapa jam di dalam mobil, atau bahkan lolos. Mungkin memang tak ada jalan keluar, hanya kematian cepat. Ada trailer pengangkut kuda yang terpasang pada sebuah truk di tengah jalan, bergoyang-goyang keras. Kuda-kudanya masih ada di dalam.

Gerombolan zombie itu melewati barisan mobil, memakan apa saja yang ada di depan mereka, terus sampai ke barisan depan yang macet total, ke arah orang-orang malang yang berusaha menyelamatkan diri. Itulah yang membuatku ngeri; orang-orang itu tidak menuju kemana-mana. Jalanan itu adalah lajur tol 1-80 yang membentang antara Lincoln dan North Platte. Kedua tempat itu sudah terinfeksi, begitu juga dengan kota-kota kecil di antaranya. Apa yang mereka lakukan? Siapa yang merencanakan pelarian itu? Apakah orang-orang itu hanya melihat kumpulan mobil dan langsung bergabung tanpa bertanya-tanya? Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya: terjebak di antara mobil-mobil, anak-anak menangis, anjing menggonggong, tahu apa yang mengejar mereka di belakang sana, dan berdoa semoga orang-orang di depan sana tahu apa yang mereka lakukan.

Kau pernah dengar eksperimen yang dilakukan seorang jurnalis Amerika di Moskow tahun 70-an? Dia berdiri di depan pintu sebuah gedung, tapi tak ada yang istimewa di sana, hanya pintu biasa. Seseorang akhirnya berdiri di belakangnya, lalu beberapa orang lagi, dan tahu-tahu antrian itu sudah mengular sepanjang satu blok. Tak ada yang bertanya untuk apa mereka mengantre. Mereka hanya menduga ada sesuatu yang bagus di sana. Aku tak tahu apakah cerita itu benar atau tidak. Mungkin itu hanya legenda kota, atau malah mitos. Siapa yang tahu?

Baca bagian selanjutnya di sini.

Selasa, 12 Januari 2016

World War Z: Bab II: Kesalahan (part 5)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Troy, Montana, Amerika Serikat

(Menurut brosurnya, komplek Troy adalah "Komunitas Baru" untuk "Amerika Baru." Dibuat berdasarkan model hunian "Masada" Israel, sekilas sudah jelas bahwa komplek itu dibangun dengan satu tujuan pasti. Rumah-rumahnya dibangun di atas pilar-pilar, begitu tinggi sehingga para penghuninya bisa melihat pemandangan dari ketinggian 20 kaki, dan dengan tembok beton berlapis. Tiap rumah diakses lewat tangga yang bisa dinaikkan dan diturunkan, dan tersambung ke rumah-rumah lainnya dengan model akses serupa. Keberadaan atap dengan panel surya, sumur-sumur yang terlindungi, kebun-kebun, menara pengawas, dan pintu gerbang geser dari besi membuat Troy sukses besar, sehingga pengembangnya menerima tujuh pesanan proyek serupa dari berbagai wilayah di Amerika Serikat. Mary Jo Miller adalah pengembang, kepala arsitek, dan walikota pertama di Troy).

Oh ya, aku dulu sering khawatir. Aku khawatir soal cicilan mobilku dan pinjaman bisnis Tim. Aku khawatir soal retakan di kolam renang kami dan filter nonklorin baru yang ternyata masih menyisakan sedikit alga. Aku khawatir soal portfolio investasi kami, walaupun si e-broker meyakinkanku bahwa itu cuma kecemasan investor baru, dan menjamin bahwa investasi baru kami lebih menguntungkan daripada 401(k). Aiden perlu guru les matematika. Jenna ingin pul sepatu ala Jamie Lynn Spears untuk kamp sepakbolanya. Orangtua Tim ingin tinggal di rumah kami untuk liburan Natal. Saudaraku masuk rehabilitasi. Finley cacingan. Seekor ikan hias kami kena jamur yang tumbuh dari salah satu matanya. Itu hanya beberapa contoh. Aku punya cukup banyak untuk membuatku tetap sibuk.

Apa kau tidak menonton berita?

Ya, cuma sekitar lima menit setiap hari; berita utama, olahraga, gosip selebriti. Kenapa aku harus jadi depresi gara-gara TV? Kalau aku mau depresi, aku tinggal naik ke timbangan.

Bagaimana dengan sumber berita lainnya? Radio, misalnya?

Saat menyetir pagi-pagi? Itu waktu tenangku. Setelah mengantar anak-anak, aku akan mendengar acara (nama tak ditunjukkan demi alasan legal). Lawakannya membantuku melewati hari-hari.

Kalau internet?

Untuk apa? Internet bagiku hanya untuk belanja. Bagi Jenna, itu untuk bahan membuat PR. Bagi Tim, itu untuk melihat...hal-hal yang dia berani sumpah tak akan pernah dilihatnya lagi. Satu-satunya berita yang kubaca hanya yang otomatis muncul di halaman AOL-ku.

Pasti ada kasak-kusuk di kantormu...

Oh ya, awalnya begitu. Mulanya agak menakutkan dan aneh, seperti "katanya sih itu bukan rabies," dan semacamnya. Tapi berita itu reda musim dingin berikutnya, kalau kau ingat, lagipula jauh lebih mengasyikkan bicara tentang episode terakhir Celebrity Fat Camp atau menggosipkan siapapun yang sedang tidak ada di ruang istirahat.

Suatu hari, sekitar bulan Maret atau April, aku masuk kantor dan melihat Bu Ruiz mengosongkan meja kerjanya. Kukira dia kena PHK, satu hal yang saat itu bagiku merupakan ancaman nyata yang lebih besar. Dia bilang padaku bahwa "mereka" datang; begitulah dia selalu menyebutnya, "mereka" atau "sesuatu itu." Dia bilang keluarganya sudah menjual harta benda mereka dan membeli kabin di dekat Fort Yukon, Alaska. Kupikir itu hal terbodoh yang pernah kudengar, terutama dari orang seperti Inez. Dia bukan salah satu orang Meksiko yang bodoh, dia "bersih." Maafkan kata-kataku, tapi begitulah dulu aku diajari, itulah diriku yang dulu.

Apakah suamimu pernah khawatir?

Tidak, tapi anak-anak iya. Tidak terang-terangan, kalau kupikir-pikir. Jenna tiba-tiba sering berkelahi. Aiden tak bisa tidur kecuali lampu kamarnya dinyalakan. Hal-hal seperti itu. Mereka mungkin tidak mendapat informasi sebanyak yang Tim atau aku peroleh, tapi mereka tak punya kesibukan orang dewasa yang bisa mengalihkan perhatian mereka.

Bagaimana kau dan suamimu menanggapi?

Zoloft dan Ritalin SR untuk Aiden, dan Adderall XR untuk Jenna. Itu berhasil untuk sementara. Satu-satunya yang membuatku kesal adalah asuransi kesehatanku tidak mau menanggungnya, karena anak-anakku sudah minum Phalanx.

Sudah berapa lama mereka minum Phalanx?

Sejak dijual untuk pertama kalinya. Kami semua meminumnya. "Sebutir Phalanx, Pikiran Tenang." Begitulah kami berjaga-jaga...dan Tim juga membeli pistol. Dia terus berjanji akan membawaku ke lapangan menembak untuk belajar. "Minggu," katanya selalu. "Hari Minggu ini kita ke sana." Aku tahu dia bohong. Dia mengunjungi simpanannya setiap Minggu, si jalang tinggi berdada besar yang membuatnya kepincut. Aku tak peduli. Kami sudah minum pil, dan setidaknya dia tahu cara menggunakan Glock. Itu cuma bagian dari kehidupan sehari-hari, seperti alarm asap atau kantong udara mobil. Untuk jaga-jaga. Lagipula, selalu ada hal-hal yang harus dikhawatirkan, setiap bulan selalu ada. Bagaimana mengingat semuanya? Bagaimana kami tahu apa yang benar-benar harus dikhawatirkan dan yang tidak?

Bagaimana kau akhirnya tahu?

Saat itu sudah gelap. Pertandingan di TV sudah mulai. Tim sudah duduk di ruang santai sambil minum Corona. Aiden duduk di lantai, memainkan Ultimate Soldiers-nya. Jenna mengerjakan PR di kamar. Aku sedang mengeluarkan cucian, jadi aku mulanya tak mendengar Finley menggonggong. Oke, mungkin aku dengar, tapi aku tak begitu menghiraukannya. Rumah kami ada di bagian paling ujung komplek, tepat di kaki bukit. Kami tinggal di area sepi di North Country, San Diego, yang baru saja dikembangkan. Selalu ada kelinci, atau kadang rusa, yang berlari melintasi halaman, jadi Finley selalu heboh. Aku melirik catatan di Post-It supaya ingat memberinya salah satu kalung aroma sitrun itu.

Aku tidak ingat kapan tepatnya anjing-anjing lain di komplek mulai menggonggong, atau alarm mobil meraung di ujung jalan. Baru ketika aku mendengar suara tembakan, aku masuk ke ruang santai. Tim tidak mendengar apa-apa karena volume TV-nya dikeraskan. Aku sudah sering menasihatinya untuk memeriksakan pendengarannya, karena dia bermain di band metal saat umur duapuluhan...

(Dia menghela napas).

Aiden mendengar sesuatu. Dia tanya padaku apa itu. Aku baru mau bilang aku tidak tahu, ketika kulihat matanya membelalak ketika menatap ke pintu kaca yang mengarah ke halaman belakang. Aku baru saja menoleh ketika pintu itu mendadak pecah.

Makhluk itu setinggi lima kaki sepuluh inci, bungkuk, bahunya kecil, dan perutnya buncit. Dia bertelanjang dada, kulitnya yang abu-abu nampak koyak-koyak dan penuh bercak. Baunya seperti laut, seperti rumput laut busuk dan air asin. Aiden melompat dan lari ke belakangku. Tim melompat dari kursinya dan berdiri di depan kami. Semua dusta yang kami dengar sebelumnya runtuh dalam sekejap. Tim dengan panik mencari-cari apapun di ruangan itu yang bisa dijadikan senjata ketika makhluk itu mencengkeram kausnya. Mereka jatuh ke lantai dan bergulat. Dia berteriak padaku agar lari ke kamar dan mengambil pistol.

Kami sedang di lorong ketika kudengar teriakan Jenna. Aku lari ke kamarnya dan membuka pintunya. Ada satu makhluk lagi, tubuhnya besar, kurasa sekitar enam setengah kaki, dengan bahu raksasa dan lengan menggembung. Dia telah memecahkan jendela dan merenggut rambut Jenna. Putriku menjerit, "MamaMamaMama!"

Lalu apa yang kau lakukan?

Aku...aku tak yakin. Kalau kuingat-ingat, segalanya terjadi begitu cepat. Aku mencengkeram lehernya. Dia menarik Jenna ke arah mulutnya. Aku menekan kuat...menarik... Anak-anakku bilang aku merenggut putus kepalanya, menariknya sampai lepas beserta daging, otot, dan apapun yang tersisa. Rasanya itu mustahil. Mungkin karena dorongan adrenalin...kurasa anak-anakku membangun ingatan itu seiring tahun, menjadikanku semacam Hulk perempuan atau semacamnya. Aku hanya tahu aku membebaskan Jenna, aku ingat itu. Beberapa detik kemudian, Tim masuk ke kamar, ada lendir hitam di sekujur kaosnya. Dia menggenggam pistol di satu tangan dan tali Finley di tangan lain. Dia melemparkan kunci mobil ke tanganku dan menyuruhku membawa anak-anak ke mobil. Dia lari ke halaman belakang saat kami ke garasi. Kudengar pistolnya meletus saat aku memutar kunci mobil.


Baca bagian selanjutnya di sini.

Minggu, 10 Januari 2016

World War Z: Bab II: Kesalahan (part 4)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Amarillo, Texas, Amerika Serikat

(Grover Carlson bekerja sebagai pengumpul bahan bakar untuk proyek eksperimen biokonversi kota. Bahan bakar yang dikumpulkannya adalah kotoran ternak. Aku mengikuti mantan kepala staf Gedung Putih itu saat dia mendorong gerobaknya menuju lapangan rumput yang dipenuhi tumpukan kotoran)

Tentu saja kami punya salinan laporan Knight-WarnJews itu. Pikirmu kami siapa, CIA? Kami sudah membacanya tiga bulan sebelum deklarasi Israel. Sebelum Pentagon mulai cuap-cuap, akulah yang memberitahu presiden secara pribadi, yang kemudian mengadakan rapat untuk membahas pesan-pesan yang disampaikan dalam laporan itu.

Pesan apa?

Tunda semua pekerjaan, fokus ke masalah yang sekarang, omong-kosong darurat yang biasa. Kami mendapat lusinan laporan seperti itu setiap minggu, setiap bagian administrasi mendapatkannya, dan semua isinya tentang "ancaman besar terhadap keberadaan umat manusia." Ayolah! Bayangkan apa jadinya kalau pemerintah federal harus selalu waspada setiap ada orang gila paranoid berteriak "ada serigala!" atau "pemanasan global!"atau "mayat hidup!" Yang benar saja. Apa yang kami dan setiap presiden Amerika lakukan sejak jaman Washington selalu sama: tanggapi secara hati-hati dan sepantasnya terkait ancaman nyata yang mungkin dihadirkan kabar tersebut.

Maksudnya Tim Alfa.

Salah satunya. Penasihat hankam menaruh prioritas rendah terhadap laporan itu, jadi kupikir kami malah sudah memberi cukup banyak perhatian. Kami membuat video pelatihan untuk para penegak hukum lokal dan federal terkait respon saat terjadi penyebaran wabah. Departemen Kesehatan dan Layanan Sosial membuat halaman situs berisi instruksi tindakan untuk warga jika anggota keluarga mereka terinfeksi. Bukankah FDA juga mendorong pemakaian Phalanx?

Tapi Phalanx tidak berguna.

Ya, dan tahukah kau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan obat yang benar-benar bekerja? Coba lihat berapa banyak uang dan waktu habis untuk penelitian kanker atau AIDS. Apakah kau mau menjadi pihak yang mengumumkan pada rakyat Amerika bahwa dana untuk penelitian penyakit-penyakit ini dialihkan untuk penelitian penyakit baru yang sebagian besar orang bahkan belum pernah mendengarnya? Coba lihat berapa banyak usaha penelitian yang dikerahkan sebelum dan sesudah Perang Zombie, dan kita masih belum menemukan obat atau vaksin mujarab. Kami tahu Phalanx hanya obat placebo, dan kami berterimakasih. Itu membuat orang-orang tenang sehingga kami bisa bekerja.

Kau masih ingin memberitahu yang sebenarnya pada semua orang? Bahwa itu bukan rabies, tapi wabah super misterius yang membuat mayat hidup kembali? Coba bayangkan kepanikan yang akan terjadi; demonstrasi, kerusuhan, kerugian milyaran Dolar akibat perusakan properti. Bisakah kau bayangkan para senator yang kesenangan dan berusaha melumpuhkan posisi pemerintah supaya mereka bisa meloloskan "Undang-undang Perlindungan terhadap Zombie" yang bombastis tapi tidak berguna ke Kongres? Bisa kau bayangkan dampaknya terhadap pusat administrasi politik? Kita bicara soal pemilu, dan pertempuran brutal yang menyertainya. Kami adalah "tukang bersih-bersih," orang-orang apes yang harus membersihkan sisa kotoran yang ditinggalkan pemerintah sebelumnya, dan percayalah, delapan tahun terakhir itu benar-benar penuh tahi kucing! Satu-satunya alasan kami bisa mendapat jabatan lagi adalah karena presiden baru sialan itu terus menjanjikan "kedamaian dan kemakmuran kembali." Rakyat Amerika tak akan mau menerima kurang dari itu. Mereka pikir mereka sudah melalui cukup banyak hal buruk, dan kalau kau bilang yang terburuk baru akan dimulai, itu bunuh diri politik namanya.

Jadi, kau tak pernah benar-benar berusaha mengatasi masalahnya.

Oh, yang benar saja. Apakah kau pernah benar-benar "mengatasi" kemiskinan? Pernahkah ada yang benar-benar "mengatasi" kejahatan? Bagaimana dengan wabah, pengangguran, perang, dan penyakit sosial lainnya? Tidak. Kau hanya berharap mereka cukup bisa ditangani sehingga orang-orang bisa terus hidup. Itu bukan sinisme, itu kedewasaan. Kau tidak bisa menghentikan hujan. Yang bisa kau lakukan hanya membuat atap yang semoga saja kuat, atau setidaknya tidak bocor di atas kepala calon pemilihmu.

Apa maksudnya itu?

Ayolah....

Serius. Apa maksudnya?

Oh, terserahlah. Maksudku adalah: dalam politik, kau harus berfokus pada kepentingan basis kekuatanmu. Buat mereka senang, dan mereka akan membiarkanmu berkuasa.

Itukah sebabnya mengapa beberapa peristiwa penyebaran wabah diabaikan?

Astaga, kau membuatnya terdengar seolah kami melupakannya.

Apakah penegak hukum lokal meminta bantuan dari penegak hukum federal?

Memangnya kapan polisi tidak pernah merengek minta tambahan personel, perlengkapan baru, tambahan jam pelatihan atau "dana untuk program publik?" Mereka sama buruknya dengan tentara, selalu mengeluh soal tidak pernah mendapat apa yang mereka butuhkan, tapi apakah mereka pernah mempertaruhkan pekerjaan mereka demi menaikkan pajak? Apakah mereka pernah sampai harus menjelaskan pada kaum kelas menengah kenapa kami melucuti uang mereka untuk orang miskin?

Kau tidak khawatir publik akan tahu?

Dari siapa?

Wartawan, media.

Media? Maksudmu jaringan media yang dimiliki beberapa perusahaan terbesar di dunia? Yang akan langsung terjun bebas ketika kabar buruk lainnya menghantam pasar saham? Media yang itu?

Jadi kau tak pernah berusaha menutupi semuanya?

Tidak perlu, media sendiri yang melakukannya. Mereka mempertaruhkan banyak hal, sama seperti kami, bahkan lebih. Lagipula, mereka sudah mendapat banyak cerita setahun sebelum ledakan wabah pertama dilaporkan di Amerika. Lalu musim dingin datang, Phalanx dipasarkan, dan kasus-kasus menurun. Mungkin mereka berlagak menahan wartawan-wartawan yang lebih muda dan bersemangat, tapi kenyataannya, berita-berita itu sudah basi setelah beberapa bulan. Semuanya lebih "terkendali." Orang-orang belajar untuk hidup bersama hal itu, dan mereka ingin sesuatu yang baru. Berita itu bisnis, dan kalau mau sukses, beritamu harus selalu segar.

Tapi 'kan ada media-media alternatif?

Oh, tentu, dan kau tahu siapa yang mendengarkan mereka? Golongan sok pintar yang lembek. Siapa lagi? Tidak ada! Siapa yang peduli dengan media minoritas macam PBS-NPR, yang selalu bertentangan dengan pendapat mayoritas? Semakin keras golongan elit itu berteriak "mayat hidup datang," rakyat Amerika semakin tak peduli.

Coba kutegaskan lagi posisi jabatanmu.

Administrasi.

Administrasi, oke, dan kau sudah memberi perhatian terhadap masalah ini sejauh yang kau pikir perlu.

Benar.

Apalagi pemerintah sudah punya banyak hal yang harus dipikirkan, terutama karena ketakutan publik adalah hal terakhir yang diinginkan rakyat Amerika.

Ya.

Jadi, kau menyimpulkan bahwa ancaman tersebut cukup kecil sehingga bisa ditangani oleh Tim Alfa di luar negeri dan petugas penegak hukum di dalam negeri. 

Benar.

Walaupun kau sudah mendapat peringatan yang bernada sebaliknya; bahwa masalah itu tak bisa dibiarkan, dan bahwa itu sesungguhnya adalah awal dari sebuah bencana global.

(Tuan Carlson berhenti, menatapku dengan marah, dan menyekop setumpuk kotoran lagi ke dalam gerobaknya).

Dewasalah.

Baca bagian selanjutnya di sini.