Kamis, 06 Agustus 2015

Kucing-kucing Ulthar

Judul asli: The Cats of Ulthar
Penulis: H. P. Lovecraft


Konon, di Desa Ulthar yang membentang di dekat Sungai Skai, tak ada seorangpun yang boleh membunuh kucing. Aku sepenuhnya meyakini hal itu ketika memandang kucingku yang mendengkur di depan perapian. Kucing adalah makhluk penuh misteri, dan akrab dengan hal-hal yang tak bisa dilihat manusia. Kucing adalah jiwa Mesir Kuno, pembawa kisah-kisah dari kota-kota yang terlupakan di Meroe dan Ophir. Mereka adalah kerabat raja hutan yang mewarisi banyak rahasia dari tanah Afrika yang indah sekaligus mengerikan. Sphinx adalah sepupu mereka, dan mereka mampu berbicara dengan bahasanya. Tetap saja, kucing lebih tua daripada Sphinx, dan mereka mengetahui semua hal yang telah dilupakan Sphinx.

Sebelum kepala desa Ulthar mengeluarkan larangan membunuh kucing, hiduplah seorang petani tua dan istrinya yang gemar memerangkap serta membunuh kucing. Tak ada yang tahu sebabnya, walaupun memang banyak orang yang membenci suara kucing di malam hari, dan tak suka melihat kucing-kucing berlarian di pekarangan dan halaman pada senja hari. Apapun penyebabnya, si petani tua dan istrinya nampak sangat menikmati membunuh kucing-kucing yang berkeliaran di dekat gubuk mereka. Dari suara-suara yang terdengar setelah senja di gubuk itu, penduduk sekitar menduga bahwa kucing-kucing itu dibunuh dengan cara-cara yang tidak lazim. Akan tetapi, tak ada seorangpun yang mau membicarakan hal ini dengan pasangan tua itu. Selain karena mereka tidak ramah, gubuk mereka sangat kecil dan gelap serta tersembunyi di bawah rerimbunan pohon-pohon oak di dekat sebuah lahan terpencil. Walaupun banyak pemilik kucing yang membenci keduanya, mereka sejujurnya lebih takut terhadap pasangan tua itu. Alih-alih mendamprat keduanya, para pemilik kucing hanya berusaha memastikan agar hewan-hewan peliharaan mereka tidak berkeliaran ke dekat gubuk pasangan itu. Setiap kali ada kucing peliharaan yang tidak diawasi menghilang, dan terdengar suara-suara aneh dari gubuk itu setelah gelap, si pemilik kucing hanya bisa meratap sia-sia, atau menghibur diri dengan berkata bahwa setidaknya bukan anak-anaknya sendiri yang hilang. Penduduk Ulthar sendiri adalah orang-orang yang berpikiran sederhana, dan tak pernah mengetahui asal-usul kucing-kucing yang mendiami desa mereka.

Pada suatu hari, sebuah konvoi karavan pengembara asing memasuki jalanan Ulthar yang sempit dan berubin batu. Para pengembara ini berkulit gelap, sama sekali tidak mirip rombongan pedagang yang biasa datang ke desa dua kali dalam setahun. Di pasar desa, mereka meramal nasib dengan imbalan koin perak, dan membeli manik-manik berwarna-warni dari pedagang setempat. Tak ada yang tahu darimana para pengembara ini berasal, tapi mereka terdengar mengucapkan doa-doa asing, dan sisi-sisi karavan mereka dilukisi figur-figur aneh yang terdiri dari manusia, kepala kucing, burung elang, domba jantan, dan singa. Pemimpin rombongan karavan itu mengenakan penutup kepala dengan hiasan sepasang tanduk dan sebuah lempengan aneh di antara kedua tanduk itu.

Di dalam salah satu karavan, ada seorang bocah kecil yatim piatu yang memiliki teman seekor anak kucing berwarna hitam. Nasib tidak berlaku baik padanya, namun toh meninggalkan makhluk kecil berbulu itu sebagai sahabatnya. Lagipula, seorang anak bisa merasa bahagia hanya dengan melihat tingkah lucu seekor kucing hitam. Bocah yang dipanggil Menes oleh para pengembara itu lebih banyak tersenyum daripada menangis, terutama ketika bermain dengan anak kucingnya yang manis di dekat tangga karavan.

Pada hari ketiga sejak kedatangan rombongan karavan itu, Menes kehilangan anak kucingnya. Ketika ia menangis terisak-isak di pasar, salah seorang penduduk desa memberitahunya tentang pasangan petani tua serta suara-suara aneh yang keluar dari gubuk mereka setelah senja. Ketika mendengar cerita ini, tangisannya berhenti; ia berdiam diri, dan akhirnya berdoa. Ia mengangkat kedua tangannya ke arah matahari dan melantunkan doa dalam bahasa asing yang tak dimengerti penduduk desa. Akan tetapi, tak ada seorangpun penduduk desa di sekitarnya yang mencoba memahaminya, karena perhatian mereka lebih banyak tertuju pada langit serta awan berbentuk aneh yang mendadak muncul. Saat si bocah mengutarakan doanya, gumpalan awan itu menunjukkan bentuk aneh, semacam makhluk mirip hewan dengan sepasang tanduk dan lingkaran di antara tanduk itu. Akan tetapi, alam toh penuh dengan beragam ilusi yang mengesankan orang-orang imajinatif.

Malam itu, rombongan karavan asing tersebut meninggalkan Ulthar. Di saat yang sama, para pemilik kucing di Ulthar merasa khawatir karena kucing-kucing mereka mendadak hilang. Tak ada kucing yang tertinggal di tiap rumah; tiap kucing besar dan kecil, kucing hitam, kelabu, bergaris, kuning dan putih. Si tua Kranon, pejabat desa setempat, bersumpah bahwa para pengembara itulah yang mencuri kucing-kucing Ulthar sebagai balasan atas hilangnya anak kucing milik Menes, dan ia mengutuki mereka serta bocah itu. Nith si notaris berkata bahwa pasangan petani tua itulah yang lebih pantas dicurigai, karena kebencian mereka yang terang-terangan terhadap kucing. Akan tetapi, tetap saja, tak ada seorangpun yang berani mendatangi pasangan itu, bahkan ketika putra pemilik penginapan, si kecil Atal, bersumpah bahwa ia melihat semua kucing Ulthar berkumpul di dekat pohon oak, berjalan mengelilingi gubuk pasangan petani tua itu perlahan-lahan sambil berbaris dua-dua, seolah melakukan ritual aneh. Para penduduk desa tidak tahu bagaimana harus merespon cerita ini; walaupun mereka khawatir pasangan itu entah bagaimana berhasil memikat kucing-kucing mereka untuk dibunuh, mereka memutuskan untuk tidak mendatangi pasangan ini sampai mereka bisa bertemu dengan pasangan tersebut di luar gubuk dan pekarangan keduanya yang gelap.

Akhirnya, para penduduk Ulthar tertidur dengan amarah terpendam. Akan tetapi, ketika mereka bangun sangat fajar, alangkah terkejutnya mereka! Semua kucing mereka sudah kembali! Besar dan kecil, kucing hitam, kelabu, bergaris, kuning dan putih, semuanya ada. Kucing-kucing itu nampak licin bersih dan tidak kelaparan, dan mendengkur keenakan. Para penduduk ramai berbincang soal keanehan itu dengan takjub. Si tua Kranon masih bersikeras bahwa itu ulah para pengembara asing tersebut, karena tak pernah ada satupun kucing yang kembali hidup-hidup dari gubuk pasangan tua itu. Akan tetapi, semua orang sepakat dalam satu hal: kucing-kucing mereka, anehnya, menolak menyentuh makanan atau mangkuk susu mereka. Selama dua hari penuh, kucing-kucing peliharaan di Ulthar tidak menyentuh makanan mereka sama sekali, hanya tidur-tiduran di dekat perapian atau di pekarangan.

Baru seminggu kemudian para penduduk desa menyadari bahwa lentera di rumah pasangan petani tua itu tak sekalipun pernah menyala setelah senja. Nith berkata bahwa tak seorangpun yang melihat pasangan tua itu lagi sejak peristiwa hilangnya kucing-kucing. Sang pejabat desa akhirnya memberanikan diri mendatangi rumah pasangan itu, ditemani Shang si pandai besi dan Thul si pemotong batu sebagai saksi. 

Ketika mereka akhirnya membuka paksa pintu gubuk itu, mereka menemukan dua kerangka manusia yang digerogoti sampai bersih di depan perapian, dan serangga-serangga merayap di sudut-sudut gelap gubuk itu.

Insiden itu ramai dibicarakan. Zath, si petugas koroner, berdebat dengan Nith si notaris. Kranon, Shang dan Thul hanya bisa bertanya-tanya keheranan. Bahkan si kecil Atal ditanyai panjang lebar dengan imbalan manisan. Semua orang membicarakan tentang si pasangan petani tua, tentang rombongan karavan dan pengembara berkulit gelap, tentang Menes dan anak kucingnya, tentang doa si bocah dan bentuk aneh yang muncul di langit, tentang perilaku kucing-kucing mereka setelah rombongan karavan itu pergi, dan tentang apa yang mereka temukan di dalam gubuk di di bawah pohon oak tua itu.

Pada akhirnya, kepala desa mengeluarkan aturan aneh yang ramai dibicarakan para pedagang di Hatheg dan pengembara di Nir: di Ulthar, tak ada seorangpun yang boleh membunuh kucing.

Tamat

Rabu, 05 Agustus 2015

World War Z: Bab II: Kesalahan (part 2)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Vaalajarvi, Finlandia

(Saat itu musim semi, “musim berburu.” Ketika cuaca mulai menghangat dan zombie-zombie yang membeku mulai hidup kembali, para anggota N-For (Northern Force) dari PBB berdatangan untuk melakukan Operasi Sapu Bersih. Jumlah zombie di tempat ini perlahan menurun setiap tahun. Jika tren ini terus berlanjut, Vaalajarvi diharapkan akan seratus persen aman dalam satu dekade. Travis D’Ambrosia, Komandan Tinggi Sekutu Eropa, terkadang hadir dalam tiap operasi untuk mengawasi. Suaranya saat berbicara denganku terdengar lembut, dengan setitik kesedihan. Selama wawancara kami, dia harus berjuang untuk mempertahankan kontak mata).

Aku tak akan menyangkal semua kesalahan yang telah kami lakukan. Aku mengaku bahwa kami seharusnya bisa lebih siap. Kami telah mengecewakan masyarakat Amerika. Tapi, aku mau masyarakat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Bagaimana kalau Israel benar?” Itulah kata-kata pertama yang diucapkan Kepala Staf Gabungan pagi itu ketika Israel mengeluarkan deklarasi mereka di PBB. “Aku tidak bilang mereka benar,” ujarnya, seolah mau meyakinkan kami, “aku hanya bilang: bagaimana kalau itu benar?” Kami tahu dia mau pendapat jujur, bukan opini terselubung. Dia memang tipe seperti itu. Dia selalu menjaga nada percakapan di ranah hipotesis, seolah itu hanya sekedar latihan intelektual. Lagipula, kalau semua orang di seluruh dunia tidak siap untuk memercayai hal seperti itu, mengapa orang-orang di dalam ruangan itu harus percaya?

Kami tetap berpura-pura tak ada yang terjadi, terus bekerja sambil tersenyum dan sesekali melontarkan lelucon. Aku tak yakin kapan tepatnya semua itu berubah. Tiba-tiba saja, ruangan kami dipenuhi para ahli bidang militer, masing-masing punya bertahun-tahun pengalaman perang dan lebih banyak pelatihan akademis daripada ahli bedah otak. Kami semua berdiskusi secara terbuka tentang ancaman serangan mayat-mayat hidup. Rasanya seperti melihat bendungan jebol. Tak ada lagi yang tabu dibicarakan, hanya kebenaran. Rasanya sangat…melegakan.

Jadi, kau sudah punya kecurigaan pribadi sebelumnya?

Ya, sejak berbulan-bulan sebelum deklarasi Israel. Sang kepala staf juga, sebenarnya. Semua orang di ruangan itu sudah lama punya kecurigaan masing-masing.

Apakah kau sudah pernah membaca Laporan Warmbrunn-Knight?

Tak ada dari kami yang pernah membacanya. Aku pernah mendengarnya, tapi tidak tahu apa isinya. Aku baru mendapatkan kopiannya dua tahun setelah Kepanikan Besar melanda. Kebanyakan panduan operasi militer isinya sama saja dengan milik kami.

Maaf, apa yang kalian miliki?

Proposal untuk Gedung Putih. Kami telah menggarisbawahi poin-poin penting untuk program komprehensif. Tujuannya bukan hanya untuk menghilangkan ancaman di Amerika Serikat, namun juga seluruh dunia.

Apa tanggapan mereka?

Gedung Putih menyukai apa yang kami sebut sebagai Fase Satu, karena murah, cepat, dan seratus persen bersifat rahasia. Fase Satu meliputi penurunan unit Pasukan Khusus ke area-area terinfeksi, dengan perintah menyelidiki, mengisolasi, dan menghancurkan.

Menghancurkan?

Ya, hanya jika diperlukan.

Apakah mereka yang disebut dengan Tim Alfa?

Ya, dan mereka sangat sukses. Laporan detail tentang operasi mereka mungkin akan terkunci selama paling tidak 140 tahun ke depan, tapi aku yakin itu akan menjadi salah satu momen paling gemilang dalam sejarah pertempuran pasukan khusus Amerika.

Jadi, apa yang salah?

Tak ada yang salah dari Fase Satu, tapi masalahnya, Tim Alfa sebenarnya hanya berfungsi sebagai solusi sementara. Misi utama mereka bukan memusnahkan, tapi menahan ancaman cukup lama sampai kami bisa menjalankan Fase Dua.

Tapi Fase Dua tidak pernah diselesaikan.

Malah tidak pernah dimulai. Inilah alasannya mengapa militer Amerika jadi terlihat keteteran secara memalukan.

Fase Dua meliputi penaklukan besar-besaran berskala nasional, jenis yang tak pernah terlihat lagi sejak Perang Dunia Kedua. Upaya semacam itu membutuhkan kontribusi masif dalam hal sumber daya dan dukungan masyarakat, dan kami tak punya kedua-duanya. Orang Amerika sudah melalui terlalu banyak konflik berdarah. Mereka sudah muak. Sama seperti tahun 70-an; tren publik sudah berubah dari militan ke benci aksi militer.

Dalam rezim totaliter—komunis, fasis, fundamentalis—dukungan publik sifatnya wajib. Kau bisa dengan mudah memulai atau memperpanjang perang, menyuruh semua orang memakai seragam selama yang kau suka, tanpa harus khawatir soal kecaman politis. Tapi, dalam demokrasi, yang berlaku adalah kebalikannya. Dukungan publik adalah harta nasional terbatas, yang harus digunakan secara bijak, hemat, dan dengan keuntungan terbesar untuk investasi tersebut. Orang Amerika sudah muak terhadap perang, jadi tak ada hal yang lebih mengundang kecaman daripada persepsi bahwa negara mereka akan kalah.

Aku bilang “persepsi” karena Amerika adalah bangsa yang cinta kemenangan besar. Kami ingin melihat kemenangan dahsyat, gol dramatis, K.O di ronde pertama. Kami ingin semua orang tahu bahwa kemenangan kami bukan hanya mutlak, tapi juga menghancurkan yang kalah. Kalau tidak…yah, lihat saja apa yang terjadi sebelum Kepanikan Besar. Kami memang tidak kalah dalam konflik-konflik kecil terakhir; jauh dari itu. Kami bahkan berhasil menuntaskan misi-misi sulit dengan sumber daya terbatas, di tengah situasi yang kurang menguntungkan. Kami berhasil, tapi publik tidak melihatnya, karena itu bukan kemenangan dahsyat yang diinginkan bangsa kami. Terlalu banyak waktu dan uang yang dihabiskan. Terlalu banyak orang yang tewas atau hancur secara mental. Kami tidak hanya kehilangan dukungan publik; kami benar-benar sudah tak punya muka.

Pikirkan saja berapa jumlah Dolar yang akan habis untuk Fase Dua. Tahukah kau berapa banyak uang yang harus kami keluarkan untuk merekrut satu saja warga sipil Amerika untuk menjadi tentara? Aku tidak bicara soal pengeluaran wajib seperti biaya pelatihan, perlengkapan, makanan, tempat tinggal, transportasi, dan medis. Aku bicara soal pembiayaan jangka panjang yang harus dikeluarkan para pembayar pajak untuk satu orang ini seumur hidupnya. Itu adalah beban finansial yang sangat besar, dan saat ini, kami sudah kewalahan bahkan untuk membiayai apa yang sudah kami miliki.

Bahkan jika kami punya cukup banyak uang untuk membiayai prajurit sebanyak yang kami mau, siapa yang mau mendaftar? Sekali lagi, ini soal rasa muak terhadap perang. Seolah-olah kematian, luka dan gangguan mental saja belum cukup, kini kita berhadapan dengan Generasi yang Dikhianati. Kami adalah prajurit sukarelawan, dan lihatlah apa yang terjadi pada banyak dari kami. Berapa banyak kisah-kisah yang kau dengar tentang veteran yang sudah sepuluh tahun pensiun yang tiba-tiba ditarik kembali? Atau mereka yang pulang dan mendapati bahwa mereka tidak bisa lagi mendapat pekerjaan? Berapa banyak yang hidupnya jadi berantakan ketika pulang, atau malah tak pernah pulang sama sekali?

Bangsa Amerika itu terbuka. Kami selalu mengharapkan setiap janji ditepati. Aku tahu banyak negara yang menganggap kami kekanak-kanakan, bahkan naif, tapi itu sudah menjadi prinsip kami. Jadi, ketika melihat Paman Sam mendadak menjilat ludahnya sendiri….

Setelah Perang Vietnam, ketika aku masih pemimpin peleton muda di Jerman Barat, kami sampai harus mengadakan program pemberian insentif khusus untuk para prajurit agar mereka tidak kabur saat bertugas. Setelah Perang Zombie, insentif sebesar apapun tidak mampu mencegah berkurangnya jumlah pasukan kami; tidak juga bonus pengurangan masa tugas atau bahkan sistem rekrutmen online yang kami samarkan menjadi video game. Generasi ini sudah muak, dan itulah sebabnya mengapa ketika zombie akhirnya mulai merongrong negara kami, kami sudah terlalu lemah dan rapuh untuk menghentikan mereka.

Aku tidak menyalahkan kepemimpinan sipil, dan aku tidak bilang kalau kami para prajurit harus bergantung pada mereka. Sistem pemerintahan yang kami anut masih yang terbaik di dunia, harus dilindungi dan dipertahankan, dan tidak boleh disalahgunakan.

Baca bagian selanjutnya di sini.

Selasa, 14 Juli 2015

World War Z: Bab II: Kesalahan (part 1)

Baca bab sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Langley, Virginia, Amerika Serikat

(Kantor milik direktur CIA ini bisa dikira ruang kerja seorang eksekutif, dokter, atau kepala sekolah SMA. Ada lemari berisi buku-buku teks, jajaran ijazah dalam bingkai dan foto-foto di dinding, serta sebuah bola kasti di atas meja yang ditandatangani pemain Cincinnati Reds, Johnny Bench. Tuan rumahku, Bob Archer, sepertinya bisa melihat bahwa aku menyangka ruangannya akan terlihat unik, berbeda. Mungkin itu sebabnya mengapa dia mengatur agar wawancara kami diadakan di sini).

Ketika kau mendengar nama CIA, di dalam kepalamu pasti langsung terbayang dua mitos paling populer di kalangan publik tentang kami. Yang pertama: pekerjaan kami adalah melacak segala bentuk ancaman terhadap Amerika dari seluruh dunia. Yang kedua: kami punya semua sumber daya dan kemampuan untuk melakukan yang pertama. Kedua mitos itu berguna untuk melindungi pekerjaan-pekerjaan kami yang sebenarnya, yang sangat rahasia. Kerahasiaan menimbulkan ruang kosong, dan spekulasi paranoid kalian sangat cocok untuk mengisi ruang kosong itu. Contoh: "Hei, apa kau dengar soal pembunuhan si anu? Katanya CIA yang melakukannya." "Hei, dengar soal kudeta di El Banana Republico? Pasti kerjaan CIA." "Hati-hati kalau membuka situs itu, CIA merekam data-datamu!" Inilah hal-hal yang dibayangkan semua orang tentang kami sebelum Perang Zombie, dan kami dengan senang hati mengipas-ngipasinya. Kami ingin orang-orang jahat mendengar desas-desus itu agar mereka takut kepada kami, dan bahkan berpikir dua kali sebelum menyakiti warga Amerika.

Satu-satunya kerugiannya adalah ketika masyarakat sipil Amerika juga mempercayai desas-desus itu. Ketika sesuatu yang buruk terjadi tanpa peringatan, mereka pasti langsung menyalahkan kami. "Hei, bagaimana bisa negara gila itu punya nuklir? Mana CIA?" "Kenapa kelompok fanatik membunuhi orang-orang tak berdosa? Mana CIA?" "Kenapa ketika mayat-mayat hidup datang, kami tidak tahu apa-apa soal itu sampai mereka mendadak muncul di halaman belakang kami? Mana CIA bedebah itu?"

Kenyataannya, baik CIA maupun agen-agen intelegensi resmi dan tidak resmi Amerika tak pernah sekalipun mengetahui yang namanya organisasi Illuminati global atau semacamnya. Kami tidak pernah mendapat pendanaan dari sumber-sumber semacam itu. Bahkan di masa-masa Cek Kosong atau Perang Dingin, mustahil bagi kami untuk mengecek setiap kamar, gua, gang sempit, rumah bordil, bunker, kantor, rumah, mobil, dan area pedesaan di seluruh dunia. Jangan salah, aku tidak bilang kalau kami tak becus, dan kami juga benar-benar berada di balik berbagai peristiwa, seperti yang telah dicurigai para pendukung maupun pengritik kami. Tapi, seandainya kami benar-benar berada di balik berbagai teori konspirasi gila seperti Pearl Harbor dan sejenisnya, kami pasti sudah jadi organisasi yang lebih kuat daripada Amerika Serikat dan bahkan seluruh ras manusia.

Sayangnya, kami bukan organisasi super rahasia yang menguasai teknologi alien. Kami juga punya kelemahan dan aset terbatas, jadi mengapa kami harus menyia-nyiakan aset kami demi melacak semua jenis potensi ancaman? Kami tidak bisa mengejar setiap rumor tentang bahaya tersembunyi dengan harapan akan menemukan sesuatu yang berharga. Kami harus selalu mengidentifikasi dan berfokus pada ancaman yang jelas dan nyata. Kalau tetangga Sovietmu mencoba membakar rumahmu, kau tidak akan menaruh perhatian pada tetangga Arabmu di blok sebelah. Jika tetangga Arabmu mendadak mengacau di halaman belakangmu, kau tidak akan memikirkan apa yang dilakukan Cina. Jika suatu hari para “ChiCom” mendadak muncul di depan pintumu sambil membawa surat pengusiran di tangan kanan dan bom Molotov di tangan kiri, hal terakhir yang akan kau lakukan adalah menengok ke belakang untuk melihat kalau-kalau ada mayat hidup di sana.

Tapi, bukankah penyebaran wabahnya memang berawal dari Cina?

Memang. Itu, dan juga salah satu Makskirovka terbaik dalam sejarah spionase modern.

Maaf?

Itu istilah untuk tipuan. Pengalih perhatian. Cina sudah tahu kalau mereka adalah salah satu target pengawasan utama kami. Mereka tahu kalau mereka tidak akan pernah bisa menyembunyikan kenyataan di balik program sapu bersih berbasis “Kesehatan dan Keamanan” mereka. Jadi, mereka menyadari bahwa cara terbaik untuk menyembunyikan kenyataan adalah dengan menunjukkannya secara terbuka. Mereka tidak berbohong tentang program sapu bersih; mereka hanya berbohong soal siapa yang mereka sapu.

Maksudmu para penentang pemerintah?

Lebih dari itu. Ingat semua insiden Selat Taiwan? Kemenangan Partai Nasional Independen Taiwan. Menteri pertahanan Cina dibunuh. Ancaman perang. Demonstrasi. Semua ini sebenarnya dirancang oleh menteri keamanan negara untuk mengalihkan perhatian dunia dari bahaya sesungguhnya yang sedang berkembang di Cina, dan berhasil! Semua intel kami di Cina melaporkan hal yang sama. Orang-orang yang hilang secara misterius. Eksekusi masal. Jam malam; pokoknya, semua aktivitas standar yang normal dilakukan para komunis Cina. Malah, strategi mereka begitu suksesnya, sehingga kami semua yakin bahwa Perang Dunia Ketiga benar-benar akan pecah di Selat Taiwan, sehingga kami justru memindahkan semua intel kami dari negara-negara dimana wabah zombie sedang mulai menyebar.

Jadi, Cina sehebat itu?

Ya, dan kami sangat buruk. Peristiwa itu mencoreng nama kami. Sejak saat itu, kami masih berusaha keras pulih dari pembantaian besar-besaran….

Maksudmu reformasi institusi?

Tidak, itu bukan reformasi. Mereka benar-benar membantai kami habis-habisan. Ketika Joseph Stalin menembak atau memenjarakan komandan-komandan militernya, dampaknya terhadap keamanan negaranya tidak sebesar apa yang terjadi ketika orang-orang administrasi pemerintahan menerapkan “reformasi” mereka pada kami. Perang melawan teror dulu itu adalah kekacauan besar, dan coba tebak siapa yang kena getahnya. Dulu kami diperintahkan untuk membuat pembenaran terhadap agenda politis tertentu, dan ketika agenda politis itu menjadi halangan, mereka yang tadinya memerintahkan kami melakukannya kini menyeberang ke pihak publik dan ikut-ikutan menudingkan jari mereka ke arah kami. “Siapa yang menyuruh kita untuk berperang? Siapa yang membuat semua kekacauan ini? CIA!”

Kami tidak bisa membela diri, kecuali kami ingin membongkar rahasia keamanan negara. Kami hanya bisa menerima semuanya. Hasilnya? Kacau sekali. Banyak orang kami yang berpikir mengapa mereka harus diam saja dan menjadi sasaran perburuan politis sementara mereka bisa pindah ke institusi swasta, mendapat gaji lebih besar, jam kerja teratur, dan penghargaan yang lebih besar atas apa yang mereka lakukan. Kami kehilangan banyak orang hebat; mereka yang berpengalaman, punya inisiatif, dan mampu menganalisis situasi dengan cemerlang. Yang tersisa tinggal orang-orang tak berguna yang tak kompeten namun suka ikut campur.

Tapi, tidak mungkin semua yang tersisa seperti itu, ‘kan?

Tidak, tentu saja tidak. Masih banyak yang tetap tinggal karena mereka benar-benar yakin terhadap apa yang mereka kerjakan. Kami tidak bekerja demi uang atau pujian. Kami ingin melayani negara. Tapi bahkan bagi orang-orang idealis, ada saatnya dimana kami harus menerima bahwa semua usaha keras kami terkadang berujung pada kesia-siaan.

Jadi, kau tentu sudah tahu apa yang terjadi waktu itu.

Tidak, aku tidak bisa…kami tidak bisa mengonfirmasi apapun waktu itu.

Tapi kau pasti punya kecurigaan.

Aku punya…keraguan.

Bisa lebih spesifik?

Tidak, maafkan aku. Tapi yang jelas, aku sudah mencoba membicarakan hal tersebut dengan beberapa kolega.

Apa reaksi mereka?

Hanya satu: “kau akan tamat.”

Itu saja?

(Dia mengangguk). Waktu itu aku bicara dengan…seseorang yang punya posisi. Hanya rapat singkat lima menit, dana aku menyuarakan kekhawatiranku. Dia bilang terima kasih dan akan menyelidikinya. Hari itu, aku langsung ditransfer ke Buenos Aires, efektif saat itu juga.

Apa kau pernah dengar tentang Laporan Warmbrunn-Knight?

Tentu saja. Dulu, Paul Knight sendiri yang memberikan kopian laporan itu kepada direktur, ditandai “Rahasia.” Tiga tahun setelah peristiwa Kepanikan Besar, laporan itu kami temukan terkubur di bawah tumpukan berkas di meja salah satu kerani di kantor San Antonio. Rupanya, tepat setelah aku ditransfer ke Buenos Aires, Israel menyampaikan rencana “Karantina Sukarela” mereka kepada publik. Tiba-tiba saja, peringatan itu tak ada gunanya lagi. Hal yang sebenarnya sudah terjadi. Yang tersisa tinggal pertanyaan soal siapa yang akan memercayainya.

Baca bagian selanjutnya di sini.

Sabtu, 11 Juli 2015

Dagon



Judul asli: Dagon
Penulis: H. P. Lovecraft

Aku menulis ini dengan kalut, karena aku tahu malam ini aku akan mati. Aku tak punya uang dan hampir kehabisan obat-obatan yang membantuku tetap waras. Aku tak bisa menahan siksaan ini lagi. Akan kulempar diriku lewat jendela lantai teratas ini ke jalanan kumuh di bawah. Tapi, jangan pikir aku lemah karena aku kecanduan morfin. Kalau kau sudah membaca surat yang kutulis dengan tergesa-gesa ini, kau akan paham mengapa kematian adalah pilihanku.

Tempat itu adalah perairan terbuka yang jarang dilewati di Laut Pasifik, dan di sanalah kapal kargo kami dihadang kapal-kapal perang Jerman. Saat itu, perang besar baru saja dimulai, dan angkatan laut Inggris masih belum begitu terpuruk. Kapal kami dianggap sebagai sandera berharga, dan kami diperlakukan dengan cukup baik sebagai tahanan militer AL. Para penyandera kami bahkan bisa dibilang ceroboh dalam tugas mereka sehingga aku berhasil melarikan diri pada hari kelima, menggunakan perahu kecil lengkap dengan air dan perbekalan.

Setelah terapung-apung selama beberapa lama, aku baru sadar sadar bahwa aku tak tahu dimana aku berada. Aku bukan navigator yang baik, dan aku hanya bisa menebak dari posisi matahari dan bintang-bintang bahwa aku berada di selatan garis khatulistiwa. Tak ada satupun pulau atau garis pantai yang terlihat. Cuacanya cerah, dan aku hanya bisa menanti jika ada kapal lewat, sambil terpanggang matahari selama berhari-hari. Akan tetapi, tak ada satupun kapal yang lewat, dan aku mulai merasa putus asa karena sendirian di tengah-tengah laut biru yang luas itu.

Ketika aku tertidur, situasinya mulai berubah. Aku tak begitu ingat jelas apa yang terjadi, karena aku tak terbangun walaupun tidurku gelisah. Akan tetapi, ketika aku membuka mata, perahuku ternyata sudah setengah terbenam di permukaan semacam rawa-rawa hitam berlendir yang luas, yang permukaannya nampak bergelombang seperti berdenyut. Perahuku rupanya terdampar cukup jauh sehingga aku tak lagi melihat laut.

Kau mungkin menyangka aku akan takjub ketika melihat pemandangan mengejutkan seperti itu, namun sejujurnya, aku lebih merasa ngeri ketimbang takjub. Udara dan tanah berlumpur di tempat itu terasa jahat, membuatku merinding sampai ke tulang. Bau rawa-rawa itu luar biasa busuk karena bangkai-bangkai ikan yang bertebaran di atasnya, dan aku melihat tonjolan-tonjolan aneh yang tak kuketahui di bawah lapisan lumpurnya. Kata-kata tak bisa menjelaskan kengerian luar biasa yang memancar dari daerah hening dan tandus itu. Tak ada apapun yang terdengar atau terlihat kecuali rawa hitam luas berlendir, namun aku merasa mual karena rasa takut yang amat sangat. Matahari bersinar sangat terik, dan karena langit bersih tak berawan, sorot cahayanya hampir terlihat gelap di mataku, seolah mencerminkan lumpur hitam menjijikkan di bawah kakiku. 

Saat aku susah-payah berjalan setengah merangkak ke perahuku, aku memikirkan sebuah teori. Suatu aktifitas vulkanik mungkin mengangkat satu bagian dasar laut sampai ke permukaan, sehingga area yang tadinya sudah terbenam di kedalaman air selama berjuta-juta tahun kini terekspos. Area baru ini punya ketebalan yang luar biasa sampai-sampai aku tak bisa mendengar suara laut di bawahnya, sekeras apapun aku mencoba. Aku juga tidak melihat satupun burung laut di sekitar tempat ini. Aku akhirnya hanya bisa duduk selama berjam-jam di samping perahuku, yang terdampar dalam posisi sedikit miring sehingga memberiku tempat berteduh seadanya. Setelah beberapa jam berlalu, lumpur di bawah kakiku telah sedikit mengeras sehingga memungkinkan untuk berjalan dengan lebih mudah. Aku memutuskan untuk tidur dulu malam itu, sebelum membawa perbekalanku dan memulai perjalanan panjang untuk menemukan pantai serta kapal yang bisa menyelamatkanku.

Pada pagi hari ketiga, aku menemukan permukaan tanah kering yang benar-benar enak dibuat berjalan. Bau amis dan busuk di tempat itu luar biasa parah, namun benakku penuh dengan hal-hal yang lebih mendesak, sehingga aku tak menghiraukannya dan terus berjalan. Aku melangkah dengan gigih, disemangati oleh pemandangan sebuah bukit di kejauhan, yang puncaknya menjulang paling tinggi di permukaan tandus itu sejauh mataku bisa memandang. Aku berhenti untuk memasang tenda pada malam hari, dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya, walaupun bukit itu nampaknya tidak sedekat kelihatannya saat aku pertama kali melihatnya. Barulah pada petang hari keempat, aku tiba di kaki bukit itu, yang ternyata jauh lebih curam ketika dilihat dari jarak dekat. Aku terlalu lelah untuk mendakinya, jadi aku memutuskan untuk tidur dulu semalam di situ.

Mimpiku, anehnya, sangat liar malam itu, membuatku terlonjak bangun sambil berkeringat dingin bahkan sebelum bulan sempat meninggi di langit sebelah timur. Aku memutuskan untuk tidak tidur lagi. Aku tak ingin melihat lagi sesuatu seperti yang kulihat dalam mimpi barusan. Ketika mataku menyesuaikan diri dengan sekelilingku di bawah cahaya bulan, aku baru menyadari kebodohanku. Aku harusnya tidak berjalan di siang hari. Di malam hari, aku bisa menghemat lebih banyak tenaga karena aku tidak terpanggang matahari saat berjalan. Aku bahkan merasa mampu mendaki bukit tersebut saat itu juga. Aku pun mengambil ranselku dan melanjutkan perjalanan mendaki bukit.

Tadi kubilang area luas yang tandus itu membuatku ngeri, tapi aku merasakan kengerian yang lebih besar justru ketika aku mencapai puncak dan memandang ke lembah di seberang bukit, yang masih nampak gelap karena bulan belum naik cukup tinggi untuk menyinarinya. Rasanya seperti berada di tepian dunia, dimana yang terlihat hanya kegelapan tak berujung bagaikan malam yang abadi. Samar-samar, aku teringat puisi itu, Paradise Lost, dan membayangkan Iblis yang menyeberangi kegelapan purba.

Ketika aku menuruni lembah itu, aku menyadari bahwa lerengnya tidak securam yang kuduga. Ada banyak lekukan dan tonjolan batu yang memberiku pijakan saat turun. Baru setelah beberapa ratus meter, lereng lembah itu semakin bertambah curam, dan aku harus susah-payah merosot turun untuk mencapai daerah yang agak lebih datar, sambil terus memandang ke arah Styx* di bawah sana. Setelah aku turun, perhatianku langsung tercurah ke sebuah dataran tinggi yang menjulang beberapa ratus yard di atasku, dan sebuah benda asing besar di atasnya yang nampak putih berkilauan tersiram sinar bulan yang mulai meninggi.

Batu biasa, pikirku, mencoba menenangkan diri. Akan tetapi, walau hanya sekilas, aku bisa melihat bahwa bentuk dan lekukan batu itu tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa benda tersebut terbentuk secara alami. Semakin aku memandang benda itu, perasaanku semakin bergejolak, karena walaupun berukuran besar dan nampak sudah ada di dasar laut sejak dunia masih muda, benda itu terlihat seperti sebuah monolit raksasa yang sengaja dibuat sebagai obyek penyembahan.

Diiringi rasa takut sekaligus ketakjuban ala arkeolog atau ilmuwan di depan penemuan baru, aku mengamati sekelilingku dengan seksama. Saat itu bulan sudah naik tinggi dan bersinar terang di atas puncak menara batu itu, menerangi bagian bawahnya yang ternyata sedikit terbenam di air yang entah berasal dari mana, dan permukaan air yang bergejolak itu nyaris membasahi kakiku. Aku kini bisa melihat permukaan monolit itu, yang dihiasi semacam ukiran huruf dan pahatan kasar. Huruf-hurufnya nampak seperti hieroglif asing yang tak kukenali dan belum pernah kulihat di buku manapun; bentuk-bentuknya mengacu pada makhluk-makhluk air seperti ikan, belut, gurita, hewan bercangkang, moluska, paus, dan sebagainya. Beberapa makhluk air yang kulihat di pahatan itu tak pernah kulihat di manapun, tapi kurasa aku mengenali bentuk-bentuknya dari beberapa bangkai asing yang pernah kulihat di rawa tandus pulau rawa itu sebelumnya.

Akan tetapi, dibandingkan ukiran huruf, pahatan gambar-gambarnyalah yang paling membuatku terpesona. Bentuk-bentuk besar dari sederet pahatan timbul, sangat menyolok dan pasti akan membuat Doré** merasa iri. Mereka nampak seperti manusia, atau setidaknya semacam makhluk mirip manusia. Mereka digambarkan bergerak mirip ikan-ikan yang berenang di laut dalam, serta memuja monolit-monolit batu di dalam air seperti yang kulihat saat ini. Aku tak bisa menggambarkan bentuk mereka secara rinci, karena mengingatnya saja sudah menakutkan, jauh melebihi imajinasi terliar Poe atau Bulwer.

Makhluk-makhluk itu nampak seperti manusia kecuali tangan dan kaki mereka yang bersirip, bibir lebar yang menggelambir, bola mata menonjol, dan sederet ciri-ciri fisik lain yang membuatku ngeri kalau membayangkannya. Anehnya, beberapa dari mereka nampaknya dipahat dengan ukuran yang tidak proporsional, karena salah satunya digambarkan sedang membunuh seekor paus, yang ukurannya hanya sedikit lebih besar darinya. Pada akhirnya, kuputuskan bahwa mereka pasti semacam dewa primitif yang disembah suku-suku penjelajah laut atau nelayan jaman dulu; suku-suku purba yang mungkin telah punah bahkan sebelum Manusia Neanderthal atau Piltdown hadir. Penemuan purba yang di luar dugaan ini melampaui bayangan terliar arkeolog manapun, sehingga aku hanya bisa berdiri terpana di bawah sinar bulan sambil memandangi pernukaan air di bawah kakiku.

Dan tiba-tiba, aku melihatnya.

Nyaris tanpa menimbulkan gejolak di permukaan air, makhluk itu muncul. Sangat besar dan mengerikan, monster itu melesat ke arah monolit bagai makhluk dari mimpi buruk, lantas meletakkan lengannya yang bersirip di atasnya. Makhluk itu menunduk dan mengeluarkan suara keras berirama, dan kurasa aku jadi gila saat itu.

Aku tak begitu ingat bagaimana persisnya aku mendaki lembah dan menuruni bukit serta berjalan setengah meracau ke perahuku. Aku ingat bernyanyi keras-keras, dan tertawa terbahak-bahak ketika sudah kehabisan lagu. Samar-samar, aku ingat badai yang menyambutku di tengah laut, serta suara halilintar sangat keras yang sambar-menyambar seolah alam sudah gila. Ketika aku sadar, aku sudah berada di sebuah rumah sakit di San Fransisco. Rupanya, seorang kapten kapal Amerika menemukan perahuku di tengah laut. Kurasa aku meracau dan mengocehkan macam-macam, tapi tak ada yang terlalu memerhatikan kata-kataku. Para penyelamatku juga tak tahu apa-apa soal dataran baru yang naik ke permukaan laut di Pasifik, sehingga aku juga tak mau repot-repot meyakinkan mereka tentang sesuatu yang mereka tak akan percaya. Setelah itu, aku pergi mengunjungi seorang arkeolog terkenal, dan menodongnya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh seputar Dagon, Dewa Ikan dari legenda kuno kaum Filistin. Akan tetapi, dalam hal ini pandangannya terlalu sempit, jadi aku aku tak ingin bertanya-tanya lagi.

Aku melihat makhluk itu nyaris setiap malam sekarang. Aku mencoba mengonsumsi morfin, tapi obat itu hanya memberi rasa lega sementara, dan akhirnya malah membuatku kecanduan. Jadi, aku akan mengakhirinya sekarang, setelah menyelesaikan surat pengakuan yang mungkin akan membuat geli teman-temanku ini. 

Kadang aku bertanya-tanya kalau apa yang kulihat saat itu hanya ilusi dari trauma dan demam yang kuderita saat terapung-apung di perahu setelah berhasil kabur dari tentara Jerman. Akan tetapi, setiap aku berpikir begitu, saat itu pula bayangan mengerikan itu kembali dengan sangat terperinci. Aku tak bisa lagi melihat laut tanpa berpikir bahwa, saat ini, makhluk-makhluk mengerikan itu sedang menyusuri dasar laut, memuja sesembahan mereka sambil mengukir pantulan memuakkan diri mereka sendiri di monolit batu yang terbenam. Aku terus memimpikan hari dimana mereka akan muncul dari laut, dan cakar-cakar mereka menyeret umat manusia yang ringkih karena perang ke dalam laut—hari dimana daratan akan tenggelam dan dasar laut naik ke permukaan, di tengah kekacauan dan kehancuran dunia.

Akhirku sudah dekat. Kudengar suara-suara di pintu, suara tubuh licin raksasa makhluk itu di baliknya. Tidak, dia tak akan menemukanku. Oh, Tuhanku, jendelanya! Jendela!

Tamat

*Styx: nama sungai yang membatasi alam fana dan alam baka dalam mitologi Yunani.

**Gustave Doré: nama pemahat dan pengukir asal Prancis (1832-1883)


Senin, 01 Juni 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 7)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Bethlehem, Palestina

(Dengan wajah tampannya yang dihiasi jenggot tipis nan rapi, Saladin Kadir bisa dikira bintang film. Dia ramah namun tidak menjilat, percaya diri namun tidak arogan. Dia adalah profesor perencanaan tata kota di Universitas Khalil Gibran, dan para mahasiswinya naksir dia. Kami duduk di bawah patung tokoh yang menjadi asal-muasal nama universitas ini, yang permukaan perunggunya berkilauan di bawah sinar matahari).

Aku lahir dan dibesarkan di Kuwait. Keluargaku adalah satu dari sedikit yang "beruntung" karena tidak terusir keluar pada tahun 1991, ketika Arafat bergabung dengan Saddam dan menentang seluruh dunia. Kami tidak kaya, tapi juga tidak terlalu miskin. Hidupku cukup nyaman, dan bahkan cenderung dimanja; kau pasti bisa menebaknya dari caraku bersikap ketika mendengar berita tersebut. Saat itu, aku menonton siaran Al Jazeera dari belakang konter Starbucks tempatku bekerja sambilan sepulang sekolah. Tempat itu selalu ramai setiap siang, jadi kau bisa bayangkan betapa riuhnya tempat itu ketika semua orang ber-"huu" dan mengejek ketika mendengar beritanya. Kedai kopi itu mungkin sama hebohnya dengan ruang rapat Dewan Umum PBB yang kami lihat di TV.

Tentu saja kami pikir itu semua kebohongan Zionis, terutama saat duta besar Israel mengumumkan di depan Dewan Umum bahwa negara mereka memutuskan untuk menerapkan "karantina menyeluruh.".Apa kami semua harus percaya cerita gilanya? Bahwa penyakit rabies Afrika itu sebenarnya adalah wabah baru yang bisa mengubah mayat hidup menjadi kanibal-kanibal haus darah? Bagaimana mungkin kau memercayai cerita sebodoh itu, terutama jika datangnya dari musuh besarmu?

Aku bahkan nyaris tidak mendengar lanjutan pidato bajingan gendut itu; soal penawaran tempat pengungsian untuk setiap orang Yahudi yang lahir di negara lain, orang asing dari orang tua berkebangsaan Israel, orang Palestina yang tinggal di wilayah di luar batas negara Israel, dan orang Palestina yang terusir dari wilayah yang diduduki Israel. Keluargaku masuk ke kelompok terakhir; mereka mengungsi ke Kuwait pada tahun 1967 karena agresi Perang Zionis. Kami meninggalkan desa kami dengan keyakinan bahwa kami akan bisa kembali setelah saudara-saudara kami dari Mesir dan Suriah mengusir orang-orang Yahudi. Aku belum pernah ke Israel, dan bahkan tak pernah membayangkan bahwa kami akan kembali ke wilayah baru yang mereka sebut Unified Palestine.*

Waktu itu apa menurutmu yang ada di balik rencana Israel?

Beginilah pikiranku waktu itu: kaum Zionis terusir dari wilayah yang tadinya mereka duduki, dan mereka tahu bahwa serangan besar berikutnya akan menghancurkan tempat menyedihkan yang mereka sebut negara. Jadi, untuk mencegahnya, mereka berencana merekrut Yahudi asing sebanyak mungkin untuk membantu perang, dan--oh Tuhan, dulu kupikir aku pintar sekali karena memikirkan hal ini--mereka mau menculik orang-orang Palestina untuk dijadikan perisai hidup! Yah, siapa yang tidak berpikir seperti itu pada usia 17 tahun?

Ayahku sama sekali tidak terkesan oleh "analisis geopolitis" itu. Dia tukang bersih-bersih di Rumah Sakit Amiri, dan dia sedang bertugas ketika penderita wabah rabies Afrika pertama dibawa masuk. Dia tidak menyaksikan sendiri bagaimana mayat-mayat melompat dari brankar, atau bagaimana mereka menyerang dan membunuh pasien-pasien serta petugas keamanan yang panik, tapi dia melihat sisa-sisa kejadiannya. Itu cukup meyakinkannya bahwa tetap tinggal di Kuwait sama saja dengan bunuh diri. Dia memutuskan untuk membawa kami semua pergi tepat setelah Israel menyampaikan deklarasinya di PBB.

Pasti sulit sekali bagimu.

Tentu saja! Aku mencoba meyakinkannya, membujuknya dengan memuntahkan semua logika remajaku. Aku menunjukkannya gambar-gambar rekaman Al Jazeera dari wilayah Tepi Barat yang ditinggalkan Israel; semua keramaian dan perayaan yang terjadi. Semua orang yang punya mata pasti menyadari bahwa kebebasan sudah di depan mata. Orang-orang Israel telah meninggalkan semua area yang tadinya mereka duduki, dan mereka bahkan mengosongkan Al Quds, tempat yang mereka sebut Jerusalem! Tidakkah ayahku melihat semua ini? Tidakkah dia mengerti bahwa, hanya dalam beberapa bulan, kami akan kembali ke tanah air kami?

Bagaimana dia menanggapinya?

Ayahku "menanggapi" argumenku setelah ledakan wabah kedua terjadi di Al Jahrah, kali itu lebih besar dari yang pertama. Dia berhenti dari pekerjaannya, menguras rekening bank kami, mengepak tas-tas kami, dan memesan tiket. TV menyala di rumah kami, menampilkan peristiwa kerusuhan, dan kulihat petugas-petugas polisi di layar, menyerbu sebuah rumah. Aku tak bisa melihat siapa yang mereka tembaki di dalam. Reporternya melaporkan kerusuhan itu didalangi oleh "ekstremis pro-Barat." Ayahku dan aku bertengkar. Dia mencoba meyakinkanku soal apa yang telah dilihatnya di rumah sakit, dan berkata bahwa ketika pemimpin kami menyadari bahaya apa yang sebenarnya mengancam, semuanya sudah akan terlambat.

Aku mencibir atas sikapnya. Apa lagi yang bisa kuharapkan dari pria lembek yang menghabiskan waktunya menyikat toilet di negara yang memperlakukan kami hanya sedikit lebih baik dari para imigran Filipina? Dia sudah kehilangan perspektif dan rasa hormat pada diri sendiri. Kaum Zionis menawarkan janji-janji kosong soal kehidupan yang lebih baik, dan dia langsung menerkamnya seperti anjing menerjang sisa-sisa makanan.

Ayahku masih mencoba membujukku dengan sabar; dia bilang dia juga tidak suka pada Israel, tapi dia menerima tawaran mereka karena negara itu adalah yang paling siap menghadapi bencana yang sudah di depan mata, sehingga keluarga kami bisa selamat dan aman. Aku menertawainya, dan kemudian menjatuhkan bomnya: aku bilang padanya bahwa aku sudah menemukan situs kelompok martir muda, Children of Yassin, dan aku sedang menunggu balasan email dari cabang rekrutmen mereka di Kuwait. Aku bilang padanya bahwa dia boleh menjadi pelacur Yahudi jika mau, tapi saat berikutnya kami akan bertemu adalah ketika aku menjadi martir muda yang membebaskannya dari kamp penahanan. Aku sangat bangga dengan kata-kataku itu; kupikir kedengarannya sangat heroik. Suasana di ruang makan kami mendadak senyap. Ibuku menunduk, sementara adik-adik perempuanku saling berpandangan. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah TV dan si reporter yang menyarankan agar semua orang tetap tenang.

Nah, kau harus tahu bahwa ayahku bukanlah pria yang besar. Kupikir aku bahkan lebih besar darinya. Dia juga bukan tipe pemarah; aku tak pernah dengar dia bicara dengan suara keras sebelumnya. Akan tetapi, saat itu, kulihat kilatan di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Detik berikutnya, dia sudah menyerbuku, menghempaskanku ke dinding bagai amukan badai, dan menamparku begitu keras sampai telingaku berdengung.

"KAU AKAN IKUT!" Teriak ayahku sambil menghempaskan tubuhku ke dinding berkali-kali. "AKU AYAHMU DAN KAU HARUS MEMATUHIKU!" Tamparannya yang berikut membuat mataku berkunang-kunang. "KAU HARUS IKUT BERSAMA KELUARGAMU, ATAU KAU TAK AKAN MENINGGALKAN RUMAH INI HIDUP-HIDUP!"

Aku sama sekali tak tahu siapa pria itu, singa buas yang menggantikan ayahku yang lembek. Singa yang melindungi anak-anaknya. Dia tahu bahwa rasa takut adalah satu-satunya senjata yang dimilikinya untuk membuatku menurut. Jika wabah zombie tidak membuatku takut, maka dialah yang harus kutakuti!

Apakah berhasil?

(Dia tertawa) Martir apaan. Aku menangis sepanjang perjalanan menuju Kairo.

Kenapa ke Kairo?

Tak ada penerbangan langsung dari Kuwait ke Israel, bahkan tidak dari Mesir walaupun Liga Arab sudah mencabut larangan penerbangan. Kami harus terbang ke Kairo dari Kuwait, lalu naik bus melintasi Gurun Sinai dan terus ke Taba. Saat bus kami mendekati perbatasan, aku bisa melihat tembok raksasa yang mereka bangun. Temboknya masih belum selesai; batang-batang baja mencuat dari fondasi beton. Aku memang pernah dengar tentang "pagar pengaman" Israel yang terkenal, tapi kukira pagar itu hanya mengepung Tepi Barat dan Gaza. Melihat tembok pengaman besar di tengah gurun seperti itu hanya semakin memperkuat teoriku bahwa Israel sedang mengantisipasi serangan besar-besaran di sepanjang perbatasan mereka. Pikirku, bagus, akhirnya orang-orang Mesir bertindak.

Setelah kami turun dari bus di Taba, kami diminta berjalan sendiri-sendiri dalam satu barisan panjang, melewati sederet kandang berisi anjing-anjing galak. Si penjaga perbatasan, seorang Afrika kurus--aku tidak tahu ada Yahudi kulit hitam juga--sesekali mengacungkan telapak tangan ke depan. "Tunggu di sini!" Serunya dalam bahasa Arab terpatah-patah, dan kemudian, "kau, maju!"

Pria yang berdiri di depanku sudah sangat tua; janggutnya putih panjang dan dia membawa tongkat untuk berjalan. Ketika dia berjalan melewati kandang, anjing-anjing itu menggonggong, melolong, dan mencoba menyerangnya dari balik jeruji kandang mereka. Seketika, dua orang berpakaian sipil mendekatinya, membisikkan sesuatu di telinganya, lalu menggiringnya pergi. Aku bisa melihat bahwa dia cedera; dishdasha**-nya robek di bagian pinggang dan ternoda darah kecoklatan. Orang-orang ini jelas bukan dokter, dan mobil van hitam besar tempat mereka menggiringnya jelas bukan ambulans. Brengsek, pikirku saat aku melihat keluarga pria itu menangis. Mereka menyingkirkan orang-orang yang sudah terlalu tua, sakit atau terluka! 

Kemudian giliran kami berjalan melewati barisan anjing. Mereka tidak menggonggongiku maupun anggota keluargaku. Salah satu anjing bahkan menggoyangkan ekornya dengan gembira saat adik perempuanku mengulurkan tangannya. Tapi kemudian, ketika pria yang berjalan di belakang kami lewat, mereka kembali menggonggong keras, dan pria-pria besar berpakaian sipil lagi-lagi datang. Aku berputar untuk melihatnya, dan terkejut melihat bahwa pria itu berkulit putih, sepertinya orang Amerika atau Kanada... tidak, dia jelas-jelas orang Amerika, bahasa Inggrisnya terdengar lantang.

"Aku baik-baik saja!" Dia berusaha melepaskan diri. "Ayolah, sobat, apa-apaan kalian!?" Dia berpakaian bagus; jas, dasi, dan tas kerja yang direnggut saat dia berjuang melepaskan diri dari orang-orang Israel. "Sobat, ayolah, aku salah satu dari kalian! Ayolah, brengsek!" Kancing kemejanya nampak sudah terenggut dan lepas, menampakkan perban yang membalut perutnya. Dia masih menendang-nendang saat mereka menyeretnya menuju mobil van hitam.

Aku bingung sekali. Jelas ini bukan soal apakah kami orang Arab atau bukan, dan bahkan bukan soal apakah kami terluka atau tidak. Aku melihat banyak pengungsi yang terluka parah dan berdarah; mereka lewat tanpa digonggongi anjing ataupun diseret petugas. Mereka juga dibawa ke ambulans sungguhan, bukan mobil hitam. Apakah anjing-anjing itu mendeteksi penderita rabies? Teoriku tentang siasat licik orang Israel masih bertahan saat kami diantar ke kamp hunian sementara di Yeroham.

Kamp hunian sementara?

Ya, dan area karantina, tapi menurutku itu adalah penjara, sesuai dengan dugaanku sebelumnya: ada tenda-tenda, area tinggal yang penuh sesak, penjaga, kawat berduri, semuanya dipanggang panasnya matahari di Gurun Negev. Kupikir kami semua telah menjadi tahanan. Aku masih tidak berani berkata "sudah kubilang" pada ayahku, tapi kurasa dia memahaminya lewat ekspresi masamku saat itu.

Yang tidak kuduga sama sekali adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan setiap hari oleh dokter-dokter militer. Pemeriksaan darah, kulit, rambut, air liur, bahkan air seni dan tinja...semuanya sangat melelahkan dan memalukan. Satu-satunya hal yang membuat semua hal ini menjadi lebih tertahankan, dan kupikir bahkan mencegah adanya kerusuhan di kalangan pengungsi Muslim, adalah fakta bahwa kebanyakan dokter dan perawatnya adalah orang Palestina. Dokter wanita yang memeriksa ibu dan adik-adikku berasal dari New Jersey, sedangkan dokterku berasal dari Jabaliya di Gaza, dan dia sendiri datang ke tempat itu beberapa bulan sebelumnya. Dia terus saja memberitahuku bahwa "keputusanmu tepat datang ke sini, lihat saja. Aku tahu ini berat, tapi semuanya akan baik-baik saja." Aku masih menolak memercayainya, walaupun ada sebagian kecil diriku yang mulai percaya.

Kami tinggal di Yeroham selama tiga minggu sebelum berkas-berkas kami akhirnya rampung dan semua pemeriksaan medis selesai. Kau tahu, selama tiga minggu itu, mereka bahkan sama sekali tidak melirik paspor kami. Ayahku telah bekerja keras memastikan bahwa semua dokumen perjalanan yang kami perlukan tersusun rapi, tapi mereka bahkan tidak peduli dengan itu. Sepertinya, satu-satunya yang mereka inginkan dari kami hanyalah hasil pemeriksaan medis yang bersih.

Kementrian Sosial memberi kami sertifikat untuk hunian bersubsidi, sekolah gratis, dan pekerjaan untuk ayahku dengan gaji yang cukup untuk menunjang kami semua. Ini terlalu bagus untuk jadi kenyataan, pikirku saat kami naik ke bus yang akan menuju ke Tel Aviv. Sesuatu yang buruk pasti akan segera terjadi.

Yah, hal itu akhirnya terjadi saat kami masuk ke kota Beer Sheeba. Aku sedang tertidur, jadi aku tidak mendengar suara tembakan pertama ataupun suara keras ketika kaca depan bus pecah. Aku terperanjat bangun saat bus kami kehilangan arah dan menabrak sisi sebuah gedung. Orang-orang menjerit, ada pecahan kaca dan darah di mana-mana. Keluargaku duduk di dekat pintu darurat. Ayahku menendang pintunya dan menyeret kami semua ke luar.

Suara tembakan terdengar dari mana-mana, dari pintu dan jendela-jendela. Aku melihat pertempuran prajurit lawan sipil; orang-orang sipil yang bersenjatakan pistol, senapan, dan bom molotov buatan sendiri. Ini dia! Pikirku dengan jantung yang seolah mau meledak. Operasi pembebasan akhirnya dimulai! Sebelum aku berpikir untuk bergabung bersama "saudara-saudara Arab seperjuangan," seseorang menarik bajuku dan menyeretku melewati pintu sebuah kedai Starbucks.

Aku dilempar ke lantai, ke sebelah adik-adikku yang menangis dan ibuku yang berusaha melindungi mereka. Ayahku tertembak di bahunya. Seorang prajurit Israel menekan kepalaku ke lantai, menjauhkanku dari jendela. Darahku mendidih. Aku berusaha mencari-cari sesuatu yang bisa kugunakan sebagai senjata, mungkin sepotong besar pecahan kaca yang bisa kuhujamkan ke tenggorokan Yahudi itu.

Mendadak, pintu belakang Starbucks terbuka, dan si prajurit langsung memberondongkan senapannya ke arah itu. Sesosok mayat berlumur darah terjatuh di samping kami, sebuah granat menggelinding dari tangannya. Prajurit itu meraih granat dan berusaha melemparkannya keluar, tetapi granat itu meledak di udara, tubuh si prajurit melindungi kami dari efeknya. Dia langsung terjatuh ke atas mayat saudara Arabku. Hanya saja, mayat yang pertama itu ternyata bukan orang Arab. Begitu air mataku sudah kering, aku melihat bahwa dia ternyata memiliki payess*** dan mengenakan yarmulke, dan ada tzitzit**** berlumuran darah mencuat dari balik celana panjangnya. Dia orang Yahudi. Para pemberontak sipil di jalan ternyata adalah orang-orang Yahudi! Pertempuran itu bukan antara prajurit Israel melawan pemberontak Palestina, tetapi merupakan awal dari Perang Sipil Israel.

Kupikir penyebabnya bermacam-macam. Aku tahu bahwa penarikan penduduk Palestina kembali ke Israel sama sekali bukan keputusan yang populer. Aku tahu bahwa program Desa Hunian Strategis yang baru pasti membuat marah banyak orang Israel; banyak dari mereka harus menyaksikan rumah-rumah mereka dibuldozer untuk membangun hunian-hunian baru. Penarikan warga Israel dari Al Quds menjadi pemicu terakhirnya. Rupanya, pemerintah baru berpikir bahwa tempat itu punya terlalu banyak titik lemah, terlalu besar untuk bisa dikendalikan, dan memberi akses yang terlalu mudah ke jantung Israel. Mereka juga mengevakuasi Nablus dan Hedron. Mereka percaya bahwa membangun tembok pelindung yang lebih pendek pada jalur demarkasi lama adalah solusi yang lebih aman, walaupun mereka tahu bahwa kelompok religius sayap kanan pasti akan menentang.

Aku baru mengetahui semua hal itu lama kemudian, termasuk fakta bahwa para prajurit Israel bisa menang hanya karena satu hal: para pemberontak sipil itu sebagian besar berasal dari kelompok Ultra-Ortodoks yang tak pernah mengikuti latihan militer. Apakah kau tahu itu? Aku sendiri tidak tahu. Saat itu, aku baru menyadari bahwa aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang orang-orang yang sudah kubenci seumur hidupku. Semua yang kukira kuketahui tentang mereka langsung menguap bersama asap pertempuran hari itu, digantikan oleh pemahaman akan wajah sebenarnya dari musuh bersama kami.

Aku dan keluargaku lari ke belakang sebuah tank Merkava, ketika mobil van ini tiba-tiba muncul dari sudut jalan. Rudal dari peluncur roket di tank itu menghantam van tersebut tepat di mesinnya, membuatnya terlontar ke udara, terbalik, dan berubah menjadi bola api raksasa. Aku tinggal beberapa langkah lagi dari pintu di bagian belakang tank itu, cukup dekat untuk melihat semua kejadiannya. Ada sosok-sosok keluar dari sisa-sisa van itu; mereka terbakar seperti obor namun masih bisa berjalan pelan ke depan. Para prajurit mulai menembaki makhluk-makhluk itu; aku melihat peluru menembusi dada mereka tanpa efek berarti. Sang pemimpin pasukan berteriak "B'rosh! Yoreh B'rosh!" dan para prajuritnya memperbaiki bidikan senapan mereka. Kepala makhluk-makhluk itu meledak oleh peluru, dan baru setelah itu mereka jatuh ke tanah. Kobaran api padam ketika akhirnya mereka semua jatuh; mayat-mayat hidup yang gosong terbakar. 

Tiba-tiba saja aku menyadari apa yang ayahku telah coba sampaikan berkali-kali padaku. Inilah yang diperingatkan oleh Israel! Aku pun bertanya-tanya mengapa seluruh dunia menolak mendengarkan.

Baca bab selanjutnya di sini.


*Pada tahap ini, kedua negara telah sepakat melakukan resolusi konflik yang telah lama dibahas: Two-State Solution.

**Dishdasha: baju panjang khas Arab

***Payess: kepangan kecil di dua sisi wajah, tampilan khas pria Yahudi Ortodoks

****Tzitzit: jalinan tali yang diikatkan di pinggang untuk keperluan ibadah


Minggu, 31 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 6)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Ke sini.


Tel Aviv, Israel

(Jurgen Warmbrunn sangat suka masakan Ethiopia, dan itulah alasan mengapa kami bertemu di Restoran Falasha. Dengan kulitnya yang pucat dan alis lebat di bawah rambut berantakan ala Einstein, dia bisa dikira ilmuwan gila atau profesor di universitas. Dia bukan keduanya. Walaupun dia tak pernah memberitahu divisi intelijen Israel mana yang pernah mempekerjakannya, dia terus terang mengakui bahwa dirinya pernah menjadi semacam mata-mata).

Kebanyakan orang tak percaya sesuatu sampai sesuatu itu benar-benar terjadi. Itu bukan kebodohan atau kelemahan, tapi sudah sifat manusia. Aku tak pernah menyalahkan mereka karena tidak percaya, tapi aku tidak menyebut diriku pintar atau semacamnya. Kurasa itu karena tempat kelahiranku. Aku lahir di antara kaum yang selalu merasa takut bahwa mereka akan tersingkir. Itulah bagian dari identitas dan cara berpikir kami, dan kami selalu diingatkan akan hal itu lewat bermacam peristiwa mengerikan, sehingga kami sudah terbiasa untuk bersikap waspada.

Peringatan pertama yang kudapat tentang wabah zombie berasal dari kawan-kawan dan klien kami di Taiwan. Mereka mulanya mengeluh soal program dekripsi peranti lunak kami yang terbaru; bilang bahwa program kami gagal menguraikan isi email rahasia dari sumber-sumber di Cina, dan yang berhasil mereka peroleh sangat sulit dimengerti. Kupikir mungkin ini karena orang-orang Cina punya kebiasaan menggunakan komputer-komputer berbeda yang diproduksi pada tahun-tahun berbeda di negara-negara berbeda pula. Aku sudah akan menjelaskan teori ini pada klien-klien kami di Taipei, tapi aku kemudian berpikir untuk menguraikan pesan-pesan itu sendiri terlebih dahulu. 

Mulanya aku agak heran, karena kulihat kode-kodenya sudah terurai dengan sempurna. Tapi isi emailnya...pokoknya ada hubungannya dengan penyebaran semacam wabah yang membunuh korban yang terjangkiti, sebelum menghidupkan mayatnya kembali dan mengubahnya menjadi mesin pembunuh gila. Tentu saja aku mulanya tak percaya. Kupikir itu semacam metode enkripsi pesan, seperti kode di atas kode, prosedur standar untuk mempersulit mata-mata. Kupikir mungkin orang-orang Cina tidak benar-benar bermaksud mengatakan "mayat hidup," melainkan kode untuk semacam senjata baru atau strategi perang rahasia. Aku mencoba berpikir seperti itu, walaupun aku tetap merasa bahwa, seperti yang salah satu pahlawan super kalian sering bilang: "Indra laba-labaku bekerja."

Tak lama setelah itu, saat resepsi pernikahan putriku, aku mengobrol dengan dosen menantuku di Hebrew University. Si tua itu benar-benar cerewet, dan hari itu dia juga agak mabuk. Dia mengoceh tentang sepupunya di Afrika Selatan yang memberitahunya cerita tentang golem. Kau tahu golem? Itu legenda tentang seorang rabi yang menghidupkan patung tak bernyawa. Mary Shelley mencuri ide itu untuk menulis Frankenstein. Yah, pokoknya, pria itu bilang bahwa golem yang sebenarnya tidak terbuat dari tanah liat, sama sekali tidak ramah dan penurut. Ketika dia menyebut "mayat hidup," aku langsung minta nomor telepon sepupunya. Si sepupu saat itu masih di Cape Town, baru saja ikut sebuah "Tur Adrenalin" berenang dengan ikan hiu.

(Dia memutar bola matanya).

Rupanya si ikan hiu menggigit bokongnya atau apalah, dan si sepupu dirawat di Rumah Sakit Groote Schuur, ketika korban pertama dari peristiwa di Khayelitsha dibawa ke sana. Dia tidak pernah melihat langsung kasusnya, namun para staf rumah sakit yang bercerita padanya memberinya cukup banyak informasi. Aku mencatat ceritanya, lalu mengirimkannya bersama dengan email-email dari Cina kepada atasan-atasanku.

Di sinilah aku diuntungkan dari situasi keamanan nasional kami. Pada bulan Oktober 1973, setelah serangan bangsa Arab yang nyaris mendesak kami semua ke Laut Mediterania, kami baru sadar bahwa kami telah mengabaikan semua data-data intelijen yang akan berguna untuk menghadapi serangan itu dengan lebih baik. Kami tidak pernah memperhitungkan adanya kemungkinan serangan besar terkoordinasi dari beberapa negara sekaligus, apalagi di hari-hari sakral keagamaan. Sebut saja itu stagnasi, pikiran kaku atau mentalitas kelompok. Coba bayangkan sekelompok besar orang berdiri menghadap tembok yang ditulisi. Akan tetapi, tanpa mereka ketahui, di belakang mereka ada cermin yang mengungkapkan makna sebenarnya dari pesan di tembok itu, tetapi tak ada yang berbalik untuk melihatnya karena merasa tidak perlu. Nah, setelah serangan itu, kami berpikir bahwa "konsep cermin" itu tidak hanya penting, namun juga harus menjadi bagian dari kebijakan keamanan nasional kami.

Maka, sejak tahun 1973 hingga seterusnya, jika sembilan orang analis intelijen kami mencapai kesimpulan yang sama, satu orang harus menjadi pihak yang tidak setuju. Tidak peduli bagaimanapun anehnya suatu informasi atau teori, orang ini harus terus menggalinya. Jika ada rumor bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir milik negara tetanggamu digunakan untuk membuat senjata plutonium, atau seorang diktator dikabarkan membuat meriam yang begitu besar sampai bisa melontarkan mayat hidup ke negara ini, orang ini harus terus dan terus menggali sampai menemukan kebenarannya. 

Itulah yang kulakukan: aku terus menggali. Mulanya itu tidak mudah. Cina memutuskan hubungan, krisis wabah di Taiwan mengakhiri tiap upaya pengumpulan informasi intelijen...aku hanya punya sedikit sekali sumber informasi, namun banyak di antaranya hanya omong kosong, terutama jika sumbernya dari internet. Zombie alien, obsesi kalian di Amerika terhadap Area 51.... Sampai akhirnya, aku berhasil menemukan data-data yang lebih bisa dipercaya. Laporan kasus-kasus "rabies" di Cape Town. Evaluasi psikologis terhadap beberapa prajurit Kanada yang baru pulang dari Kyrgyzstan. Ada juga postingan blog seorang perawat di Brazil yang mengisahkan serangan dan pembunuhan terhadap ahli bedah jantung di kliniknya.

Mayoritas sumber informasi utamaku datang dari WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). PBB adalah mahakarya birokrasi ruwet; begitu banyak potongan data berharga terkubur di antara timbunan laporan yang tak terbaca. Aku berhasil menemukan laporan beragam insiden di seluruh dunia yang semuanya telah diabaikan. Laporan kasus-kasus ini membantuku menyusun kepingan-kepingan informasiku menjadi satu gambaran sumber ancaman yang nyata: sudah mati namun hidup kembali, ganas, dan menyebar dengan cepat. Aku bahkan berhasil menemukan satu informasi berguna, yaitu bagaimana cara membunuh mereka.

Hancurkan otaknya.

(Dia tertawa terkekeh). Kita menyebut hal ini seolah kita membicarakan semacam solusi ajaib seperti ramuan penangkal, air suci atau peluru perak. Tapi, menghancurkan otak bukan hanya berguna untuk membunuh mayat hidup; itu juga membunuh kita semua.

Maksudmu manusia hidup?

Bukankah kita semua seperti itu? Hanya otak hidup yang fungsinya disokong oleh mesin rumit yang kita sebut "tubuh?" Otak tidak bisa bertahan hidup jika salah satu bagian mesin itu rusak atau kekurangan bahan bakar penting seperti makanan dan oksigen. Hanya itu yang membedakan kita dari "Mayat Hidup." Otak mereka tidak memerlukan mesin yang berfungsi untuk menyokong kerjanya, jadi sangat penting untuk langsung menghancurkan otak itu sendiri. (Dia pura-pura menembak kepalanya sendiri.) Solusi yang mudah sekali, tapi seandainya saja waktu itu kita mengetahuinya lebih cepat! 

Berhubung wabah itu menyebar cukup cepat, kupikir sebaiknya aku mencari informasi tambahan dari lingkungan intelijen internasional. Paul Knight dan aku sudah berteman sejak kami masih sama-sama bertugas di Entebbe. Dialah yang dulu punya ide untuk membuat kembaran sedan BMW hitam milik Idi Amin. Paul berhenti tepat sebelum agensinya mengalami "reformasi," kemudian dia bekerja sebagai konsultan di Bethesda, Maryland. Ketika aku mengunjunginya, aku kaget melihat bahwa dia menyelidiki hal yang sama denganku, dan laporan kami hampir sama tebalnya. Kami saling membaca laporan masing-masing sepanjang malam, nyaris tanpa bicara; kupikir kami bahkan hampir tidak menyadari apa yang terjadi di sekitar kami. Baru saat fajar ketika kami akhirnya selesai.

Aku ingat dia menoleh ke arahku setelah menutup halaman terakhir, lalu bertanya, "gawat sekali, ya?" Aku mengangguk, sebelum balas bertanya, "jadi, apa yang harus kita lakukan?"

Dan itulah awal kemunculan dokumen "Warmbrunn-Knight Report."

Kuharap orang berhenti menyebutnya begitu, kau tahu. Ada 15 orang yang terlibat di dalamnya: virolog, staf operasi intelijen, analis militer, jurnalis, bahkan seorang staf pengamat PBB yang memantau pemilihan umum di Indonesia ketika wabah mulai melanda negara itu. Mereka semua adalah para ahli di bidangnya, dan mereka masing-masing harus sudah memiliki kesimpulan kuat sebelum kami hubungi. Keseluruhan laporan kami mencapai seratus halaman panjangnya; sangat lengkap, mendetail, dan saat itu kami pikir sudah cukup untuk mencegah agar wabah ini tidak menjadi epidemi. Seandainya saja lebih banyak orang membaca laporan-laporanku dan mewujudkannya menjadi rencana nyata untuk menghadapi wabah zombie, kami mungkin bahkan tak perlu membuat Warmbrunn-Knight Report.

Tapi ada orang yang membacanya, 'kan? Dan pemerintahmu juga....

Ya, tapi hanya sepintas, dan lihatlah apa akibatnya.

Baca bagian selanjutnya di sini.

Minggu, 24 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 5)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Silakan ke sini.



Pelabuhan Bridgetown, Barbados, Federasi Hindia Barat

(Aku disuruh menunggu kedatangan "kapal yang layarnya tinggi", tetapi "layar tinggi" kapal IS Imfingo ternyata mengacu ke empat turbin angin vertikal yang mencuat dari lambungnya. Kapal ini dilengkapi dengan PEM, Proton Exchange Membrane, teknologi yang mengubah air laut menjadi listrik. Digadang-gadang sebagai masa depan transportasi laut, aku belum pernah melihat kapal semacam ini berlayar tanpa bendera yang menandakan status sebagai milik pemerintah. Akan tetapi, Imfingo adalah kapal milik pribadi, dan Jacob Nyathi adalah kaptennya).

Aku lahir di Afrika Selatan ketika masa apartheid baru saja berakhir. Pada tahun-tahun penuh euforia itu, pemerintah tidak hanya menjanjikan kesetaraan dalam demokrasi, tetapi juga pekerjaan dan rumah untuk kami. Ayahku mengira hal itu akan segera terwujud; dia tidak paham bahwa itu adalah tujuan jangka panjang, yang harus dicapai dengan bertahun-tahun kerja keras. Pikirnya, jika kami meninggalkan kampung halaman dan pindah ke kota, kami akan langsung mendapat rumah baru dan pekerjaan bergaji besar. Ayahku seorang buruh harian, cara berpikirnya sederhana, jadi aku tak bisa menyalahkannya hanya karena bermimpi untuk memberi kami kehidupan yang lebih baik walaupun ia tak punya pendidikan. Kami pindah ke Khayelitsha, salah satu dari empat kota utama di luar Cape Town. Kami sangat miskin dan masa kecilku sulit.

Pada malam peristiwa itu terjadi, aku sedang berjalan dari halte bus menuju rumah. Aku baru menyelesaikan giliran kerjaku di restoran T. G. I. Friday's di Victoria Wharf. Aku ingat malam itu lumayan menyenangkan; aku dapat banyak tips, dan tim rugbi Springboks baru saja mengalahkan All Blacks...untuk yang kedua kalinya!

(Dia tersenyum sejenak)

Mungkin hal-hal itu membuatku sedikit lengah, tapi aku ingat tubuhku langsung bereaksi ketika mendengar suara tembakan. Tembak-menembak bukan hal yang aneh di tempat tinggalku pada masa itu. "Satu orang, satu senjata," begitulah slogan hidup di Khayelitsha. Kau langsung mengembangkan naluri bertahan hidup layaknya veteran perang, dan naluriku setajam pisau cukur. Aku langsung jongkok dan merunduk, mencoba mencari tahu darimana asal suara tembakan itu, dan pada saat yang sama berusaha mencari tempat untuk berlindung. Sayangnya, kebanyakan "rumah" di sana lebih tepat disebut gubuk semi-permanen, terbuat dari kayu-kayu sisa dan seng berkarat, atau bahkan lembaran plastik yang dipasang pada tiang-tiang setengah jadi. Tempat itu sering kebakaran, dan kau bisa bayangkan peluru menembusi mereka seperti menembus udara saja.

Aku berlari dan berjongkok di belakang tempat cukur rambut yang dibangun dari sisa-sisa kontainer besi seukuran mobil. Bukan tempat sembunyi yang sempurna, tapi lumayan memberiku waktu untuk setidaknya menunggu sampai tembak-menembak berhenti. Hanya saja, suara-suara tembakan tidak berhenti. Pistol, shotgun, dan suara rentetan yang memberitahuku kalau seseorang punya Kalashnikov. Rasanya terlalu lama untuk ukuran pertempuran antar geng yang biasa. Aku mendengar jeritan dan teriakan. Aku mencium asap. Ada suara-suara gaduh. Saat aku mengintip, aku melihat lusinan orang, kebanyakan penghuni di daerah sekitar situ, semuanya berlari sambil menjerit-jerit: "lari! Pergi dari sini! Mereka datang!"

Lampu-lampu langsung menyala di pemukiman kumuh itu, wajah-wajah melongok keluar dari gubuk. "Apa yang terjadi?" Seru mereka. "Siapa yang datang?" Seru anak-anak. Tapi orang-orang yang lebih tua, mereka tidak berkata apa-apa dan langsung berlari. Mereka punya naluri sendiri, kau tahu, naluri yang lahir dari masa-masa ketika mereka masih jadi budak di negeri mereka sendiri. Pada masa-masa itu, semua orang tahu siapa "mereka" itu, dan jika "mereka" datang, sebaiknya kau lari dan berdoa.

Apakah kau ikut lari?

Aku tak bisa. Ibuku dan kedua adik perempuanku tinggal tak jauh dari stasiun radio Zibonele, area yang dijauhi orang-orang itu. Aku memang bodoh; harusnya aku berbalik dan menemukan gang atau sudut-sudut sepi untuk sembunyi. Tapi, aku malah langsung berlari ke arah mereka, menembus kerumunan orang yang panik. Aku tertabrak sana-sini, sampai aku terlempar ke salah satu gubuk. Aku terbelit lembaran plastik ketika tiang-tiang rapuh gubuk itu runtuh. Aku terjebak, tak bisa bernapas, kepalaku tertendang. Aku membebaskan diri dan berguling ke jalan. Aku masih tengkurap di aspal ketika akhirnya aku melihat mereka: ada sepuluh atau lima belas, semuanya berupa siluet dengan latar belakang kobaran api. Aku tak bisa melihat wajah mereka, tapi aku bisa mendengar erangan mereka. Mereka berjalan dengan langkah separuh diseret, lengan-lengan mereka terangkat ke arahku.

Kepalaku masih pusing dan tubuhku sakit semua, tapi aku langsung berdiri. Aku mundur ke gubuk terdekat, ketika sesuatu mendadak mencengkeram kerahku dari belakang. Kerahku robek, dan aku langsung berputar sambil menendang. Makhluk itu besar, besar dan lebih gemuk dariku setidaknya beberapa kilo. Ada cairan hitam menodai mulut dan bagian depan kaus putihnya. Sebilah pisau menancap di dadanya, terkubur di antara rusuk sampai ke gagangnya. Potongan kain kerahku jatuh dari mulutnya ketika dia menggeram dan menerjang. Aku mencoba menghindar. Dia menangkap lenganku, dan aku mendengar suara retakan serta merasakan sakit luar biasa. Aku jatuh berlutut, lalu mencoba berguling dan mungkin membuatnya tersandung.

Tanganku mendadak meraih sesuatu; sebuah penggorengan besi berat. Aku langsung mengayunkannya sekuat tenaga ke wajahnya. Aku memukulnya berkali-kali sampai kulihat tengkoraknya retak dan otaknya berhamburan dekat kakiku. Ia jatuh tersungkur dan aku langsung mundur ketika kulihat yang lainnya mendekat. Kali itu, gubuk-gubuk reyot itu membantuku. Aku  menendang salah satu dinding rapuh, dan satu gubuk langsung runtuh menimpa mereka.

Aku lari lagi. Aku tidak tahu kemana aku pergi. Benar-benar mimpi buruk; gubuk reyot dan kebakaran dan tangan-tangan terulur berusaha meraihku. Aku berlari menembus gubuk ini, dan kulihat seorang wanita bersembunyi di sudut. Ada dua anak kecil meringkuk sambil menangis di pelukannya. "Ayo!" Teriakku. "Berdirilah, kita harus pergi!" Aku mendekat sambil mengulurkan tangan, tapi dia menarik anak-anaknya lebih dekat sambil mengacungkan obeng yang ujungnya sudah ditajamkan. "Kumohon!" Teriakku, "kau harus lari!" Aku berusaha menyentuhnya, tapi dia menusuk tanganku. Aku lari meninggalkannya, aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Sampai sekarang aku masih mengingatnya setiap kali aku menutup mata. Kadang-kadang, wajahnya berubah menjadi wajah ibuku, dan tangisan anak-anaknya adalah tangisan adik-adikku.

Aku masih berlari ketika kulihat cahaya terang lampu mobil menembus sela-sela gubuk di depanku. Aku lari secepat mungkin dan berusaha memanggil siapapun mereka. Aku kehabisan napas dan langsung jatuh menembus dinding rapuh salah satu gubuk, dan tiba-tiba saja aku sudah ada di area terbuka. Cahayanya menyilaukan sekali, dan aku mendadak merasakan hantaman keras di bahuku. Kurasa aku sudah pingsan bahkan sebelum mencium tanah.

Aku siuman di atas ranjang di Rumah Sakit Groote Schuur. Aku tidak pernah melihat bagian dalam rumah sakit yang seperti ini; begitu putih dan bersih. Kupikir aku sudah mati, atau mungkin itu pengaruh obatnya. Aku tak pernah menyentuh alkohol, apalagi obat-obatan. Aku tak pernah mau berakhir seperti banyak anak-anak muda di lingkunganku, atau seperti ayahku. Seumur hidup, aku berjuang untuk tetap bersih, dan sekarang....

Morfinnya, atau apapun yang mereka suntikkan ke tubuhku, rasanya enak sekali. Aku tak peduli lagi pada semuanya. Aku tak peduli ketika mereka bilang polisi telah menembakku di pundak. Aku sama sekali tak menoleh ketika pasien di sampingku langsung didorong keluar ruangan segera setelah nafasnya berhenti. Aku bahkan tak peduli ketika telingaku menangkap potongan-potongan pembicaraan tentang "wabah rabies."

Apakah mereka berbicara tentang peristiwa itu?

Aku tidak tahu waktu itu. Aku sedang teler. Aku hanya ingat suara-suara di lorong di luar kamarku, suara-suara keras penuh kemarahan saat mereka berdebat. "Itu bukan rabies!" Salah satunya berteriak. "Rabies tidak menyebabkan hal seperti itu!" Lalu ada lagi...aku tak ingat...lalu, "yah, kalau begitu menurutmu itu apa!? Ada 15 yang seperti itu di sini! Apa kau tahu berapa banyak yang mungkin ada di luar sana!?" Lucu sekali; aku terus saja mengulang-ulang percakapan itu di kepalaku setelahnya. Lama sekali sebelum aku akhirnya sadar dan menghadapi semua mimpi burukku.

Baca bagian selanjutnya di sini.

Jumat, 22 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 4)

Baca bagian sebelumnya di sini.

Ingin baca dari awal? Silahkan ke sini.


Hutan Amazon, Brazil

(Mataku ditutup sepanjang perjalanan sehingga aku tak akan membocorkan lokasi tempat tinggal suku pribumi ini. Orang-orang menyebut mereka Yanomami, "Kaum Beringas". Tak ada yang tahu apakah ini karena reputasi mereka sebagai suku yang ganas, atau fakta bahwa desa mereka dibangun tinggi di atas pepohonan sehingga mereka mampu melewati krisis wabah zombie secara lebih efektif dibandingkan kota-kota industri. Aku juga tidak tahu apakah Fernando Olivieira, pria kulit putih kurus bertampang pecandu "dari tepian dunia" itu adalah tamu, maskot, atau tahanan mereka).

"Aku masih seorang dokter," begitulah biasanya aku meyakinkan diriku dulu. Ya, aku memang kaya dan semakin bertambah kaya sebanyak yang kubisa, tapi kesuksesanku setidaknya datang dari praktik medis yang memang dibutuhkan. Aku tidak mengiris dan membentuk hidung mancung di wajah para remaja atau menjahit pinto orang-orang Sudan* ke tubuh para diva pop banci. Aku dokter yang menolong orang, dan jika apa yang kulakukan dianggap "tidak bermoral" oleh Amerika dan Eropa yang sok suci, kenapa banyak dari mereka yang menjadi pasienku?

Paket itu tiba dari bandara satu jam sebelum pasienku datang, diletakkan di atas es dalam kotak plastik. Jantung adalah organ yang sulit didapatkan, tidak seperti hati, jaringan kulit, dan ginjal yang bisa diperoleh dari rumah sakit atau kamar mayat dimana saja di negara ini setelah semua ijinnya "diurus".

Apakah kau mengetesnya?

Untuk apa? Jika kau mau melakukan tes, kau harus tahu apa yang hendak kau temukan. Kami tidak tahu apa-apa tentang wabah zombie sebelumnya. Kami lebih memikirkan soal hepatitis, HIV/AIDS, dan kami bahkan tidak sempat melakukan tes untuk penyakit-penyakit itu.

Kenapa?

Karena penerbangannya sangat panjang. Organ tubuh tak bisa disimpan dalam es selamanya. Kami sudah habis-habisan untuk yang satu itu.

Dari mana jantung itu datang?

Cina. Perantaraku beroperasi di Makau. Kami percaya padanya karena rekam jejaknya bagus. Ketika ia bilang bahwa paketnya bersih, aku percaya saja. Dia dan aku tahu risikonya, dan pasien-pasienku juga. 

Sebagai tambahan atas penyakit jantungnya, Tuan Muller juga didiagnosis menderita kelainan genetis langka: dekstrokardia dengan situs inversus. Organ-organ tubuh dalamnya terletak di posisi yang salah; hatinya di sebelah kiri, nadi jantung di sebelah kanan, dan seterusnya. Kau paham situasi yang kami hadapi? Kami tidak bisa sekedar memasang jantung baru dan memutarnya; bukan begitu caranya. Kami harus segera memesan jantung segar dari "donor" yang memiliki kondisi sama. Dimana lagi kami bisa menemukannya selain di Cina?

Jadi, itu keberuntungan?

Ya, dan sedikit "kelonggaran politis". Aku hanya bilang pada perantaraku apa yang kubutuhkan, termasuk semua informasi spesifiknya. Tiga minggu kemudian, aku menerima e-mail berjudul: "Ada yang cocok."

Jadi, kau melakukan operasi itu.

Aku hanya membantu; Dokter Silva yang melakukan prosedurnya. Dia ahli bedah jantung andal yang menangani kasus-kasus sulit di Hospital Israelita Albert Einstein di São Paulo. Bajingan sombong, dia itu, bahkan untuk ukuran ahli bedah jantung. Aku harus mati-matian menekan ego ketika bekerja bersamanya...bangsat itu memperlakukanku seolah aku masih calon dokter. Tapi bisa apa lagi aku? Tuan Muller butuh jantung baru, dan rumah pantaiku butuh Jacuzzi baru.

Ternyata Tuan Muller tak pernah sadar dari pengaruh anestesi. Hanya beberapa menit setelah kami selesai, dia mulai menunjukkan gejala-gejala aneh. Temperatur, denyut nadi, pernapasan, semua kacau. Aku jadi cemas, tapi aku yakin kolegaku yang terhormat itu pasti lebih senewen. Da gelagapan memberitahuku bahwa itu mungkin reaksi umum dari obat-obatan imunosupresan, atau komplikasi yang bisa terjadi pada pasien usia 67 tahun yang kelebihan berat badan. Aku setengah menyangka bangsat sombong itu akan menepuk-nepuk kepalaku ketika dia menyuruhku pulang, mandi air hangat, mungkin memesan satu atau dua gadis panggilan, tidur, pokoknya santai. Dia akan menunggu di klinik dan meneleponku jika ada perubahan.

(Olivieira menggigit bibir dengan marah dan mengunyah lagi sejumput daun-daunan asing di sampingnya).

Aku tak bisa bilang apa-apa lagi. Ya, mungkin saja itu karena obatnya, OKT 3. Atau mungkin aku yang terlalu khawatir. Lagipula, itu operasi transplantasi jantung pertamaku. Memangnya aku tahu apa? Tapi perasaanku tetap saja tak enak, jadi aku melakukan apa yang dilakukan para dokter baik-baik ketika pasien mereka sedang menderita; aku pergi ke kota, berdisko, mabuk-mabukan, bercinta dengan entah siapa dan berapa orang. Aku bahkan tidak sadar ketika ponselku berdering. Mungkin baru empat jam kemudian ketika aku akhirnya menjawab dering ponsel. Resepsionisku, Graziela, kedengaran sangat panik. Dia bilang, Tuan Muller sudah satu jam mengalami koma. Aku sudah berada di mobilku bahkan sebelum dia selesai bicara. Perjalanan kembali ke klinik memakan waktu 30 menit, dan aku mengutuki Silva serta diriku sendiri sepanjang perjalanan. Jadi firasatku memang benar! Memang ada yang harus dikhawatirkan! Tapi, meskipun aku sadar bahwa hal ini akan berakibat buruk untukku, diam-diam aku juga merasa senang ketika menyadari bahwa reputasi Dokter Silva akhirnya tercoreng.

Ketika aku tiba, Graziela sedang sibuk menenangkan Rosi, seorang perawat muda. Gadis malang itu sangat histeris. Aku menamparnya satu kali, lalu mencecarnya dengan pertanyaan. Kenapa ada bekas darah di seragamnya? Mana Dokter Silva? Kenapa pasien-pasien ini ada di luar ruangan? Suara gedoran apa itu di dalam sana? Perawat itu bilang Tuan Muller mendadak kehilangan tanda-tanda vitalnya. Ketika mereka mencoba menyadarkannya lagi, ia mendadak membuka matanya dan menggigit tangan Dokter Silva. Keduanya bergulat. Rosi berusaha memisahkan mereka, namun dia pun nyaris digigit. Karena ketakutan, dia lari keluar dan mengunci pintunya.

Aku nyaris tertawa mendengarnya. Konyol sekali! Mungkin si Dokter Superman salah diagnosis. Mungkin Tuan Muller hanya merasa linglung setelah terbangun, dan karenanya langsung mencengkeram tangan Silva, bukan menggigitnya. Tapi...pandanganku terarah ke darah di seragam Rosa, dan suara-suara gaduh dari kamar Tuan Muller masih saja terdengar. Aku bergegas ke mobilku untuk mengambil pistolku, lebih untuk menenangkan Graziela dan Rosi daripada diriku.

Kau membawa pistol?

Hei, aku tinggal di Rio. Kau pikir apa yang kubawa, pinto-ku? Pokoknya, aku berlari ke kamar Tuan Muller, dan kuketuk pintunya beberapa kali. Tak ada yang menjawab, tapi aku melihat genangan darah merembes dari bawah pintu. Ketika aku masuk, lantai benar-benar tergenang oleh darah. Silva tergeletak di pojok ruangan, dan Tuan Muller membungkuk di atasnya, punggungnya yang pucat dan berbulu menghadap ke arahku. Aku tidak tahu apakah aku memanggil namanya atau mengumpat, yang jelas, dia tiba-tiba menoleh ke arahku, potongan-potongan daging berjatuhan dari mulutnya. Kulihat jahitannya sudah terbuka, dan ada cairan kental kehitaman keluar dari irisan bekas operasinya. Dia berdiri, dan perlahan berjalan ke arahku.

Kuangkat pistolku dan kuarahkan ke jantung Tuan Muller, jantung barunya itu. Pistolku Desert Eagle buatan Israel, bentuknya besar dan menyolok; alasan utama kenapa aku memilihnya, walau aku belum pernah menembak seseorang sampai saat itu. Aku tidak siap dengan hantaman baliknya, sehingga bidikanku mengarah ke kepalanya. Untungnya, dia langsung terjatuh, dan aku hanya bisa berdiri gemetaran sambil mengompol. Graziela yang kemudian gantian menamparku beberapa kali, sampai akhirnya aku sadar dan segera menelepon polisi.

Apakah kau ditahan?

Kau gila? Tentu saja tidak. Polisi adalah rekananku; mereka yang membantuku mendapatkan organ-organ tubuh segar, dan membereskan semua kekacauan itu. Mereka pintar sekali; membantu menjelaskan pada para pasien bahwa ada pembunuh gila yang menerobos ke klinik dan membunuh Tuan Muller serta Dokter Silva. Mereka juga memastikan para staf tutup mulut.

Bagaimana dengan mayat-mayatnya?

Mereka melaporkan Silva sebagai korban "pembajakan mobil". Aku tidak tahu dimana mereka membuang mayatnya; mungkin di salah satu daerah kumuh, dibumbui cerita-cerita yang biasa tentang transaksi narkoba yang gagal atau semacamnya. Kuharap mereka membakar mayatnya, atau menguburnya dalam-dalam.

Apakah kau pikir dia hidup lagi?

Aku tidak tahu. Kupikir otaknya masih utuh waktu dia mati. Kalau tubuhnya tidak dibungkus dalam kantung mayat...kalau tanahnya cukup lembek...berapa lama yang diperlukan sampai dia bisa menggali keluar?

(Olivieira mengunyah sejumput daun lagi. Dia menawariku, namun kutolak).

Bagaimana dengan Tuan Muller?

Tak ada penjelasan. Tidak untuk jandanya ataupun Kedutaan Austria. Mereka hanya melaporkannya sebagai satu dari turis-turis sial yang hilang diculik. Aku tidak tahu apakah Nyonya Muller percaya atau tidak, tapi aku hanya bisa bilang kalau dia beruntung sekali.

Apa maksudmu "beruntung?"

Apa maksudmu? Coba pikir, bagaimana kalau dia tidak keburu berubah menjadi zombie? Bagaimana kalau dia sempat pulang ke rumahnya?

Apa itu mungkin?

Tentu saja! Coba kau pikir; infeksinya menyebar dari jantung barunya. Virus apapun yang menyerangnya jadi punya akses ke sistem sirkulasinya, dan menyerang otaknya hanya dalam beberapa detik setelah transplantasi. Bandingkan dengan organ-organ lain seperti hati, ginjal atau kulit, pasti butuh waktu lebih lama.

Tapi donornya....

Donornya tidak harus berubah menjadi zombie dulu! Mungkin si donor baru terinfeksi sehingga organnya tidak keburu rusak. Kalau kau taruh organ itu di tubuh baru, mungkin masih perlu waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu sebelum virusnya mencapai aliran darah. Sampai saat itu tiba, si pasien mungkin sudah hampir sembuh, merasa sehat, dan hidup senang tanpa tahu apa-apa.

Jadi, siapapun yang memindahkan organnya dari tubuh donor...

...kemungkinan tidak tahu apa-apa soal apa yang dihadapinya. Aku juga tidak. Saat itu baru permulaan, ketika orang-orang masih tidak tahu apa-apa. Bahkan sekalipun mereka tahu sesuatu, seperti beberapa orang di militer Cina.... Kau tahu, mereka sudah mengambil banyak keuntungan dari menjual organ-organ tubuh narapidana yang dieksekusi selama bertahun-tahun. Pikirmu masalah penyebaran virus akan membuat mereka berhenti menyedot semua sumber uang itu?

Tapi bagaimana bisa?

Itu bisa terjadi jika kau memindahkan organ dari donor yang baru meninggal, atau bahkan ketika ia masih hidup. Mereka biasa melakukan itu, untuk menjaga kesegaran organ tubuh. Kemas dalam es, masukkan ke pesawat, kirim ke Rio. Cina dulu pengekspor organ tubuh manusia terbesar di dunia. Siapa yang tahu berapa banyak organ terinfeksi di luar sana? Itu baru organ tubuh. Kita belum bicara tentang sel telur, darah dan sperma "sumbangan" dari para tahanan politik. Pikirmu imigrasi adalah satu-satunya penyebab penyebaran wabah zombie? Tidak semua yang terinfeksi pertama kali adalah warga negara Cina. Bisakah kau menjelaskan laporan kasus-kasus orang-orang yang mati mendadak, lalu berubah menjadi zombie padahal mereka tidak digigit? Mengapa banyak kasus penyebaran wabah berawal dari rumah sakit? Imigran ilegal miskin dari Cina tidak pergi ke rumah sakit, tahu. Berapa ribu orang yang mendapat organ-organ tubuh dari Cina di masa-masa awal penyebaran wabah? Biarpun hanya satu persen, satu persen saja dari mereka yang terinfeksi....

Apakah kau punya bukti untuk teori ini?

Tidak, tapi bukan berarti hal-hal itu tidak terjadi. Kalau aku mengingat-ingat semua operasi transplantasi yang pernah kulakukan...semua pasien dari Eropa, Timur Tengah, bahkan Amerika Serikat sok suci.... Kalian di Amerika mungkin tak pernah bertanya-tanya dari mana ginjal atau pankreas baru kalian datang, apakah dari seorang bocah gelandangan di Rio, atau tahanan politik yang dihukum mati. Kalian tidak tahu dan tidak peduli. Yang kalian pikirkan hanya menandatangani cek perjalanan, dioperasi, dan pulang ke Miami atau New York atau apalah.

Apakah kau pernah mencoba melacak pasien-pasien ini untuk memperingatkan mereka?

Tidak. Aku lebih sibuk memulihkan diri dari skandal, berusaha membangun kembali reputasiku, jaringan pasienku, dan rekeningku. Aku hanya ingin melupakan semuanya, jadi aku tak pernah menyelidiki lebih lanjut. Ketika aku menyadari bahaya yang sesungguhnya, sudah terlambat.

Baca bagian selanjutnya di sini.


*Organ-organ seksual pria Sudan yang dipotong karena tuduhan melakukan hubungan seks di luar nikah kerap diduga dijual di pasar gelap sebagai jimat.