Senin, 22 Agustus 2016

World War Z: Bab IV: Membalik Keadaan (part 2)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Armagh, Irlandia

(Philip Adler bukan Katolik, tetapi dia adalah satu di antara para pengunjung tempat pengungsian milik Paus di masa perang. "Istriku orang Bavaria," ujarnya padaku saat kami duduk di bar hotel. "Dia berkeras mengunjungi Katedral Santo Paul." Ini adalah kali pertama dia keluar dari Jerman sejak perang zombie berakhir. Kami bertemu secara kebetulan, tetapi dia tidak keberatan direkam).

Hamburg dibanjiri zombie. Mereka ada di jalanan, di tiap gedung, membanjir keluar dari Neuer Elbtunnel. Kami sudah mencoba menghalangi mereka dengan mobil-mobil penduduk, tetapi mereka menerobos lewat tiap celah sempit, seperti cacing-cacing bengkak yang berdarah-darah. Para pengungsi juga ada dimana-mana. Mereka datang dari mana-mana, termasuk Saxony, berpikir bahwa mereka bisa kabur lewat laut. Akan tetapi, kapal-kapal sudah pergi, dan pelabuhan nampak berantakan. Ribuan orang terperangkap di Reynolds Aluminiumwerk, dan lebih banyak lagi di Terminal Eurokai. Tidak ada makanan atau air bersih; mereka cuma bisa menunggu diselamatkan seraya dikepung oleh zombie. Aku tidak tahu ada berapa banyak yang terinfeksi.

Pelabuhan penuh sesak oleh mayat hidup. Kami mencoba menahan mereka tetap di pelabuhan dengan meriam-meriam air anti kerusuhan, untuk menghemat amunisi dan menjaga jalanan tetap bersih. Mulanya itu ide bagus, sampai semua hidran mulai kehilangan tekanan. Komandan kami sudah tewas dua hari sebelumnya, karena kecelakaan aneh. Salah satu prajurit menembak kepala zombie yang menindihnya. Peluru itu menembus kepala si zombie, membawa sedikit partikel otak, lantas menancap di pundak si komandan. Gila, ya? Dia menyerahkan wewenang komando padaku, dan tugas resmi pertamaku adalah membunuhnya.

Aku mengubah Hotel Renaissance menjadi pusat komando pasukanku. Lokasinya bagus untuk bertempur, dengan tempat yang cukup luas untuk tempat tinggal prajurit serta beberapa ratus pengungsi. Anak-anak buahku yang sedang tidak mempertahankan barikade mencoba melakukan hal yang sama pada beberapa bangunan di sekitarnya. Jalan-jalan diblokade dan kereta api tak beroperasi, jadi kupikir lebih baik melindungi sebanyak mungkin orang sipil. Pertolongan akan datang, hanya masalah waktu.

Aku baru akan mengorganisir rincian rencana untuk mengumpulkan senjata pertarungan satu lawan satu karena kami kehabisan amunisi, ketika mendadak datang perintah untuk mundur. Itu bukan hal yang aneh. Unit kami memang secara teratur bergerak mundur sejak hari pertama Kepanikan Besar. Yang tidak biasa adalah titik keberangkatannya. Divisi kami untuk pertama kalinya diberi koordinat peta, padahal sebelumnya, kami cukup diberi arahan biasa lewat saluran terbuka agar masyarakat sipil bisa tahu dimana harus berkumpul. Sekarang, yang kami peroleh adalah transmisi berkode dari sistem pemetaan yang tak pernah digunakan lagi sejak Perang Dingin. Aku sampai harus mengeceknya tiga kali untuk konfirmasi. Mereka menyuruh kami ke Schafstedt, di sebelah utara Kanal Nord-Ostsee. Sekalian saja ke Denmark!

Kami juga diberi perintah tegas untuk tidak memindahkan orang-orang sipil. Kami bahkan tidak boleh memberitahu mereka soal keberangkatan kami! Tidak masuk akal. Mereka menarik kami ke Schleswig-Holstein dan meninggalkan para pengungsi? Kami harus berhenti dan kabur begitu saja? Pasti ada kesalahan. Aku meminta konfirmasi. Mereka bilang ya. Aku bertanya lagi. Mungkin petanya salah, atau kodenya yang keliru. Itu bukan pertama kalinya.

Aku tiba-tiba saja sudah bicara dengan Jenderal Lang, komandan Front Utara. Bahkan di tengah-tengah kebisingan tembakan, aku bisa mendengar suaranya bergetar. Dia bilang perintah itu bukan kesalahan; bahwa aku harus menarik pasukan yang tersisa dari garnisun Hamburg dan langsung pergi ke Utara. Ini mustahil, kataku pada diri sendiri. Lucu, 'kan? Aku bisa dengan mudah menerima kenyataan bahwa mayat hidup bangkit untuk melahap seluruh dunia, tapi ini...ini perintah yang secara tidak langsung akan menyebabkan pembantaian masal.

Jangan salah, aku prajurit yang baik, tapi aku dari Jerman Barat. Kau tahu bedanya, 'kan? di Jerman Timur, orang-orang diberitahu bahwa mereka tidak perlu merasa bertanggung jawab terhadap kengerian masa Perang Dunia Kedua, karena sebagai komunis yang baik, mereka juga sama-sama korban seperti Hitler. Kau tahu kenapa para skinhead dan kaum proto-fasis berkumpul di Jerman Timur? Karena mereka tidak terbebani rasa bersalah dari masa lalu, tidak seperti kami di Jerman Barat. Sejak lahir, kami sudah dididik untuk menanggung beban rasa malu kakek dan nenek kami. Kami diajari bahwa, walaupun memakai seragam, tanggung jawab utama kami adalah terhadap hati nurani, apapun risikonya. Begitulah aku dibesarkan. 

Aku memberitahu Lang bahwa tidak mungkin aku mengikuti perintah itu; aku tak bisa meninggalkan semua orang tanpa perlindungan. Ketika mendengar jawabanku, dia mengamuk. Dia bilang aku harus mengikuti perintah tersebut, atau aku dan anak buahku akan diadili karena "pengkhianatan," dan dijatuhi hukuman dengan "efisiensi ala Rusia." Jadi, beginilah kita akhirnya, pikirku. Kami sudah dengar apa yang terjadi di Rusia...pemberontakan, penangkapan, desimasi. Aku memandang ke sekelilingku, semua pemuda umur delapan belas, sembilan belas tahun itu. Semuanya sudah lelah dan takut berperang untuk melindungi nyawa mereka sendiri. Aku tak bisa menahan mereka di sana. Aku mengeluarkan perintah untuk mundur.

Bagaimana mereka menerimanya?

Tidak ada keluhan, setidaknya tidak padaku. Mereka bertengkar sedikit, tapi aku pura-pura tak melihat. Mereka toh sudah melakukan tugas masing-masing.

Bagaimana dengan penduduk sipil?

(Diam sejenak). Kami mendapat reaksi yang sepantasnya. "Kalian mau ke mana?" Mereka berteriak dari jendela-jendela gedung. "Kembali, pengecut!" Aku mencoba menjawab, "Kami akan kembali untuk menolong kalian. Kami akan datang besok dengan lebih banyak tentara. Tetap di tempat kalian, kami akan kembali." Tapi mereka tidak percaya padaku. "Bajingan pembohong!" Aku mendengar seorang wanita berteriak. "Kau membiarkan bayiku mati!"

Kebanyakan orang-orang itu tidak mengikuti kami. Mereka masih takut pada zombie-zombie di jalan. Beberapa yang pemberani bergelantungan di kendaraan pengangkut personel kami, mencoba memaksa masuk. Kami mendorong mereka sampai jatuh. Kami harus mengamankan diri sendiri karena semua orang di gedung mulai melemparkan segala macam benda, lampu, perabot, ke arah kami. Salah satu anak buahku dihantam ember berisi tinja. Aku bahkan mendengar peluru memantul di bodi Marder-ku.

Ketika iring-iringan kami keluar dari kota, kami melewati sisa-sisa Unit Reaksi dan Stabilisasi Cepat. Mereka diserang habis-haisan minggu lalu. Waktu itu aku belum tahu, tapi itu salah satu unit yang dikelompokkan ke dalam kategori yang "bisa dibuang." Mereka bertugas melindungi pasukan yang bergerak mundur, serta mencegah agar zombie dan penduduk sipil tidak mengikuti kami. Intinya, mereka diperintahkan untuk menjaga garis pertahanan terakhir.

Komandan mereka berdiri menatap kami lewat lubang di atas tank Leopard-nya. Aku kenal dia. Kami sama-sama bertugas dalam IFOR* NATO di Bosnia. Kedengarannya mungkin melodramatis kalau kubilang aku berhutang nyawa padanya, tapi dia memang melindungiku dari tembakan seorang tentara Serbia. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah ketika di terbaring di rumah sakit di Sarajevo, bercanda soal ingin cepat-cepat keluar dari negara yang lebih mirip lubang neraka itu. Sekarang di sinilah kami, melewati jalan tol yang hancur di tanah air kami. Kami saling menatap, lantas memberi hormat. Aku masuk kembali ke kendaraanku, berpura-pura mempelajari peta supaya si pengemudi tidak melihat air mataku. "Kalau kita kembali," gumamku, "akan kubunuh bajingan itu."

Maksudmu Jenderal Lang.

Aku sudah merencanakan semuanya, Aku tidak akan marah atau membuatnya kuatir. Aku akan menyerahkan laporanku dan minta maaf atas tindakanku. Mungkin dia akan menasihatiku, mencoba memberi alasan bagus mengapa kami harus mundur. Bagus, pikirku. Aku akan mendengarkan, supaya dia tidak curiga. Kelak, ketika dia berdiri dan menjabat tanganku, aku akan mencabut pistolku dan meledakkan otak Jerman Timurnya sampai memercik ke atas peta yang menggambarkan sisa-sisa tanah air kami. Mungkin para stafnya juga ada di sana, para pelawak yang "hanya mengikuti perintah". Akan kubunuh mereka sebelum mereka menangkapku! Sempurna. Aku tidak akan sekadar melenggang ke neraka seperti bocah Hitler Jugend.** Akan kutunjukkan padanya, dan semua orang, apa artinya menjadi prajurit Jerman sejati.

Tapi bukan itu yang terjadi.

Bukan. Aku memang masuk ke kantor Jenderal Lang. Pasukanku adalah yang terakhir datang, jadi dia sudah menungguku. Setelah menerima laporan, dia duduk di kursinya, menandatangani beberapa surat perintah, menyegel dan mengirim surat untuk keluarganya, kemudian menembak kepalanya sendiri.

Bangsat. Sekarang aku lebih membencinya daripada ketika kami ada di jalanan Hamburg.

Kenapa begitu?

Karena kami akhirnya mengetahui mengapa dia melakukannya. Itu adalah bagian dari Rencana Prochnow.***

Apakah informasi ini membuatmu lebih simpatik padanya?

Kau bercanda? Itulah mengapa aku semakin membencinya! Dia tahu itu semua adalah bagian dari rencana perang yang panjang, dan kami akan membutuhkan orang seperti dirinya untuk menang. Pengecut sialan. Ingatkah kau apa yang kukatakan soal berpegang pada hati nurani? Kau tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tidak si pembuat rencana atau komandanmu, melainkan dirimu sendiri. Kau harus membuat keputusan sendiri dan hidup sambil menanggung beban konsekuensi keputusan itu, selamanya. Dia tahu itu. Itulah sebabnya dia mengabaikan kami seperti halnya kami mengabaikan penduduk sipil. Dia sudah melihat jalan terjal dan berbahaya di depan. Kami semua harus mendaki jalan itu sambil menyeret beban berat di belakang kami. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Dia tidak sanggup menahan bebannya sendiri.

Baca bagian selanjutnya di sini.


*IFOR: Implementation Force, pasukan perdamaian internasional bentukan NATO.

**Hitler Youth: organisasi pemuda dalam Partai Nazi yang beranggotakan pemuda usia 14 hingga 18 tahun.

***Versi Jerman dari Rencana Redeker (baca bagian sebelumnya).

Sabtu, 20 Agustus 2016

Herbert West - Reanimator (part 5)

Penulis: H. P. Lovecraft

Catatan: lanjutan dari 6 seri serial pendek horor yang berkisah tentang Herbert West, ilmuwan yang terobsesi menghidupkan orang mati. Kisah ini dibawakan lewat narasi napak tilas sahabat Herbert West sejak mereka masih mahasiswa sekolah kedokteran. Baca bagian sebelumnya di sini.




Banyak orang menyimpan kisah-kisah mengerikan tak tercatat tentang apa yang terjadi di medan perang pada masa Perang Dunia. Beberapa cerita itu membuatku mau pingsan, nyaris muntah, atau merinding dan kerap menoleh ke belakang dalam kegelapan. Akan tetapi, walaupun kisah-kisah itu sudah terdengar cukup buruk, aku sendiri mengalami yang paling mengerikan--horor mengejutkan dan ganjil yang muncul dari balik bayang-bayang.

Pada tahun 1915, aku adalah dokter berpangkat Letnan I di resimen Kanada di Flanders. Aku satu dari sekian banyak orang Amerika yang mendahului perintah presidennya untuk ikut perang. Aku tidak masuk tentara karena keputusan sendiri, tapi karena mengikuti pria yang untuknya aku telah menjadi asisten berharga--si ahli bedah spesialis asal Boston, Dokter Herbert West. Dr. West sangat antusias dengan kesempatan bekerja sebagai ahli bedah dalam perang, dan ketika kesempatan itu akhirnya datang, dia bisa dibilang menyeretku tanpa meminta persetujuanku. Sebenarnya aku akan senang jika perang ini bisa memisahkan kami, karena berbagai alasan yang membuatku mulai membenci kegiatan serta pertemananku dengan West. Akan tetapi, ketika West pergi ke Ottawa dan berhasil memeroleh jabatan Mayor Medis karena pengaruh kampus kami, aku tak bisa menahan dorongan untuk menyertainya seperti biasa.

Kubilang dr. West sangat bersemangat untuk bekerja di medan perang, tapi bukan berarti dia suka peperangan atau punya perhatian akan keselamatan orang lain. Dia tetap sesosok mesin intelektual yang dingin; kurus, pirang, bermata biru, dan berkacamata tebal. Kurasa dia diam-diam mencibir ketika melihat antusiasme kegiatanku dalam perang tersebut, serta kurangnya sikap netral. Akan tetapi, dia menginginkan sesuatu di Flanders yang dirundung perang, dan untuk mendapatkannya, dia harus mengadopsi identitas militer. Sesuatu yang diinginkannya itu tidak umum; berkaitan dengan cabang ganjil ilmu kedokteran yang diam-diam diikutinya dengan setia, dan membuatnya mencapai berbagai hasil yang menakjubkan sekaligus mengerikan. Jelas bahwa dia menginginkan pasokan tak terbatas mayat para prajurit yang baru tewas, dalam berbagai kondisi.

Herbert West membutuhkan mayat segar karena proyek utamanya adalah menghidupkan kembali mayat. Tak seorangpun pasien kayanya, yang membuat reputasinya terbangun dengan cepat di Boston, mengetahui hal ini. Hanya aku yang tahu; aku yang telah menjadi teman terdekat sekaligus asisten satu-satunya sejak masa-masa kami di Fakultas Kedokteran Universitas Miskatonic di Arkham. Pada masa-masa kuliah itulah dia memulai eksperimen ganjilnya, pertama-tama pada hewan-hewan kecil, dan kemudian mayat manusia yang dia peroleh dengan cara yang sama ganjilnya. Dia menyuntikkan larutan khusus ke nadi mayat-mayat itu, dan jika mayat-mayatnya cukup segar, mereka menunjukkan reaksi ganjik. West pernah bermasalah ketika mencoba menemukan formula yang tepat, karena setiap organisme ternyata memerlukan stimulus yang diadaptasi dengan tepat. Teror membayang dalam benak West setiap kali dia merenungkan kegagalan-kegagalan masa lalunya; sosok-sosok tak terkatakan yang diakibatkan larutan yang belum sempurna, atau mayat yang tak cukup segar. Beberapa hasil eksperimen gagal ini masih hidup--satu dikurung di rumah sakit jiwa sedangkan yang lain menghilang--dan setiap kali dia memikirkan apa yang akan terjadi, dia diam-diam gemetar walau tetap menunjukkan ketenangannya.

West segera memahami bahwa tingkat kesegaran maksimum merupakan syarat utama untuk spesimen yang berguna, dan memutuskan untuk melakukan berbagai metode yang ganjil dan mengerikan. Saat kuliah dan praktik pertama kami di kota industri Bolton, sikapku terhadapnya selalu berdasarkan kekaguman, namun ketika metodenya semakin ganjil dan berani, aku mulai takut padanya. Aku tidak suka caranya menatap orang-orang bertubuh sehat, dan bahkan ada satu kejadian di laboratorium ketika aku menyadari bahwa salah satu mayat ternyata hasil perbuatannya sendiri. Itu adalah kali pertama dia berhasil mengembalikan kemampuan nalar sesosok mayat, dan kesuksesan berharga mahal tersebut telah membekukan hatinya.

Aku tidak berani bicara lebih banyak tentang metodenya selama lima tahun belakangan. Aku tetap bersamanya lebih karena ketakutan, dan juga karena aku telah melihat hal-hal yang tak bisa diungkapkan. Perlahan, aku melihatnya menjadi semakin mengerikan, dan menyadari bahwa hasrat ilmiahnya untuk memperpanjang hidup telah berkembang menjadi keingintahuan ganjil serta kegairahan menakutkan terhadap mayat. Minatnya menjadi kecanduan menyimpang terhadap sesuatu yang abnormal; dia dengan tenangnya sesumbar mengenai kengerian buatan yang akan membuat orang normal takut dan jijik. Di balik raut pucatnya, dia menjadi Baudelaire-nya percobaan ilmiah, Elagabalus di antara makam.

Dia tidak takut terhadap bahaya, dan tidak goyah walau sudah melakukan kejahatan. Puncaknya adalah ketika dia berhasil mengembalikan pikiran rasional mayat yang dihidupkan, sebelum kembali mencari tantangan baru dengan bereksperimen untuk menghidupkan kembali bagian-bagian tubuh yang sudah terpisah. Dia punya ide liar tentang kemampuan vital mandiri dari sel-sel organik serta jaringan syaraf yang terpisah dari struktur fisiologis alaminya, dan dia berhasil mencapai kesuksesan kecil dalam bentuk jaringan hidup yang diambil dari telur sejenis reptil yang sudah hampir menetas. Dia berniat membuktikan dua poin: pertama, apakah kesadaran dan tindakan rasional bisa terwujud dari syaraf tulang belakang dan berbagai pusat syaraf, bukannya otak. Kedua, apakah ada semacam hubungan tak terlihat selain sel-sel jaringan di dalam anggota tubuh yang tadinya masih menyatu dalam satu organisme hidup. Penelitian ini membutuhkan mayat manusia segar dalam jumlah besar, dan inilah sebabnya mengapa Herbert West bergabung dalam Perang Dunia.

Peristiwa itu terjadi pada suatu tengah malam di bulan Maret tahun 1915, di rumah sakit darurat di belakang garis depan di St. Eloi. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya apakah itu mimpi buruk. West punya laboratorium pribadi di ruangan timur rumah sakit, di kantor sementara yang lebih mirip kandang, yang berhasil diperolehnya dengan alasan bahwa dirinya sedang mengembangkan metode radikal untuk merawat korban yang kehilangan anggota badan. Di sana, dia bekerja seperti tukang jagal di tengah ladang pembantaian. Aku tak pernah terbiasa dengan caranya menangani dan mengelompokkan bahan-bahan kerjanya. Di sela-sela waktunya, dia melakukan berbagai operasi sukses pada prajurit terluka, tetapi hasrat utamanya bukan tindakan heroik seperti itu, melainkan sesuatu yang akan membutuhkan banyak penjelasan aneh bahkan di tengah-tengah situasi mengerikan macam perang.

Suara tembakan pistol bukan hal yang aneh di medan perang, tetapi tidak demikian halnya jika terdengar di rumah sakit. Spesimen West yang sudah dihidupkan tidak dimaksudkan untuk hidup lama atau dipertontonkan di depan orang banyak. Selain jaringan manusia, West juga menggunakan jaringan embrio reptil yang sudah dia kembangkan dengan sukses. Bahan itu jauh lebih baik untuk menjaga tanda-tanda kehidupan dalam potongan jaringan ketimbang yang dari tubuh manusia. Hanya itu yang menjadi perhatian West. Di sudut gelap laboratorium, tepat di atas tungku inkubator buatan sendiri, dia menyimpan wadah besar tertutup yang dipenuhi jaringan sel reptil, yang semakin berlipat ganda dan menjadi gembung menjijikkan.

Pada suatu malam, kami mendapat spesimen baru yang istimewa--seorang pria yang semasa hidupnya sangat sehat dan memiliki kapasitas mental tinggi, sehingga sistem syarafnya relatif terjaga. Ironis, karena orang itu justru adalah orang yang membantu West mendapat laboratoriumnya dan bahkan menjadi teman kami. Dia bahkan juga pernah diam-diam memelajari teori yang sama, dengan bimbingan West. Mayor Sir Eric Moreland Clapham-Lee, D.S.O. adalah ahli bedah terhebat dalam divisi kami, dan dia telah ditugaskan secara terburu-buru ke St. Eloi ketika terdengar kabar adanya pertempuran yang mencapai markas besar. Dia pergi dengan pesawat yang dikemudikan Letnan Ronald Hill, namun pesawat itu ditembak jatuh saat sudah hampir mendarat. Kecelakaan itu sangat mengerikan; mayat Hill tak bisa dikenali, tetapi mayat si ahli bedah tetap utuh walaupun kepalanya hampir terpenggal.

West dengan sigap mengambil mayat teman dan mantan rekan sesama dokternya itu. Aku gemetar ketika melihatnya memisahkan kepala dari tubuh mayat dan meletakkannya di dalam wadah mengerikannya itu untuk eksperimen berikutnya, sebelum menggarap tubuh di meja operasinya. Dia menyuntikkan suplai darah baru, menyatukan beberapa nadi, arteri dan syaraf di dalam batang leher, sebelum menutup bagian daging yang terbuka dengan lembaran kulit, yang diambilnya dari mayat prajurit tak dikenal. Aku tahu apa maunya; dia ingin melihat apakah tubuh ini masih bisa menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang khas Sir Eric Moreland Clapham Lee, walau tanpa kepalanya. Mayat yang dulunya juga peminat ilmu reanimasi ini seolah mendorong kami untuk membuktikannya.

Aku masih mengingat sosok Herbert West dengan jelas di bawah sorotan lampu pijar saat dia menyuntikkan larutan khususnya ke lengan mayat. Sulit menggambarkan adegan itu--aku mungkin akan pingsan kalau melakukannya, karena hanya ada kegilaan di ruangan yang dipenuhi hal-hal ganjil itu: genangan darah dan sisa-sisa tubuh manusia yang menumpuk di lantai berlendir, ditambah dengan jaringan reptil mengerikan yang menggembung dan terus dipanasi di atas nyala api hijau kebiruan, di sudut ruangan yang gelap dan berbayang.

Spesimen itu seperti yang diduga West; sistem syarafnya luar biasa. Ketika kedutan-kedutan kecil mulai muncul, aku bisa melihat wajah West nampak sangat bergairah. Kurasa dia sudah bersiap melihat sendiri bukti pendapatnya selama ini: bahwa kesadaran, logika dan karakter pribadi bisa muncul walau tanpa terhubung dengan otak, bahwa manusia tidak memiliki pusat jiwa, melainkan hanya sesosok mesin yang terdiri dari jaringan syaraf, dengan tiap bagian mandiri dan lengkap. West sudah siap menyatakan bahwa "misteri kehidupan" tak lebih dari mitos.

Mayat itu berkedut lebih keras, dan mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang mendirikan bulu kuduk. Lengan-lengannya mengayun, tungkainya bergerak-gerak, dan otot-otot lainnya mengikuti. Sosok tak berkepala itu mendadak mengangkat kedua lengannya seolah sedang berputus asa--tindakan cerdas yang nampaknya sudah cukup untuk membuktikan teori Herbert West. Sistem syarafnya jelas-jelas sedang menggambarkan saat-saat terakhir sosok itu sebelum mati: perjuangan untuk keluar dari pesawat yang sedang jatuh.

Apa yang terjadi selanjutnya sulit kupahami. Mungkin itu halusinasi karena shock lantaran gedung kami kemudian hancur secara mendadak akibat serbuan bom pasukan Jerman. Siapa yang tahu? Apalagi hanya aku dan West yang hidup dari serangan itu. Sebelum dirinya menghilang, West juga kerap berpikir sama, tetapi ada saat-saat dimana dia meragukannya, karena aneh sekali kami berdua bisa punya halusinasi yang sama. Kejadiannya sendiri sangat singkat, tetapi implikasinya mengerikan.

Tubuh di atas meja itu bangkit dan lengannya meraba-raba, ketika kami mendadak mendengar suara. Kedengarannya seperti bukan suara manusia, tetapi bukan hal itu yang paling menakutkan. Bukan juga kata-katanya--suara itu hanya berteriak, "Lompat, Ronald, demi Tuhan, lompat!" Yang menakutkan adalah sumbernya.

Karena suara itu keluar dari wadah bertutup mengerikan yang ada di sudut gelap ruangan.

Bersambung

Baca bagian terakhir di sini.
  

Sabtu, 13 Agustus 2016

World War Z: Bab IV: Membalik Keadaan (part 1)

Baca bab sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Pulau Robben, Provinsi Cape Town, Negara Serikat Afrika Selatan

(Xolelawa Azania menyambutku dari balik meja kerjanya dan menyuruhku duduk di kursinya, supaya aku bisa menikmati udara laut yang sejuk dari jendela. Dia minta maaf karena mejanya "berantakan" dan berkeras membereskan lembar-lembar catatan dari atas meja sebelum kami melanjutkan obrolan. Tuan Azania baru merampungkan setengah dari volume ketiga buku Rainbow Fist: South Africa at War. Buku itu kebetulan membahas tentang hal yang kami diskusikan hari itu: tentang titik balik dalam perang melawan zombie, dan masa-masa ketika negara ini perlahan mulai menarik dirinya dari kegelapan.)

"Dingin" terdengar terlalu biasa untuk menggambarkan salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah modern. Beberapa menganggapnya penyelamat, yang lain menyebutnya monster. Tapi kalau kau pernah bertemu Paul Redeker, mengajaknya berdiskusi soal pandangannya terhadap dunia dan permasalahannya, atau tentang masalah wabah besar-besaran yang berlangsung di seluruh dunia, mungkin satu kata yang akan segera terlintas di benakmu adalah "dingin."

Paul selalu percaya--yah, tidak selalu, tapi sepanjang kehidupan dewasanya--bahwa salah satu kelemahan terbesar umat manusia adalah emosi. Dia selalu berkata bahwa apa yang ada dalam dada kita hanya berfungsi untuk memompa darah; yang lainnya hanya buang-buang waktu dan tenaga. Makalah-makalahnya saat kuliah, yang semuanya membahas solusi "alternatif" untuk berbagai dilema sosial dalam sejarah, membuatnya mendapat perhatian dari pemerintah apartheid. Banyak penulis biografi mengecapnya sebagai rasis, tapi Redeker sendiri pernah bilang kalau "rasisme adalah produk sampingan yang tak diharapkan dari emosi irasional." Ada juga yang bilang bahwa jika Redeker rasis terhadap satu kelompok, dia pasti mencintai kelompok lainnya. Tapi Redeker percaya bahwa cinta dan benci tidak penting. Baginya, keduanya hanyalah hambatan bagi manusia. "Bayangkan apa yang dapat dicapai umat manusia jika mereka menyingkirkan sifat kemanusiaan," begitu katanya. Jahat? Kebanyakan orang bilang begitu, tapi yang lain, terutama kelompok kecil di pusat pemerintahan di Pretoria, bilang bahwa dia adalah sumber luar biasa bagi intelektualitas yang terbebaskan.

Saat itu awal tahun 1980-an, masa-masa genting bagi pemerintahan apartheid. Seluruh negeri seolah sedang tidur di permukaan ranjang paku. Ada ANC, ada Partai Kemerdekaan Inkatha, bahkan ada kelompok ekstremis sayap kanan dari populasi kulit hitam yang sangat menginginkan adanya pemberontakan terbuka untuk memulai pertarungan besar-besaran antar ras. Perbatasan Afrika Selatan menghadapi bahaya dari negara-negara tetangga yang bermusuhan, dan dalam kasus Angola, ancaman perang sipil yang disokong Soviet dan Kuba. Tambahkan isolasi yang semakin besar dari negara-negara demokrasi Barat (termasuk embargo senjata), dan tidak mengherankan jika Pretoria selalu memikirkan solusi terakhir.

Itulah sebabnya pemerintah merekrut Redeker untuk merevisi rencana rahasia yang disebut Rencana Jingga (Orange Plan). Itu sudah ada sejak pemerintahan apartheid pertama berdiri pada tahun 1948. Itu seperti rencana pertahanan diri bagi minoritas kulit putih seandainya penduduk asli memutuskan untuk melakukan pemberontakan besar-besaran. Setiap tahun, rencana itu selalu diperbarui berdasarkan perubahan strategis di negara ini. Situasinya semakin lama semakin suram. Kemerdekaan beruntun negara-negara tetangga serta tuntutan merdeka yang semakin besar, mereka yang di Pretoria sadar bahwa konfrontasi besar-besaran bukan saja akan menjadi akhir pemerintahan Afrikaner, tapi juga masyarakatnya.

Saat itulah Redeker menunjukkan perannya. Dia merevisi Rencana Jingga, dan menyelesaikannya pada tahun 1984. Itu adalah strategi bertahan hidup untuk kaum Afrikaner. Tidak ada variabel yang diabaikan; gambaran populasi, bentang alam, geografi, sumber daya alam, faktor logistik... Redeker tidak hanya memperbarui rencana ini untuk mengikutsertakan ancaman senjata kimia dari Kuba serta kekuatan nuklir negaranya sendiri, tapi juga--ini yang membuat Rencana Jingga 48 terkenal dalam sejarah--keputusan soal warga Afrikaner mana yang akan diselamatkan dan mana yang dikorbankan.

Dikorbankan?

Menurut Redeker, upaya melindungi semua orang akan memakan sumber daya pemerintah sampai ke titik maksimum, dan malah akan menghancurkan seluruh populasi. Dia membandingkannya dengan penumpang kapal tenggelam yang berdesakan di atas perahu penyelamat yang kemudian terbalik, karena tidak ada ruang untuk mereka semua. Redekar bahkan bertindak lebih jauh dengan memperkirakan siapa yang harus diselamatkan. Dia menimbang faktor-faktor seperti jumlah penghasilan, tingkat kecerdasan, kesuburan, pokoknya semua yang ada dalam daftar "kualitas yang dibutuhkan." Itu termasuk lokasi subyek terhadap zona krisis potensial. Kalimat penutup proposalnya adalah: "sentimentalisme kita adalah hal pertama yang harus disingkirkan dalam menghadapi konflik, karena itu akan menghancurkan kita semua." 

Rencana Jingga 48 sangat cemerlang. Isinya jelas, logis, efisien, dan membuat Redeker menjadi orang paling dibenci di Afrika Selatan. Musuh pertamanya adalah kaum Afrikaner radikal dan fundamentalis, para penganut ideologi rasial dan kaum ultra-religius. Lalu, setelah kejatuhan pemerintahan apartheid, namanya mulai dikenal masyarakat luas. Dia pun dipanggil ke sidang Truth and Reconciliation*, namun dia menolak. "Aku tak akan berpura-pura masih punya hati nurani hanya untuk menyelamatkan diri sendiri," katanya di depan publik. "Lagipula, apapun yang kulakukan, mereka pasti akan tetap mengejarku."

Hal itu menjadi kenyataan, walau mungkin tidak dengan cara yang diduga Redeker. Saat itu adalah masa-masa Kepanikan Besar, yang dimulai beberapa tahun sebelum hal yang sama terjadi di negaramu. Redeker sedang di kabinnya di Drakensberg, yang dia beli dengan penghasilan sebagai konsultan bisnis. Dia suka bisnis, kau tahu. "Satu tujuan, tanpa jiwa," begitulah motonya. Dia tidak kaget sama sekali ketika pintunya mendadak didobrak, dan agen-agen dari Badan Inteligen Nasional merangsek masuk. Mereka memastikan nama, identitas, dan karirnya di masa lalu. Mereka tanpa basa-basi bertanya apakah dia yang membuat Rencana Jingga 48. Dia menjawab ya, dengan datar, tanpa emosi. Dia menduga kalau ini adalah semacam balas dendam; dunia toh sudah berubah menjadi neraka, jadi kenapa tidak mengincar "setan-setan apartheid" dulu?

Dia tidak menduga yang terjadi selanjutnya: para agen itu menurunkan moncong senjata mereka, lalu membuka topeng gas masing-masing. Wajah-wajah yang dilihatnya beraneka warna: orang kulit hitam, Asia, kulit cokelat, dan bahkan seorang pria kulit putih tinggi besar, orang Afrikaner yang langsung maju dan tanpa basa-basi bertanya, "kau punya rencana untuk mengatasi semua ini, 'kan?"

Redeker saat itu memang sedang membuat rencananya sendiri untuk menghadapi epidemi zombie. Memang apa lagi yang bisa dilakukannya di kabin terpencil itu? Rencana itu hanya sebuah latihan intelektual; dia tidak mengharapkan siapapun membacanya. Dia juga tidak menamai rencana itu, karena menurutnya, "nama hanya ada untuk memisahkan satu hal dari lainnya," dan saat itu, tidak ada hal lain yang menyerupai apa yang sedang dibuatnya. Sekali lagi, Redeker memperhitungkan semua hal; bukan hanya kondisi strategis negara, tetapi bahkan aspek-aspek seperti perilaku, psikologi, dan "doktrin perang" para zombie. Kau bisa mencaritahu soal Rencana Redeker di berbagai perpustakaan umum, tapi inilah isinya secara garis besar.

Pertama, menyelamatkan semua orang itu mustahil. Wabah sudah terlalu lama menyebar. Angkatan bersenjata sudah terlalu lemah untuk mengisolasi ancaman itu secara efektif, dan karena mereka diturunkan di wilayah yang luas, mereka semakin melemah hari demi hari. Pasukan bersenjata kami harus ditarik ke "zona aman," yang diharapkan dapat diperkuat oleh kondisi alam seperti pegunungan, sungai, dan garis pantai. Ketika sudah dikumpulkan di balik garis zona aman tersebut, pasukan dapat dengan mudah melenyapkan ancaman di perbatasan, sebelum menggunakan sumber daya yang tersedia untuk mempertahankan wilayah itu dari serangan lebih lanjut. Itu rencana pertama, dan masuk akal, sama seperti taktik penarikan pasukan bersenjata konvensional.

Bagian kedua berkaitan dengan rencana penyelamatan masyarakat sipil, dan rencana macam ini tidak akan bisa dibuat orang lain selain Redeker. Menurutnya, hanya sebagian kecil masyarakat sipil yang bisa dievakuasi ke zona aman. Tujuannya bukan hanya untuk menyediakan tenaga kerja dalam masa restorasi ekonomi setelah perang, tetapi juga menjaga stabilitas pemerintahan, untuk membuktikan pada mereka di zona aman bahwa pemerintah selalu memerhatikan mereka.

Ada alasan lain di balik evakuasi tebang pilih ini, alasan yang sudah pasti akan menghadiahi Redeker tempat tertinggi di singgasana neraka. Mereka yang tidak diselamatkan akan digiring ke zona-zona isolasi. Mereka dijadikan umpan manusia untuk mencegah zombie mengikuti para prajurit yang sedang mundur ke zona aman. Menurut Redeker, orang-orang ini harus dijaga agar tetap hidup, dipersenjatai, dan bahkan terus diberi pasokan untuk bertahan hidup, sehingga paa zombie juga tidak akan kemana-mana. Apakah kau lihat betapa cerdas dan gila rencana itu? Membuat orang-orang menjadi tahanan karena "setiap zombie yang mengepung mereka bermakna kurang satu zombie yang mengancam pertahanan kita."

Setelah mendengar penjelasan tentang rencana itu, si agen kulit putih membuat tanda salib, dan berkata "Tuhan mengampunimu, sobat." Yang lainnya menimpali "Tuhan menolong kita semua," dan kemudian, "bawa dia pergi."

Hanya dalam beberapa menit, mereka sudah ada di helikopter menuju Kimberley, tempat dimana Redeker dulu pertama merancang Rencana Jingga 48. Dia langsung digiring ke pertemuan dengan kabinet darurat presiden, dan laporannya dibacakan keras-keras di depan mereka. Kau harus dengar kehebohannya, walau tak ada yang suaranya sekeras si menteri pertahanan. Menteri ini orang Zulu, seorang pria ganas yang lebih suka bertarung di jalanan daripada meringkuk dalam bungker. Si wakil presiden lebih cemas soal pendapat publik. Dia tidak tahu bagaimana kelak nasibnya jika rencana ini sampai bocor ke telinga publik.

Sang presiden sendiri kelihatan sangat tersinggung oleh rencana Redeker. Dia sampai mencengkeram kerah jas menteri keamanannya, berteriak, bertanya mengapa dia membawa si penjahat perang apartheid itu ke kabinet mereka. Si menteri dengan tergagap bilang dia tidak paham mengapa presiden begitu marah, padahal beliau sendiri yang memerintahkannya. Sang presiden berseru bahwa dia tidak pernah memberikan perintah seperti itu, ketika tiba-tiba, dari belakang ruangan itu, satu suara lembut berujar, "aku yang melakukannya."

Pria itu sedari tadi duduk bersandar di tembok. Ketika dia berdiri, tubuhnya bungkuk karena usia dan harus disangga tongkat, namun energinya memancar kuat. Dialah si tetua negara, bapak demokrasi baru kami. Pria yang ketika lahir diberi nama Rolihlahla**, "Si Pembuat Onar." Ketika dia berdiri, semua orang langsung duduk, semua kecuali Paul Redeker. Pria tua itu menatapnya, lalu memberinya senyum hangat yang sudah sangat dikenal dunia, dan berkata, "Molo, mhlobo wam." Selamat datang, rekan segenaraku. Dia berjalan menghampiri Redeker, berputar menghadap para anggota kabinet, mengangkat lembar-lembar kertas yang tadinya dipegang Redeker, dan mendadak berujar dengan suara kuat, "ini akan menyelamatkan rakyat kita." Kemudian, dia menunjuk Redeker, dan berkata, "pria ini akan menyelamatkan kita."

Kemudian, terjadilah hal itu. Sesuatu yang mungkin akan diperdebatkan para ahli sejarah sampai akhir zaman. Dia memeluk Redeker. Bagi orang lain, ini mungkin hanya pelukan khasnya yang biasa, tapi bagi Paul Redeker.... Aku tahu para penulis biografi kebanyakan mengecap Redeker sebagai seseorang tanpa jiwa. Semua orang beranggapan begitu. Paul Redeker: tak punya perasaan, kasih sayang, dan hati nurani. Tetapi, salah satu penulis ternama kami, teman lama sekaligus penulis biografi Biko***, berkata bahwa Redeker sebenarnya orang yang sangat sensitif, bahkan terlalu sensitif untuk ukuran orang yang hidup di masa apartheid di Afrika Selatan. Dia berkeras bahwa perjuangan seumur hidup Redeker untuk menghapus emosi sebenarnya hanya cara untuk melindungi kewarasannya dari kekerasan dan brutalitas yang dilihatnya setiap hari. Tak banyak yang diketahui soal masa kecil Redeker, apakah dia dibesarkan oleh orangtua atau negara, atau apakah dia pernah dicintai. Mereka yang pernah bekerja dengannya tak ingat kapan Redeker pernah menunjukkan interaksi sosial atau ekspresi kehangatan. Akan tetapi, pelukan dari bapak bangsa kami, emosi tulus yang menembus cangkang jiwanya itu...

(Azania tersenyum agak malu).

Mungkin ini kedengarannya terlalu sentimental. Sepanjang yang kita semua tahu, dia monster yang tak berhati, dan pelukan pria tua itu mungkin tak berakibat apapun. Tapi kuberitahu kau, itulah kali terakhir orang melihat Paul Redeker. Sampai sekarang, tak ada yang tahu dimana dia berada. Saat itulah aku mengajukan diri untuk menerapkan Rencana Redeker, di minggu-minggu pertama yang kacau balau. Sulit meyakinkan mereka, tapi aku bilang aku sudah bekerja lama bersama Redeker, dan akulah yang paling mengerti cara berpikirnya dibanding semua orang lain di Afrika Selatan, jadi mana mungkin mereka menolak? Aku mengurus penarikan pasukan, lalu bulan-bulan konsolidasi setelahnya, dan terus sampai perang zombie selesai. Paling tidak mereka menghargai usahaku; kenapa lagi coba mereka memberiku akomodasi mewah ini? (Tersenyum) Paul Redeker, malaikat dan iblis. Beberapa membencinya, yang lain memujanya. Aku? Aku hanya kasihan padanya. Kalau dia masih hidup entah di mana, kuharap dia menemukan kedamaian.

(Setelah berpamitan dengan Azania, aku naik feri menuju daratan utama. Keamanan di tempat yang kudatangi sangat ketat. Aku mengambil kartu tanda masukku. Si penjaga, orang Afrikaner kulit putih tinggi besar, memotretku dua kali. "Harus selalu waspada di sini, sobat," ujarnya. "Banyak orang di luar sana yang mau membunuhnya." Aku membubuhkan tanda tanganku di sebelah namaku dalam daftar tamu, tepat di bawah tulisan Institusi Kejiwaan Pulau Robben. Nama pasien yang kukunjungi: Paul Redeker).

Baca bagian selanjutnya di sini.


*Truth and Reconciliation Commission: komisi pengadilan restoratif yang didirikan setelah kejatuhan pemerintahan apartheid di Afrika Selatan pada tahun 1994, yang bertujuan mendengarkan kesaksian korban dan pelaku pelanggaran HAM selama masa apartheid, serta memberi keadilan bagi para korban.

**Nama kecil Nelson Mandela.

***Steve Biko: aktivis anti apartheid di periode tahun 60-an dan 70-an.

Jumat, 15 Juli 2016

Herbert West - Reanimator (part 4)

Penulis: H. P. Lovecraft

Catatan: lanjutan dari 6 seri serial pendek horor yang berkisah tentang Herbert West, ilmuwan yang terobsesi menghidupkan orang mati. Kisah ini dibawakan lewat narasi napak tilas sahabat Herbert West sejak mereka masih mahasiswa sekolah kedokteran. Baca bagian sebelumnya di sini.



Jeritan mayat itu membuatku semakin takut pada Herbert West, dan membuat hubungan kami semakin memburuk selama tahun-tahun terakhir. Ketakutan gara-gara mendengar mayat bisa menjerit tentunya tidak aneh, karena memang bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu, jadi ini bukan sesuatu yang aneh. Bukan mayatnya itu sendiri yang membuatku takut.

Herbert West, dengan siapa aku menjadi rekan sekalius asisten, memiliki ketertarikan ilmiah yang jauh melebihi dokter desa biasa. Itulah sebabnya, ketika membuka praktik di Bolton, dia memilih rumah yang terisolasi dan dekat dengan pemakaman umum. Minat utamanya adalah studi pada fenomena kehidupan dan kematian, serta menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati dengan suntikan larutan khusus. Eksperimen mengerikan ini memerlukan pasokan mayat manusia yang masih segar; sangat segar, karena pembusukan sekecil apapun akan merusak struktur otak. West telah membunuh dan bereksperimen pada sejumlah kelinci dan marmut, namun hasilnya nihil. West tak pernah benar-benar sukses karena dia tidak bisa mendapat mayat segar. Yang kami inginkan adalah mayat dari orang yang benar-benar baru meninggal, yang sel-selnya masih utuh dan mampu menerima impuls "hidup." Harapannya, kehidupan artifisial kedua ini bisa diperpanjang dengan penyuntikan berulang-ulang. Kami menyadari bahwa tubuh manusia yang masih hidup tak akan merespon percobaan ini. Kami harus mendapatkan spesimen yang masih segar, tapi benar-benar sudah mati.

Misi luar biasa kami dimulai ketika West dan aku sama-sama mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Miskatonic di Arkham; pada akhirnya mengetahui dengan jelas mekanisme alamiah tubuh manusia. Itu sudah tujuh tahun lalu, tapi West tetap tidak berubah; kecil, berambut pirang, wajahnya tercukur bersih, suaranya halus, dan mengenakan kacamata, dan kilatan sekilas mata birunya yang dingin menunjukkan fanatismenya yang semakin membesar terhadap penelitian mengerikannya. Kami sering mengalami hal-hal yang mengerikan selama melakukan eksperimen, yang disebabkan oleh proses penghidupan kembali yang tak sempurna, ketika mayat-mayat dari kuburan mendadak berubah menjadi makhluk mengerikan yang ganjil akibat berbagai modifikasi lewat suntikan larutan kehidupan.

Salah satu mayat mengeluarkan jeritan yang mengguncangkan syaraf, yang lainnya hidup kembali dengan ganas, memukuli kami sampai pingsan sebelum kabur dan akhirnya tertangkap serta dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Yang lainnya, sesosok monster Afrika menakutkan, menerobos keluar dari kuburan dangkalnya dan melakukan sesuatu yang mengerikan, sampai West menembaknya. Kami tidak bisa mendapat mayat yang cukup segar untuk membuat hasil eksperimen kami sempurna; semuanya selalu bangkit sebagai monster. Kami bergidik membayangkan beberapa monster kami masih hidup di luar sana; pikiran itu senantiasa membayangi benak kami, hingga akhirnya West menghilang karena satu kejadian mengerikan.

Sebelum mayat terakhir kami menjerit di dalam laboratorium bawah tanah di Bolton yang terisolasi, kami lebih merasa cemas karena tidak menemukan mayat segar. West nampak lebih tertekan daripada aku, sehingga dia bahkan mulai memerhatikan orang-orang hidup dengan pandangan bernafsu. Saat itu bulan Juli tahun 1910, saat rentetan bencana yang sesungguhnya mulai menimpa kami. Aku baru saja mengunjungi orangtuaku di Illinois, dan ketika kembali, kulihat West nampak sangat bersemangat. Dia bilang dia telah menemukan cara memecahkan masalah kesegaran mayat dengan sebuah metode baru--pengawetan.

Aku tahu dia sedang mengembangkan larutan pembalsem baru yang unik, dan aku tak terkejut ketika dia berhasil, tetapi aku masih bingung bagaimana larutan itu bisa membantu kami sampai dia menjelaskannya. Spesimen kami membusuk lantaran kami tak bisa langsung mendapatkan mereka, dan West memecahkan masalah ini; dia menciptakan larutan pembalsem untuk penggunaan yang lama, walau kami masih mengandalkan keberuntungan dalam pencarian mayat segar yang belum dikubur, seperti bertahun-tahun silam ketika kami mendapatkan petinju negro yang tewas dalam pertandingan tinju gelap di Bolton. Nasib memang akhirnya berpihak pada kami, karena laboratorium rahasia kami kedatangan sesosok mayat yang pembusukannya bahkan belum nampak. West tidak mau repot-repot memperkirakan apakah larutan khususnya itu bisa mengembalikan kemampuan berpikir mayat atau tidak. Eksperimen itu akan menjadi titik balik penelitian kami, dan dia telah menyimpan sesosok mayat baru sambil menunggu kedatanganku, supaya kami bisa sama-sama melihat hasilnya.

Spesimen baru West adalah seorang pria yang nampak sehat; orang asing berpakaian necis yang baru saja turun dari kereta api untuk suatu urusan bisnis di pabrik penggilingan Bolton Worsted. Menurut West, jalan menuju kota dari stasiun lumayan jauh, dan ketika orang itu sampai di rumah kami untuk menanyakan jalan, jantungnya kewalahan. Dia menolak diberi stimulan, dan mendadak ambruk, lalu meninggal sesaat kemudian. West merasa bak kejatuhan rejeki nomplok.

Dari percakapan singkat West dengan orang asing itu, jelas bahwa pria tersebut tak punya kenalan di Bolton. Isi kantongnya menunjukkan identitasnya: Robert Leavitt dari St. Louis. Tak punya kerabat dekat yang bisa dihubungi seandainya dia menghilang. Bahkan jika eksperimen kami gagal, tak ada yang akan mengetahuinya. Kami bisa menguburnya di hutan di antara bangunan rumah dan pemakaman umum. Jika dia bisa hidup kembali, kami akan terkenal. Jadi, tanpa menunda-nunda, West segera menyuntikkan larutan pembalsemnya ke dalam nadi mayat itu, sambil menunggu kedatanganku. Perkara jantung lemah spesimen tersebut, yang menurutku bisa merusak hasil eksperimen kami, sepertinya tak terlalu mengusik West. Dia akhirnya bisa berharap meraih impiannya; melihat kemunculan kembali nalar dalam benak mayat yang dihidupkan kembali, dan bahkan mungkin benar-benar menghidupkan manusia secara sempurna.

Pada malam tanggal 18 Juli 1910, Herbert West dan aku berdiri di laboratorium bawah tanah kami, memandangi sosok pucat yang diam di bawah sorotan lampu. Larutan pembalsemnya berfungsi dengan baik, dan aku hanya bisa menatap takjub pada mayat besar itu, yang sudah terbaring dua minggu tanpa mejadi kaku, dan aku bertanya pada West apakah orang itu benar-benar sudah mati. West meyakinkanku dengan mantap, berkata bahwa larutan spesialnya sudah dites dengan hati-hati, dan tentunya tidak akan bisa bekerja jika subyeknya masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. West mulai mempersiapkan segalanya, dan aku terkesan melihat eksperimen barunya yang nampak lebih rumit; begitu rumit sehingga dia jelas tak akan membiarkan siapapun selain dirinya melakukannya. Dia melarangku menyentuh mayat itu, lantas menyuntikkan semacam obat di pergelangan tangan, tepat di sebelah bekas jarum tempat dia telah menyuntikkan larutan pembalsem. Obat itu, katanya, akan menetralisir larutan pembalsem di dalam tubuh mayat dan memberi efek relaksasi otot, sehingga larutan spesialnya nanti akan bisa bekerja dengan baik.

Beberapa saat kemudian, ketika kami mulai melihat sedikit gerakan pada bagian-bagian tubuh mayat tersebut, West dengan kasar menjejalkan sesuatu yang mirip bantal ke mulut mayat, dan menahannya di sana hingga mayat itu kembali diam, siap untuk dihidupkan. West melakukan beberapa tes lagi untuk memastikan bahwa mayat itu sudah benar-benar mati dan diam, sebelum mundur dengan puas dan mulai menyuntikkan larutannya ke lengan kiri mayat, yang sudah disiapkannya pada siang hari dengan prosedur yang nampaknya jauh lebih rumit daripada eksperimen jaman kuliah kami, saat kami masih gugup dan meraba-raba. Betapa sulitnya menggambarkan perasaan tegang yang liar saat kami menunggu hasilnya; percobaan pertama dimana kami bisa benar-benar berharap bahwa mayat tersebut akan hidup dan bicara dengan rasional, mungkin bahkan bisa bercerita pada kami tentang apa yang dilihatnya selama kematiannya.

West seorang yang berpandangan materialistis; dia tidak percaya tentang adanya jiwa, dan menganggap kesadaran manusia hanyalah hasil dari fenomena ragawi. Dia tidak berminat pada pengungkapan rahasia-rahasia terdalam dari jurang kematian. Aku tidak menentang teorinya, tapi aku masih memiliki sisa-sisa keyakinan primitif dari para moyangku, jadi aku tidak bisa menahan antusiasmeku saat memerhatikan mayat tersebut. Lagipula, aku masih belum melupakan jeritan mengerikan dari mayat hidup hasil eksperimen pertama kami di rumah pertanian kosong di Arkham.

Beberapa saat kemudian, aku mulai melihat tanda-tanda keberhasilan. Semburat warna mulai muncul di pipi mayat yang mulanya seputih kapur, dan menyebar ke bawah janggut warna pasirnya. West, yang sedari tadi menempelkan dua jari ke nadi lengan kiri mayat, mendadak mengangguk, dan detik itu juga, kami melihat kabut di permukaan cermin yang dipasang tepat di atas mulut mayat, diikuti beberapa gerakan mirip kejang otot kecil, dan akhirnya suara napas pelan serta gerakan lembut dada yang naik-turun. Aku melihat kelopak matanya, yang sepertinya bergetar. Kelopak mata itu akhirnya membuka, menunjukkan sepasang mata kelabu yang tenang namun jelas nampak hidup, walaupun tak nampak cerdas atau ingin tahu.

Terpengaruh dorongan hati, aku membungkuk dan membisikkan pertanyaan ke telinganya, pertanyaan tentang kenangan akan alam baka yang mungkin masih ada di benaknya. Perasaan takut yang tak bisa dijelaskan menjalar, tapi aku berhasil mengulangi lagi pertanyaanku dengan gugup: "Kau dari mana?"

Tak ada suara yang keluar dari mulut berbentuk bagus itu, tapi aku melihat permukaan bibir orang itu bergerak tanpa suara, kelihatannya membentuk kata-kata "hanya sekarang," yang bisa diartikan apa saja. Aku merasa sangat bersemangat ketika menyadari bahwa satu tujuan besar kami sudah tercapai: untuk pertama kalinya, mayat yang kami hidupkan mampu mengeluarkan kata-kata jelas dan berdasarkan nalar. Kami tak meragukan kemenangan kami; larutan itu berhasil mengembalikan daya hidup rasional pada mayat, paling tidak untuk sementara. Dalam kemenangan sesaat itu, horor terbesar menghampiri--bukan dari mayat yang berbicara, melainkan karena tindakan temanku ini, yang dengannya aku telah bekerjasama secara profesional.

Karena dari tubuh yang nampak segar itu, yang menggeliat dengan kesadaran mengerikan saat matanya membesar ketika mengingat saat-saat terakhirnya, yang mengangkat kedua tangannya dengan panik dalam perjuangan keras untuk menarik napas sebelum ambruk dan tak bangkit kembali, keluarlah ratapan keras yang akan bergaung selamanya di benakku:

"Tolong! Menjauhlah, kau bajingan pucat kecil--jauhkan jarum itu dariku!"

Bersambung

Baca bagian selanjutnya di sini.

Minggu, 19 Juni 2016

World War Z: Bab III: Kepanikan Besar (part 7)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Denver, Colorado, Amerika Serikat

(Kereta apiku terlambat dari jadwal. Jembatan tarik di wilayah barat rupanya sedang dites. Todd Wainio tidak keberatan menungguku di stasiun. Kami berjabat tangan di bawah Victory, mural besar di dinding stasiun, salah satu karya paling terkenal yang menggambarkan Amerika pada masa Perang Dunia Z. Terinspirasi dari sebuah foto terkenal, mural itu menggambarkan sekelompok prajurit berdiri di sisi New Jersey dari Sungai Hudson, dengan punggung menghadap ke arah kami saat mereka menyaksikan matahari terbenam di atas Manhattan. Todd nampak kurus dan rapuh di samping sosok-sosok dua dimensi tersebut. Layaknya pria-pria generasinya, dia nampak menua terlalu cepat. Dengan perutnya yang membuncit, rambutnya yang kelabu dan menipis, serta tiga garis bekas luka di pipi kanannya, sulit menduga bahwa mantan prajurit infantri Amerika ini baru berada di usia puncaknya.)

Langit terlihat merah hari itu. Asap dimana-mana, memenuhi udara sepanjang musim panas, membuat segalanya berwarna kuning kemerahan, seolah kami memandang dunia dari balik lensa neraka. Itulah pertama kalinya aku melihat Yonkers, area kecil lusuh di sebelah utara New York. Aku tidak yakin orang-orang pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi sekarang, Yonkers dikenang seperti Pearl Harbor...bukan, bukan, Pearl Harbor itu serangan mendadak. Lebih seperti Little Bighorn, sebenarnya. Kami, atau setidaknya atasan kami, tahu apa yang akan terjadi. Intinya, yah, itu bukan serangan mendadak. Bukan keadaan darurat. Kami sudah siap perang, sejak tiga bulan sebelum panik besar-besaran terjadi.

Kau mungkin masih ingat yang terjadi waktu itu. Semua orang menggila. Mereka membarikade rumah, menjarah makanan, senjata, menembak semua yang bergerak. Mungkin lebih banyak orang biasa yang mati daripada Zack (zombie), gara-gara para Rambo dadakan, tembakan nyasar, kecelakaan lalu lintas...pokoknya semua kegilaan itu yang sekarang kita sebut Kepanikan Besar.

Aku paham kenapa orang-orang pemerintah berpikir perang besar-besaran adalah ide bagus. Mereka mau menunjukkan ke masyarakat bahwa mereka masih pegang kuasa; menenangkan semua orang sebelum mengurus masalah sebenarnya. Mereka butuh alat propaganda, jadi kami pun dikirim ke Yonkers.

Sebenarnya itu bukan tempat  yang buruk untuk dijadikan pusat pertahanan. Sebagian kota itu berada di lembah mungil, dan Sungai Hudson ada di sebelah barat bukit. Jalur tol Saw Mill River membentang tepat di tengah jalur pertahanan kami, dan para pengungsi yang melewati jalur itu akan membuat gerombolan zombie langsung mengarah ke kami, menjadikannya titik serangan yang ideal. Gagasan yang cemerlang...dan mungkin satu-satunya ide bagus di hari itu.

(Todd merogoh sebatang "Q," rokok buatan tangan yang dinamai demikian karena kandungan tembakaunya hanya seperempat/a quarter.)

Kenapa mereka tidak menempatkan kami di atap-atap gedung? Di sana ada pusat perbelanjaan, beberapa garasi, bangunan-bangunan besar dengan atap datar yang bagus. Mereka bisa tempatkan seluruh pasukan di atas mall A&P. Kami bisa melihat seluruh lembah, dan kami jelas akan lebih aman. Aku ingat ada gedung apartemen, tingginya sekitar dua puluh lantai. Setiap lantai pasti punya jarak pandang luas ke arah lembah. Kenapa tidak ada penembak jitu di sana?

Tahukah kau dimana mereka menempatkan kami? Di atas tanah, di belakang karung-karung pasir. Kami menghabiskan banyak waktu dan tenaga menyusun berbagai posisi menembak yang rumit. "Untuk perlindungan dan penyamaran," mereka bilang. Apanya. Perlindungan di sini berarti perlindungan fisik konvensional, dirancang untuk menghadapi pasukan kecil, artileri, hingga serangan udara. Coba, apa itu kedengarannya seperti zombie? Memangnya zombie bisa melancarkan serangan udara dan menembakkan senapan? Dan mengapa harus repot memikirkan soal penyamaran kalau tujuannya dari awal adalah memancing zombie ke arah kami? Semuanya terbolak-balik!

Aku yakin yang bertanggung jawab untuk operasi itu adalah kunyuk sombong yang dulu pernah latihan bertahun-tahun untuk dicemplungkan ke Jerman Barat. Bajingan kolot yang mungkin sudah muak setelah bertahun-tahun hanya terlibat dalam konflik kecil. Ya, pasti. Semua perintahnya berbau pertahanan zaman Perang Dingin. Mereka bahkan mau menggali lubang untuk tank, kau tahu? Para insinyur meledakkan lapangan parkir A&P untuk membuat lubang-lubang itu.

Kalian punya tank?

Bung, kami punya semua: tank, Bradley, Humvee, semua dilengkapi senjata mulai dari kaliber lima puluh sampai mortar Vasilek baru. Okelah, itu lumayan berguna. Kami punya Avenger Humvee yang dimuati rudal udara Stinger, kami punya sistem jembatan portabel APLB, cocok untuk menyeberangi parit sedalam tiga inci yang membentang sepanjang jalan tol. Kami punya setumpuk mesin perang XM5, lengkap dengan radar dan alat pengacau sinyal, dan...dan...oh ya, kami juga punya kloset FOL, Family of Latrines, dijejerkan begitu saja di tengah-tengah semuanya. Padahal air di daerah itu masih mengalir, dan kloset di setiap bangunan di tempat itu masih berfungsi. Banyak sekali yang mubazir! Semua barang itu hanya pajangan mengganggu. Kupikir itulah fungsi mereka sebenarnya. Sebagai pajangan.

Untuk media.

Oh, jelas, ada dua atau tiga reporter membuntuti setiap prajurit! Mereka jalan kaki, naik mobil...aku sudah tak bisa menghitung berapa banyak helikopter berita yang terbang di atas kami... Padahal dengan helikopter sebanyak itu, mereka mungkin bisa pakai beberapa untuk selamatkan penduduk Manhattan. Ya. Kami pamer untuk pers. Coba lihat semua mesin perang hijau kami! Cokelat, sebenarnya. Banyak dari mereka yang dulu dipakai dalam misi gurun, dan belum sempat dicat ulang. Bukan hanya senjata yang dipamerkan, tapi kami juga. Bayangkan, bung, mereka suruh kami berpose dengan MOPP 4, baju perlindungan super berat dan topeng gas untuk melindungi dari efek radioaktif atau senjata biokimia.

Apakah atasanmu percaya kalu virusnya bisa menyebar lewat udara?

Kalau itu benar, mengapa para reporter tidak diberi perlindungan? Mengapa para atasan kami tidak mengenakannya? Mereka semua memakai seragam biasa yang nyaman, sementara kami semua keringatan di bawah berlapis-lapis karet, arang, dan baju perlindungan berat. Orang jenius macam apa yang menyuruh kami pakai begituan? Apa karena wartawan memarahi mereka habis-habisan karena kurang berusaha dalam perang terakhir? Memangnya siapa yang perlu helm kalau kau harus melawan mayat hidup? Mereka itu yang perlu helm, bukan kami!

Ada juga Net Rigs, sistem integrasi pertempuran Land Warrior. Itu semacam baju komunikasi elektronik yang menghubungkan kami dengan satu sama lain dan juga atasan kami. Kau bisa mengunduh peta, data GPS, dan data satelit terbaru lewat alat di matamu. Kau bisa mengetahui posisimu, posisi temanmu dan musuhmu di medan perang...kau bahkan bisa melihat lewat video kamera yang dipasang di moncong senjatamu, untuk melihat apa yang ada di balik semak-semak ata sudut tak terlihat dengan lebih baik. Land Warrior membuat setiap prajurit bisa mendapat informasi dari semua pusat komando, dan pusat komando juga mampu mengendalikan mereka sebagai satu kesatuan. "Netrosentris," begitulah kata atasanku di depan pers. "Netrosentis" dan "hyperwar."

Kedengarannya keren, tapi semuanya jadi omong-kosong ketika kau repot berjuang menggali lubang pertahanan sambil memakai MOPP, baju pelindung dan Land Warrior, ditambah lagi dengan bawaan standar kami. Semuanya dilakukan di hari tergerah di musim terpanas yang pernah dicatat! Aku sendiri heran kenapa aku masih sanggup berdiri ketika para Zack mulai muncul. Mulanya cuma sedikit; satu-dua zombie melangkah tersaruk-saruk di sela-sela mobil-mobil yang ditinggalkan di tengah jalan tol. Tapi paling tidak semua orang sudah dievakuasi. Mereka bertindak benar untuk yang satu itu; memilih lokasi bertempur yang tepat dan mengevakuasi semua orang. Tapi yang lainnya....

Para Zack mulai memasuki zona tembak pertama, yang dijadikan sasaran roket MLRS. Aku tidak dengar suaranya; pelindung kepalaku menghalanginya. Tapi aku bisa melihat roket itu meluncur ke sasaran, menukik, dan selongsongnya pecah lalu menyemburkan bom-bom kecil. Ukuran mereka sebesar granat tangan; senjata antipersonel yang lumayan bisa merusak kendaraan lapis baja. Setelah berhamburan di sekitar zombie dan mobil-mobil di jalan, mereka langsung meledak. Tangki bensin mobil ikut meledak seperti gunung berapi kecil, menimbulkan hujan api dan serpihan besi. Jujur saja, pemandangan itu bikin kami semangat, semua orang bersorak-sorai lewat mik ketika melihat zombie-zombie berjatuhan. Ada sekitar tiga puluh, empat puluh, atau lima puluh zombie yang hancur di sepanjang setengah mil jalan tol itu. Serbuan awal itu membunuh sekitar tiga-perempat dari mereka.

Hanya tiga-perempat?

(Todd menghisap sisa rokoknya dan menghembuskan asapnya dengan marah. Tangannya segera meraih sebatang lagi.)

Ya, dan kami seharusnya kuatir. 'Hujan besi' itu menghantam setiap zombie, mencabik jeroan mereka. Otot dan daging dan organ tubuh berjatuhan dari badan mereka ke jalan, dan mereka masih berjalan mendekati kami. Tembakan di kepala...kami harus menghancurkan otak mereka, bukan badan. Selama mereka masih punya otak dan bisa bergerak maju...beberapa masih berjalan, yang lainnya merangkak karena sudah tak bisa berdiri. Kami harusnya khawatir, tapi kami sudah tak punya waktu.

Lama-lama para zombie itu jadi banyak. Lusinan berjejal-jejal di antara puing-puing mobil. Lucu juga, kalau dipikir-pikir. Kau selalu mengira kalau zombie akan menyerang memakai pakaian hari Minggu terbaik mereka. Begitulah media memberitakan mereka, terutama di awal-awal wabah. Zombie menyerang memakai jas dan gaun, pokoknya seperti banyak orang di Amerika, tapi sudah mati. Zombie yang kami lihat sama sekali tidak seperti itu. Kebanyakan yang terinfeksi pertama kali biasanya mati ketika dirawat di rumah sakit. Banyak yang masih pakai baju rumah sakit, piyama atau baju tidur. Beberapa bahkan cuma pakai baju dalam...atau malah telanjang. Kau bisa lihat luka-luka mereka, bekas luka kering, dan lubang-lubang di tubuh yang membuatmu merinding bahkan di balik baju pelindung yang panas.

'Hujan besi' kedua efeknya tidak sehebat yang pertama. Sudah tidak ada lagi mobil dengan tangki bensin utuh yang bisa dimanfaatkan, dan kerumunan zombie yang semakin padat seolah saling melindungi dari tembakan di kepala. Aku tidak takut. Belum. Aku yakin mereka akan bisa dibunuh begitu memasuki zona pertempuran kami.

Aku tidak dengar ketika roket Paladin diluncurkan, letaknya terlalu jauh di atas bukit, tapi aku melihatnya menghantam sasaran. Roket-roket itu memakai HE 155 sebagai intinya; bahan peledak standar dengan serpihan-serpihan kecil di dalamnya. Tapi mereka bahkan tidak menghancurkan seefektif roket yang pertama.

Kenapa begitu?

Tidak ada efek balon. Begini, ketika ada bom meledak di dekatmu, seluruh cairan tubuhmu ikut meletus, seperti balon. Zombie tidak mengalami itu, mungkin karena cairan tubuhnya lebih sedikit dan lebih mirip gel. Entahlah. Pokoknya efek balon tidak mempan, begitu juga dengan SNT.

Apa itu SNT?

Sudden Nerve Trauma. Trauma Syaraf Seketika. Itu efek lain yang terjadi ketika ada bom meledak dari jarak dekat. Traumanya begitu hebat sampai-sampai organ-organ tubuh dan otakmu berhenti bekerja, begitu saja, seolah Tuhan mematikan saklarmu. Pokoknya karena semacam impuls elektronik atau apalah. Aku tidak tahu. Aku bukan dokter.

Dan itu tidak terjadi.

Tidak sama sekali! Jangan salah paham, itu bukan berarti zombie-zombie tidak babak belur. Kami melihat tubuh-tubuh meledak, terlempar ke udara, terkoyak-koyak. Kepala utuh dengan rahang dan mata masih bergerak-gerak terlontar ke udara seperti gabus penutup botol sampanye Cristal. Kami membabat mereka, tapi tidak secepat yang kami butuhkan! Aliran zombie semakin deras; barisan sosok-sosok yang berjalan, mengerang, menginjak-injak teman-teman mereka, bergerak lambat tapi pasti ke arah kami.

Zombie mulai memasuki zona tembak kedua, dan seketika menjadi sasaran langsung senjata-senjata berat, tank dan Bradley dengan senapan mesin dan misil FOTT. Mobil-mobil Humvee mulai meluncurkan mortar, misil, dan mengeluarkan Mark 19. Itu seperti senapan mesin, tapi menembakkan granat. Beberapa helikopter Comanche berdengung di atas seolah cuma beberapa inci dari kepala kami, meluncurkan Hellfire dan roket Hydra. Suasananya seperti di dalam mesin pembuat sosis atau penghancur kayu. Serpih-serpih organik dari tubuh-tubuh zombie beterbangan seperti serbuk gergaji. Tak akan ada yang selamat dari ini, begitu pikirku. Kelihatannya memang begitu, sampai semua serangan akhirnya berhenti.

Berhenti?

Ya, berhenti.

(Todd terdiam sesaat, dan kemudian, matanya menyorot penuh kemarahan.)

Tak ada seorangpun yang menduga itu! Jangan kasih aku alasan pemotongan anggaran atau kekurangan pasokan atau semacamnya! Kalau ada yang pasokannya kurang, itu adalah akal sehat! Tak ada seorangpun di antara bajingan bintang empat lulusan West Point itu yang tanya: "Hei, kita punya banyak senjata keren, tapi apa amunisinya cukup?" Tidak ada yang memikirkan soal berapa banyak amunisi yang dibutuhkan artileri untuk operasi berkelanjutan, atau berapa banyak roket tersedia untuk tank... Tank-tank kami menembakkan bola-bola tungsten kecil. Itu pemborosan, sebenarnya, seratusan bola tungsten hanya untuk menghabisi satu zombie. Tapi setidaknya berguna! Setiap tank Abrams kami cuma punya tiga roket! Tiga, padahal muatannya empat puluh! Kau tahu Peluru Perak? Roket uranium yang bisa menembus kendaraan lapis baja? Mereka tak ada gunanya melawan zombie! Tahu tidak bagaimana rasanya melihat tank seberat enam puluh ton menembakkan roket canggih ke tengah kerumumam zombie, namun tanpa hasil?

Bagaimana dengan flechette? Di mana mereka? Itu senjata yang sering disebut-sebut belakangan ini; semacam proyektil logam yang bisa meledak dan menjadi senjata serpih. Semua orang pikir itu penemuan baru, padahal sebenarnya kami sudah punya itu dari zaman Perang Korea. Itu bisa dipasang di roket Hydra atau Mark 19. Coba bayangkan kalau satu M 19 menembakkan 350 ronde per menit, dan satu ronde menembakkan 100 proyektil logam. Mungkin itu bisa mengubah keadaan, tapi...sialan!

Amunisi kami habis, dan zombie terus berdatangan. Kami bisa merasakan ketakutan mengapung di udara, di dalam suara pemimpin skuadron, di antara para prajurit...kau tahu, seperti ada suara yang bergaung di kepalamu, yang terus-menerus bilang oh, sialan, sialan, sialan. Padahal kami para prajurit sebenarnya cuma pertahanan terakhir. Tugas kami hanya membereskan sisa-sisa zombie yang mungkin masih belum hancur oleh senjata-senjata berat. Mungkin hanya satu dari tiga di antara kami yang akan menembakkan senjata.

Ribuan zombie berdatangan ke arah kami, membanjir melewati jalan tol, pagar pembatas, di antara bangunan-bangunan. Mereka banyak sekali, dan erangan mereka menembus pelindung kepala kami. Kami melepas pengaman, mengunci target, dan perintah menembak datang. Aku memegang SAW, senapan mesin ringan yang menembak dalam rentetan panjang terkontrol. Tapi tembakanku yang pertama terlalu rendah. Peluruku menghantam satu zombie di dada. Aku melihatnya terpelanting menghantam aspal, lalu bangkit lagi seolah tidak terjadi apa-apa. Ya ampun, bung, kalau kau melihatnya...

(Rokok Todd membakar jarinya, tapi Todd menjatuhkan dan menginjaknya tanpa menoleh.)

Aku berusaha keras mengendalikan bidikanku. Pikiranku juga. "Bidik saja kepalanya," ujarku pada diriku terus-menerus. "Jangan pikir macam-macam, kendalikan saja dirimu dan bidik kepalanya." Senapanku memberondong mereka, suaranya seolah berteriak berulang-ulang mati, bajingan, mati. Kami harusnya bisa mengentikan mereka; maksudku, hanya itu yang kau butuhkan, 'kan? Prajurit dengan senapan. Prajurit profesional, penembak terlatih.

"Jadi kenapa mereka mereka masih bisa tembus?"

Itulah yang ditanyakan para kritikus dan atasan kami yang tak ada di sana, sampai sekarang. Pikirmu semudah itu? Pikirmu setelah berlatih menembak sasaran sepanjang karir militer kami, kami tak pernah meleset? Apa kau kira mudah mengganti magasin atau mengokang senapan dalam baju pelindung yang mencekik itu? Pikirmu setelah melihat semua senjata canggih itu gagal bekerja, dan setelah melihat Kepanikan Besar serta semua realita yang kau pahami habis dilahap oleh musuh-musuh yang seharusnya tak ada di sana, kau bisa tetap berkepala dingin dan menembak dengan mantap?

(Todd menikamkan jari telunjuknya ke arahku.)

Ya! Kami masih berhasil melakukan tugas kami dan memberi para Zack balasan setimpal! Mungkin kalau kami punya lebih banyak prajurit, lebih banyak amunisi, lebih banyak fokus untuk melakukan tugas kami....

(Jari-jemarinya membentuk kepalan tinju.)

Land Warrior. Itulah sebabnya. Land Warrior sialan yang mahal dan canggih itu. Sudah cukup buruk melihat apa yang ada di depanmu, tapi informasi yang dideteksi dari atas juga menunjukkan betapa besarnya gerombolan yang kami hadapi. Kami mungkin menghadapi ribuan zombie, tapi ada jutaan lagi di belakang mereka. Ingat, kami saat itu menghadapi gerombolan dari seluruh New York! Tapi mereka seperti kepala ular yang badannya sangat panjang, membentang sampai ke Times Square! Kami tidak perlu melihat itu! Aku tak perlu melihat itu!

Suara ketakutan kecil dalam kepala kami pun tak lagi kecil. Oh sialan, sialan, sialan. Dan tiba-tiba, suara-suara itu tak lagi ada di dalam kepalaku. Aku mulai mendengarnya juga di telingaku. Setiap kali ada temanku yang tak bisa tutup mulut, Land Warrior membuat kami semua ikut mendengar suaranya. "Mereka terlalu banyak!" Atau "Kita harus pergi dari sini!" Ada seseorang dari peleton lain, aku tidak tahu namanya, menjerit, "Aku tembak dia di kepala tapi dia tidak mati! Mereka tidak mati kalau ditembak di kepala!" Aku yakin dia pasti meleset, tembakannya tidak kena otak. Mungkin hanya menggores bagian dalam tengkorak sedikit. Itu sering terjadi. Mungkin kalau dia tenang dan pakai otak sedikit, dia akan menyadarinya. Rasa takut menular lebih cepat daripada virus zombie, dan Land Warrior yang canggih itu membuatnya semakin parah. "Apa?" "Mereka tidak mati?" "Siapa yang bilang begitu?" "Kau tembak dia di kepala?" "Astaga!" "Mereka kebal!" Suara-suara itu terdengar di semua jaringan komunikasi.

"Semuanya diam!" Mendadak terdengar perintah. "Tetap di tempat kalian!" Aku mendengar suara yang kedengarannya lebih tua, berpengalaman. Tapi, suaranya mendadak tenggelam oleh teriakan, dan lewat alat di mata kami, kami bisa melihat darah muncrat ke dalam mulut kelabu dengan gigi-geligi rusak. Orang itu tadinya ada di halaman salah satu rumah dekat jalan. Pemilik rumah itu mungkin mengunci beberapa anggota keluarganya yang terinfeksi sebelum meninggalkan rumahnya. Mungkin ledakan-ledakan sebelumnya membuat pintu rumah itu rapuh, karena mereka mendadak menerobos keluar dan menerjang pria malang itu. Kamera di senapannya merekam segalanya lewat sudut yang sangat tepat. Ada lima zombie; satu pria, satu wanita, dan tiga anak kecil. Semuanya menindihnya di halaman. Si zombie pria menahan dadanya, ketiga anak itu menahan lengan-lengannya, dan si wanita mencoba menggigit menembus pelindung wajahnya. Wanita itu akhirnya berhasil merobeknya, dan aku tak bisa melupakan teror di mata pria malang itu ketika si wanita menunduk dan mengoyak lepas dagu serta bibir bawahnya.

"Mereka di belakang kami!" Seseorang berseru lagi. "Mereka ada di setiap rumah! Pertahanan kita tembus!" Tiba-tiba semuanya jadi gelap, dan hubungan terputus dari luar. Aku mendengar lagi suara pria yang lebih tua itu, "...semuanya mundur..." Dia berusaha keras mengontrol suaranya, sebelum jaringan komunikasinya juga terputus.

Kupikir cuma ada jeda beberapa detik, lalu setelah komunikasi terputus, tiba-tiba saja pesawat penyerang gabungan mendesing di atas kami. Aku tidak melihat mereka meluncurkan senjata. Aku sedang berlindung di dalam lubangku, mengutuk semua orang dan diriku sendiri karena tidak menggali lubang lebih dalam. Mendadak tanah bergetar dan langit jadi gelap. Serpihan tanah, debu dan abu melayang dimana-mana. Ada sesuatu yang menghantam punggungku, di antara kedua tulang bahuku. Rasanya empuk dan berat. Ketika aku berguling, ternyata itu kepala dan sepotong badan, nampak gosong terbakar tapi masih berusaha menggigitku! Aku langsung menendangnya menjauh dan buru-buru keluar dari lubang perlindunganku, tepat saat serangan kedua dilepaskan.

Aku melihat gumpalan asap hitam membubung dari tempat para gerombolan itu tadinya berada. Jalan tol, rumah-rumah, semuanya tertutup kabut. Aku melihat teman-temanku keluar dari lubang perlindungan, melongok keluar dari tank dan Bradley mereka, semuanya menatap ke arah yang sama. Ada keheningan yang terasa seolah berjam-jam.

Kemudian mereka datang, muncul dari balik asap, seperti mimpi buruk semua bocah. Beberapa tubuhnya berasap, yang lain bahkan masih terbakar...beberapa berjalan, beberapa merangkak, dan ada yang menyeret dirinya di jalan dengan isi perut terburai. Mungkin satu di antara dua puluh masih bisa berjalan, yang berarti masih ada beberapa ribu. Dan di belakang mereka, masih ada barisan jutaan zombie yang tak tersentuh serangan udara!

Pertahanan kami  jebol. Aku tak ingat semua detilnya, hanya sekilas: orang-orang berlari, menjerit, reporter berlarian. Aku ingat seorang reporter berkumis tebal ala Yosemite Sam mencoba menarik pistol Beretta dari rompinya sebelum tiga zombie terbakar menjatuhkannya. Aku ingat seorang pria membuka paksa sebuah mobil stasiun TV, melempar keluar reporter pirang cantik, dan mencoba melarikan mobil itu, sebelum sebuah tank menggilas mereka. Dua helikopter berita bertabrakan di udara, menghujani kami dengan serpihan. Ada satu pilot helikopter Comanche yang pemberani mencoba membabat zombie dengan baling-balingnya, sampai baling-balingnya tersangkut di mobil dan membuatnya melayang menghantam gedung A&P. Ada yang menembak gila-gilaan...aku terhantam di dadaku, tepat di tengah perisai baju pelindungku. Rasanya seperti menghantam tembok, padahal aku berdiri diam. Aku terpental, napasku sesak, dan tiba-tiba saja, ada idiot yang menyalakan bom cahaya di depanku.

Duniaku rasanya jadi putih. Telingaku berdenging. Aku membeku ketika lengan-lengan mencengkeramku, meraih lenganku. Aku menendang dan meninju, dan rasanya aku ngompol di celana. Aku menjerit-jerit, tapi aku tak dengar suaraku sendiri. Ada lebih banyak tangan mencengkeramku. Aku menendang, meronta, mengutuk, menangis...dan tiba-tiba, rahangku ditinju. Aku tidak pingsan, tapi aku seketika rileks. Mereka teman-temanku, bukan zombie. Zombie tidak memukul. Teman-temanku membawaku ke tank Bradley terdekat, dan pandanganku sedikit jernih, cukup untuk melihat dunia luar yang menghilang ketika pintu tank ditutup.

(Dia hendak meraih sebatang rokok lagi, lalu mengurungkan niatnya.)

Aku tahu "sejarawan profesional" menganggap apa yang terjadi di Yonkers sebagai "kegagalan besar dalam dunia militer," bukti bahwa militer selalu menyempurnakan teknik bertempur yang cocok untuk perang terakhir tapi tidak untuk perang selanjutnya. Buatku, itu omong kosong besar. Memang benar kami tidak siap; latihan kami, senjata canggih, semua gagal total. Tapi apa yang membuat kami gagal bukan masalah persenjataan; itu adalah hal yang sama tuanya dengan sejarah perang itu sendiri.

Rasa takut. Ya. Itu adalah rasa takut. Kau tidak perlu jadi Sun Tzu untuk mengerti bahwa perang itu bukan soal membunuh semua lawan, tapi cukup menakuti mereka agar perang bisa cepat selesai. Patahkan semangat mereka. Itulah yang dilakukan semua pasukan terhebat. Mulai dari cat perang di wajah, blitzkrieg, dan...apa itu namanya yang kita lakukan di Perang Teluk Pertama? Kejutkan dan Kagetkan? Ya, itu dia. Tapi bagaimana kalau musuhmu tak bisa dikejutkan atau dikagetkan? Bukannya tidak mau, tapi secara biologis memang tidak bisa! Itulah yang terjadi di New York hari itu, yang membuat kita hampir kalah. Fakta bahwa kami tidak bisa menakuti zombie, dan malah membiarkan mereka menakuti kami! Mereka tidak takut! Berapapun yang kami bunuh, mereka tidak pernah takut!

Yonkers harusnya jadi saat ketika kami memberi harapan pada rakyat Amerika, tapi kami malah bisa dibilang mengucapkan selamat tinggal pada mereka. Kalau bukan karena Rencana Afrika Selatan, kita semua pasti sudah mengerang juga.

Hal terakhir yang kuingat adalah Bradley kami terpelanting seperti mobil mainan. Aku tak tahu darimana sumber ledakannya, tapi pasti dekat. Seandainya aku masih berdiri di luar sana, aku pasti tak akan ada di sini sekarang. Apakah kau pernah melihat efek senjata termobarik? Apa kau pernah tanya orang-orang berpangkat itu? Aku yakin kau tak pernah dapat informasi detail. Kau mungkin akan dengar soal panas dan tekanan tinggi, bola api yang terus membesar, meledak, dan meremuk serta membakar apapun yang ada di sekitarnya. Kedengarannya sudah cukup mengerikan, bukan?

Yang tak kau dengar adalah efek setelah ledakannya, ketika bola api itu mendadak mengerut dan menciptakan ruang hampa. Siapa saja yang masih hidup setelah ledakan akan mendapati seluruh udara terhisap keluar dari paru-paru mereka, atau paru-paru mereka tersedot keluar lewat mulut. Tak ada seorangpun yang akan hidup untuk menceritakan hal itu. Itulah sebabnya mudah bagi Pentagon untuk menutup-nutupinya, tapi seandainya kau bertemu dengan zombie yang berjalan dengan paru-paru menggelantung di luar mulutnya, beri dia nomor teleponku. Senang bisa bicara dengan sesama veteran Yonkers.

Baca bab selanjutnya di sini.

Minggu, 15 Mei 2016

Herbert West - Reanimator (part 3)

Penulis: H. P. Lovecraft

Catatan: lanjutan dari 6 seri serial pendek horor yang berkisah tentang Herbert West, ilmuwan yang terobsesi menghidupkan orang mati. Kisah ini dibawakan lewat narasi napak tilas sahabat Herbert West sejak mereka masih mahasiswa sekolah kedokteran. Baca bagian sebelumnya di sini.




Tidak wajar bagi seseorang untuk menembakkan keenam peluru dari pistol revolver walaupun satu sebenarnya sudah cukup, tapi banyak hal dalam kehidupan Herbert West yang tidak wajar. Contohnya, jarang sekali ada dokter muda yang menutup-nutupi lokasi kediaman dan tempat kerjanya selepas kuliah, tapi itulah yang dilakukan Herbert West. Setelah dia dan aku memeroleh gelar kami dari fakultas kedokteran Universitas Miskatonic, dan hendak keluar dari kemiskinan dengan membuka praktik, kami sengaja tidak bilang pada semua orang mengapa kediaman kami begitu terpencil dan sangat dekat dengan pemakaman desa.

Jarang ada orang yang mengambil keputusan seperti itu tanpa alasan, dan begitu juga kami, karena alasan kami yang sebenarnya sangat tidak terpuji. Kami terlihat seperti dokter, namun di balik topeng terhormat itu, kami mengincar tujuan yang jauh lebih hebat sekaligus mengerikan--keberadaan Herbert West sepenuhnya bertumpu pada misi terlarang, dimana dia berharap bisa menguak rahasia kehidupan dan menghidupkan kembali mayat yang sudah mendingin. Misi seperti itu memerlukan bahan yang tak biasa, yaitu mayat manusia. Agar bisa tetap mendapat suplai berharga ini, kami harus hidup di tempat terpencil dan jauh dari mata publik.

West dan aku bertemu di kampus, dan aku adalah satu-satunya yang mendukung eksperimennya yang mengerikan. Aku menjadi asistennya yang berharga, dan sekarang setelah kami lulus, kami tetap bersama-sama. Tidak mudah menemukan lowongan kerja untuk dua dokter sekaligus, namun nama universitas kami yang berpengaruh memberi kami kesempatan kerja di Bolton, sebuah kota industri di dekat Arkham, lokasi kampus kami. Pabrik Penggilingan Bolton Worsted adalah yang terbesar di Miskatonic Valley, dan buruh mereka yang kebanyakan kaum imigran bukan tipe pasien yang digemari di kalangan dokter lokal. Kami mencari rumah dengan sangat berhati-hati, dan akhirnya memilih sebuah wisma bobrok di ujung Jalan Pond. Wisma itu terpisah sejauh jarak lima rumah dari tetangga terdekat kami,. Sebuah padang rumput memisahkan wisma kami dari pemakaman terdekat, yang di tengahnya membentang sebuah hutan lebat. Jaraknya agak terlalu jauh dari yang kami harapkan, dan kami tak bisa mendapat lokasi yang lebih dekat lagi. Tapi kami cukup puas, karena tidak ada orang lain yang tinggal di dekat situ. Jalannya mungkin agak jauh, tapi kami bebas mengangkut spesimen tanpa diganggu.

Praktik kami ternyata langsung ramai sejak hari pertama--cukup ramai untuk menyenangkan hati kebanyakan dokter muda, namun melelahkan bagi dua dokter  yang minatnya terletak pada hal lain. Para buruh itu cenderung gampang panas; berbagai perkelahian dan bahkan kasus-kasus penikaman membuat kami sangat sibuk. Akan tetapi, yang paling menyita perhatian kami adalah laboratorium rahasia yang kami buat di kamar langit-langit. Laboratorium dengan meja panjang dan lampu listrik, tempat dimana kami menghabiskan dini hari menyuntikkan cairan buatan West ke dalam urat nadi spesimen yang kami angkut dari pemakaman.

West telah bereksperimen gila-gilaan untuk menemukan formula yang akan menggerakkan kembali proses vital tubuh manusia setelah kematian terjadi, namun dia menghadapi halangan besar. Cairan buatannya harus dibuat secara berbeda untuk disuntikkan ke spesies berbeda. Apa yang berhasil untuk marmut tak akan berhasil untuk manusia, dan ramuan untuk spesimen manusia yang berbeda juga membutuhkan modifikasi. Tubuh spesimen juga harus segar, karena sedikit saja pembusukan jaringan akan membuat semuanya gagal. Masalah terbesar adalah mendapat mayat dalam keadaan yang paling sega; West sudah mengalami kejadian mengerikan selama masa-masa eksperimen rahasianya saat masih kuliah, karena mayat yang dia peroleh sudah terlalu busuk. Hasilnya adalah mayat yang hidup kembali secara mengerikan, dan kami masih mengenang kejadian itu dengan ngeri. Setelah eksperimen yang berakhir bencana di rumah pertanian kosong di Bukit Meadow, kami terus merasakan sensasi mengerikan ini. Walaupun West nampak tenang dalam naluri ilmuwannya, dia sering mengaku bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama. Dia selalu merasa bahwa dirinya diikuti--sebuah delusi psikologis dari syaraf yang terguncang, dan diperparah dengan fakta bahwa salah satu spesimen kami yang hidup kembali kini menjadi makhluk ganas yang terkurung di sel berdinding empuk di rumah sakit jiwa Sefton. Satunya lagi--eksperimen pertama kami--tak diketahui nasibnya.

Kami cukup beruntung dengan pencarian spesimen di Bolton. Kami bahkan belum seminggu tinggal di sana ketika kami mendapat mayat korban kecelakaan yang baru dikubur. Kami berhasil membuatnya membuka mata, yang menyorot dengan tatapan tenang, sebelum cairan West berhenti bekerja. Mayat itu kehilangan sebelah lengannya. Kalau saja tubuhnya masih sempurna, kami mungkin bisa sukses. Kami berhasil mendapat tiga lagi sebelum bulan Januari; satu gagal total, satu menunjukkan sedikit aktifitas otot, dan satu lagi bangkit serta mengeluarkan suara tidak jelas. Kami kurang beruntung selama minggu-minggu berikutnyaa; tidak banyak orang yang meninggal, dan mereka yang meninggal tubuhnya terlalu berpenyakit dan organnya terlalu rusak untuk bisa digunakan. Kami pun terus mencatat semua berita kematian dan penyebabnya secara sistematis.

Pada suatu malam di bulan Maret, kami secara tak terduga berhasil mendapat spesimen segar yang tidak berasal dari pemakaman. Di Bolton, ajaran Puritan telah membuat olahraga tinju dilarang, namun dengan hasil yang sudah bisa diduga. Pertandingan tinju ilegal kerap dilakukan oleh para buruh pabrik penggilingan, dan sesekali, ada petarung yang bisa dibilang profesional tingkat rendah. Malam itu, ada pertarungan hebat, namun nampaknya berakhir bencana, karena kami kedatangan dua pria Polandia bertampang ketakutan, yang meracau kurang jelas dan meminta kami untuk datang dengan diam-diam. Kami mengikuti keduanya ke sebuah gudang kosong, dimana sekelompok petarung asing memerhatikan sosok hitam yang terbaring tak bergerak di lantai.

Pertarungan itu antara Kid O'Brien -- pemuda gemuk besar berhidung bengkok yang saat itu mengkeret ketakutan -- dan Buck Robinson, si "Asap Harlem." Pria kulit hitam itu ambruk setelah kena hantam, dan nampaknya tak akan pernah bangun lagi. Dia sosok mengerikan mirip gorila, dengan lengan sangat panjang yang bagiku kelihatannya seperti kaki depan, dan wajah yang membangkitkan kenangan akan rahasia mengerikan dari Kongo, dengan makhluk-makhluk besar yang lengan-lengannya berdentam-dentam di bawah sinar bulan. Sosoknya pasti lebih mengerikan saat masih hidup--tapi di dunia ini toh banyak hal yang buruk. Kerumunan yang malang itu ketakutan, karena mereka tidak tahu hukuman apa yang akan mereka terima jika hal ini diketahui; dan mereka nampak lega ketika West menawarkan untuk menyingkirkan mayat itu diam-diam, untuk tujuan yang sudah kuketahui.

Bulan bersinar terang malam itu, tapi kami menutupi mayat itu dan berhasil membawanya pulang melintasi jalanan yang sepi dan padang rumput, sama seperti dulu saat kami menggotong mayat di Arkham. Kami masuk lewat pintu belakang dan membawa mayat itu turun ke gudang bawah tanah, dan bersiap-siap untuk bereksperimen. Kami agak takut kalau polisi tiba-tiba menggerebek rumah, walaupun kami sudah mengatur perjalanan pulang agar tidak berpapasan dengan penjaga malam.

Hasilnya ternyata antiklimaks. Walaupun mayat itu nampak mengerikan, namun tidak menunjukkan reaksi apa-apa terhadap semua jenis cairan yang kami suntikkan ke lengan hitamnya. Akhirnya, menjelang fajar, kami memutuskan untuk menyelesaikannya--seret makhluk itu ke hutan di seberang padang rumput dekat pemakaman, dan kubur sebaik mungkin. Makam yang kami gali tidak dalam, tetapi cukup bagus. Di bawah cahaya lentera, kami dengan hati-hati menutupinya menggunakan dedaunan dan sulur tanaman mati, yakin bahwa polisi tak akan bisa menemukannya di hutan yang gelap dan pekat itu.

Keesokan harinya, aku sangat khawatir tentang polisi, karena seorang pasien membawa desas-desus tentang perkelahian dan orang mati. West punya kekhawatiran lain; dia telah dipanggil untuk sebuah kasus yang berakhir sangat parah. Seorang wanita Italia histeris karena kehilangan anaknya -- bocah lelaki usia lima tahun yang berkeliaran di luar rumah pada pagi hari dan tak kembali untuk makan malam -- dan wanita itu menunjukkan gejala-gejala lemah jantung yang mencemaskan. Histerianya sepintas kelihatan konyol, karena bocah itu toh sudah sering berkeliaran jauh. Akan tetapi, kaum petani Italia percaya takhayul, dan wanita itu nampaknya sangat terpengaruh oleh apa yang dipandangnya sebagai firasat buruk. Sekitar pukul tujuh malam, wanita itu meninggal, dan suaminya dengan beringas mencoba membunuh West, menyalahkannya karena tidak menyelamatkan istrinya. Teman-teman pria itsu egera menahannya ketika si pria mengeluarkan pisau, dan West pergi secepat mungkin di tengah-tengah jeritan, sumpah-serapah, dan ancaman balas dendamnya. Di tengah-tengah kekacauan itu, semua orang nampaknya lupa dengan si anak, yang masih hilang. Para anggota keluarga lebih sibuk mengurus jenazah si wanita, serta suaminya yang masih menjerit-jerit. West cemas bukan main; bayangan akan polisi dan sumpah-serapah si pria Italia itu sangat mengganggunya.

Kami memutuskan untuk tidur pada pukul 11, tetapi aku tak bisa tidur. Bolton kota kecil, tetapi polisinya cukup efektif. Aku takut membayangkan kekacauan apa yang akan terjadi jika kejadian kemarin malam diketahui. Kami akan kehilangan pekerjaan, dan mungkin akan dipenjara, apalagi rumor tentang pertarungan ilegal itu masih berhembus. Mataku masih terbuka sampai lonceng jam berbunyi tiga kali, dan sinar bulan yang cerah memantul di mataku lewat jendela kamar yang terbuka. Aku bergeser di atas kasur untuk menutup tirai, dan mendadak, terdengar suara gedoran di pintu depan.

Aku terpaku di tempat tidurku selama beberapa saat, namun tak lama kemudian, West mengetuk pintu kamarku. Dia memakai jubah kamar dan sandal, dan di tangannya ada sepucuk pistol serta senter. Aku tahu dia masih memikirkan pria Italia yang mengamuk itu. "Sebaiknya kita buka," bisiknya. "Mungkin saja itu pasien."

Jadi kami berdua pun turun sambil berjingkat-jingkat, sedikit takut karena tamu itu memilih datang di jam-jam seperti ini. Gedoran di pintu semakin keras. Ketika kami mencapai pintu, aku pelan-pelan memutar kunci dan membukanya. Sinar bulan menerangi sosok yang berdiri depan kami, dan West tiba-tiba memekik dan memberondongkan keenam peluru pistolnya ke arah sosok itu, tanpa memedulikan lagi segala keributan yang telah dengan susah-payah kami hindari selama ini. Karena sosok itu bukan polisi dan bukan pula si pria Italia.

Di bawah sinar bulan, sosok itu nampak seperti makhluk yang seolah datang dari mimpi buruk -- makhluk sehitam tinta dengan mata pucat, sekujur tubuhnya dikotori tanah, lumut dan dedaunan. Tubuhnya menguarkan bau darah kering, dan di antara gigi-geliginya, terjepit sepotong tangan berwarna pucat.
     
     
     Bersambung

Baca bagian selanjutnya di sini.