Minggu, 25 Oktober 2015

Herbert West - Reanimator (part 1)

Penulis: H. P. Lovecraft

Catatan: ini adalah cerita horor yang dibuat sebanyak 6 seri oleh H. P. Lovecraft dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1922. Menurut Lovecraft, ia membuat serial ini sebagai semacam "parodi" dari Frankenstein-nya Mary Shelley, dengan mengambil tema yang mirip yaitu ilmuwan yang terobsesi dengan eksperimen menghidupkan mayat. Ini adalah terjemahan seri pertama: From the Dark.


Untuk bisa mati, benar-benar mati, adalah anugrah. Ada hal-hal yang lebih buruk daripada kematian.
- Count Dracula

Aku hanya bisa bicara dengan nada ngeri soal teman masa kuliahku, Herbert West. Bukan soal menghilangnya dirinya baru-baru ini, melainkan karena proyek seumur hidupnya, yang dilakukannya sejak tujuh belas tahun silam, saat kami masih mahasiswa tahun ketiga di fakultas kedokteran Miskatonic University di Arkham. Berbagai eksperimen anehnya membuatku takjub, dan aku menjadi teman terdekatnya. Sekarang, setelah dia tidak ada, rasa takutku semakin besar. Berbagai kenangan tentangnya terasa lebih mengerikan ketimbang kenyataan.

Insiden pertama sejak perkenalan kami adalah kejutan terbesar seumur hidupku, dan aku bahkan sedikit ragu menceritakannya. Seperti yang kubilang, ini terjadi saat kami kuliah kedokteran, dan West saat itu sudah terkenal karena teori-teori anehnya tentang kematian, serta berbagai kemungkinan metode untuk menghindarinya. Teorinya (yang ditertawakan oleh fakultas dan mahasiswa lain) didasarkan pada aspek mekanisme alamiah kehidupan, serta mencakup metode-metode pergerakan mekanisme organik manusia dengan memanfaatkan komposisi kimiawi khusus, segera setelah proses alamiah tubuh terhenti.

Dalam berbagai eksperimennya, ia telah membunuh dan mengutak-atik bangkai kelinci, marmut, kucing, anjing dan monyet, sampai semua orang di kampus risih. Ia beberapa kali melihat tanda-tanda kehidupan pada hewan yang harusnya sudah mati, kebanyakan berupa sentakan-sentakan brutal. Tapi, ia segera menyadari bahwa untuk menyempurnakan tekniknya, ia harus menjadikannya proyek penelitian seumur hidup. Ia juga menyadari bahwa karena hasil eksperimennya tak sama untuk tiap organisme hidup, ia akan membutuhkan spesimen manusia untuk kemajuan eksperimennya. Itulah saat ia pertama kali berseteru dengan para petinggi kampus, dan ia akhirnya dilarang bereksperimen di kampus untuk seterusnya oleh dekan fakultas kedokteran, Dr. Allan Hasley yang terhormat, yang terkenal di Arkham karena berbagai aktifitas kemanusiaannya.

Aku dulu cenderung toleran terhadap pemikiran West, dan kami sering mendiskusikan berbagai teorinya. Berpegang pada teori Haeckel bahwa "hidup" hanyalah sekumpulan proses fisik dan kimiawi dan bahwa "jiwa" hanyalah mitos, temanku percaya bahwa proses menghidupkan kembali mayat tergantung pada kondisi jaringan tubuh. Kecuali jika sudah membusuk, mayat yang organ-organnya masih lengkap dan kondisinya masih baik bisa diutak-atik agar hidup kembali. 

West sadar bahwa kemampuan intelektual subyek juga akan jauh menurun, karena kematian sel-sel otak yang sensitif yang terjadi dalam waktu singkat setelah kematian. West berhasrat menemukan zat yang akan mengembalikan vitalitas jasad, dan lewat berbagai eksperimen dengan hewan, ia baru sadar bahwa tanda-tanda kehidupan alami dan artifisial sama sekali tak bisa dibandingkan. Ia mulai menyuntikkan zat buatannya ke dalam darah spesimen segera setelah kematian, namun para profesor di kampus merasa skeptis, karena menurut mereka, spesimen saat itu sebenarnya belum benar-benar mati. Mereka bahkan tidak mau menelitinya dengan seksama.

Tak lama setelah pihak fakultas memutuskan menghentikan eksperimennya, West berkata padaku bahwa ia ingin mendapat mayat manusia segar, dengan cara apapun, dan melanjutkan eksperimennya secara rahasia. Mendengarnya bicara terang-terangan soal metode mendapatkan mayat manusia seperti itu membuatku ngeri, karena sebagai mahasiswa kedokteran, kami tak pernah mencari mayat kami sendiri untuk keperluan kelas anatomi. Kalau kamar jenazah tak bisa memberi jumlah mayat yang mencukupi, kampus kami menugaskan dua orang pekerja kulit hitam untuk mendapatkannya, dan kami tak pernah bertanya-tanya pada mereka. 

West, yang saat itu hanya seorang pemuda kurus berkacamata dengan wajah sayu, mata biru pucat dan suara halus, terdengar menakutkan saat dengan santainya berbicara soal pilihan antara menggali mayat dari Pemakaman Christchurch atau pemakaman desa. Akhirnya kami memutuskan memilih pemakaman desa, karena semua mayat yang dikubur di Christchurch dibalsem, sehingga tak bisa digunakan. 

Saat itu, aku bisa dibilang asisten aktifnya, dan membantunya melakukan semua rencananya, bukan hanya soal mencari mayat yang dibutuhkan, namun juga tempat rahasia untuk melakukan eksperimen menyeramkan kami. Akulah yang mengusulkan untuk melanjutkan eksperimen di rumah pertanian Chapman di balik Bukit Meadow yang tak lagi digunakan. Di sana, kami membuat ruang kerja, ruang operasi dan laboratorium; semuanya dipasangi tirai hitam demi keamanan. Tempat itu jauh dari jalan besar, dan tak ada rumah lain di sekitarnya, tapi kami tetap harus waspada. Rumor sekecil apapun tentang "cahaya misterius" yang kebetulan terlihat oleh satu orang saja yang sedang keluar malam dapat berujung pada kehancuran kami. Kami sepakat menyebut tempat itu "laboratorium kimia" seandainya kami ketahuan.

Pelan-pelan, kami melengkapi laboratorium itu dengan berbagai perlengkapan dan bahan yang dibeli di Boston atau dipinjam diam-diam dari kampus, terutama perlengkapan dan material yang tak akan dikenali oleh awam, serta banyak sekop dan beliung untuk mengubur spesimen di ruang bawah tanah jika diperlukan. Laboratorium kampus punya insinerator -- alat pembakar -- tapi alat itu terlalu mahal untuk laboratorium tak resmi kami. Mayat spesimen yang tidak disingkirkan bisa sangat merepotkan, bahkan sekedar bangkai-bangkai marmut kecil.

Kami rajin mengikuti pengumuman kematian setempat seperti sepasang hantu, karena spesimen kami harus memiliki persyaratan tertentu. Kami ingin mayat-mayat yang kami peroleh segar dan tidak dibalsem, bebas dari penyakit yang menyebabkan kerusakan organ dan bagian tubuh, dan semua organnya masih lengkap. Harapan terbaik kami adalah korban kecelakaan. Akan tetapi, selama berminggu-minggu, kami tak berhasil mendapatkan apapun, walaupun kami rajin bertanya pada staf rumah jenazah dan rumah sakit setempat, dengan alasan untuk kepentingan kampus, sebisa mungkin tanpa menimbulkan kecurigaan. 

Ternyata, kampus kami selalu didahulukan dalam hal mendapat mayat segar, jadi kami berpikir mungkin kami sebaiknya di Arkham saja, karena kampus kami mengadakan kelas musim panas terbatas. Akan tetapi, kami akhirnya beruntung. Suatu hari, kami mendengar kabar tentang kasus ideal: seorang pekerja muda yang sehat tewas tenggelam saat berenang di Summer's Pond, dan segera dimakamkan tanpa dibalsem. Siang itu, kami menemukan kuburannya, dan bertekad menggali mayatnya tengah malam.

Tugas itu menjijikkan sekali, walaupun saat itu kami tak terlalu takut pada kuburan. Kami membawa sekop dan lentera minyak, karena walaupun senter listrik baru saja ditemukan, kami merasa penerangan benda itu tidak begitu memuaskan. Menggali mayat itu membutuhkan waktu lama dan sangat mengerikan -- mungkin puitis yang mencekam seandainya saja kami penyair dan bukan ilmuwan -- dan kami senang bukan main ketika sekop kami akhirnya membentur tutup peti kayu. Ketika peti itu terekspos, West meluncur turun dan membuka tutupnya, lantas menyeret penghuninya keluar. Aku membantunya menarik mayat itu, sebelum bergegas membantunya mengembalikan kuburan itu ke keadaan semula. Kami agak gugup, terutama ketika merasakan kekakuan mayat itu dan memerhatikan ekspresi kosongnya, tapi kami akhirnya berhasil menyelesaikan pekerjaan kami. Mayat itu kami masukkan ke karung goni, dan kami bawa kembali ke rumah pertanian Chapman di balik Bukit Meadow.

Mayat yang terbaring di meja operasi kami tak nampak agung bercahaya di bawah cahaya lampu. Sosok pemuda itu besar dan wajahnya biasa-biasa saja, tipe orang desa -- kekar, bermata kelabu, berambut coklat -- binatang cerdas yang tak punya kedalaman pikiran, tapi dengan kondisi tubuh yang nampak sangat sehat. Ia lebih nampak seperti orang yang tidur daripada mayat, tapi setelah dites, ia jelas-jelas sudah mati. Kami akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan West: mayat ideal dengan kondisi terbaik, siap untuk digarap berdasarkan perhitungan teliti dan teori-teorinya tentang manusia.

Suasananya waktu itu sangat tegang. Kami tahu kami mungkin saja tak akan sukses, dan kami sedikit khawatir akan efek mengerikan ketika tanda-tanda kehidupan muncul pada mayat. Kami terutama khawatir soal respon dan impuls asing yang akan muncul dari spesimen, karena sel-sel otaknya banyak yang sudah mati beberapa jam setelah kematian. Aku sendiri penasaran dengan pemikiran konvensional tentang "jiwa," dan sedikit bersemangat tentang apa yang mungkin akan disampaikan orang yang bangkit dari kematian. Aku penasaran apa yang mungkin telah dilihat pemuda berwajah membosankan ini, dan apa yang akan dikatakannya ketika ia hidup kembali. Tapi, aku tak membiarkan ketakjubanku melayang terlalu jauh, karena aku juga berbagi paham materialisme temanku itu. West jauh lebih tenang dariku saat ia mulai menyuntikkan zat buatannya ke lengan mayat sebelum membalut irisan yang dibuatnya.

Masa-masa penantian itu sangat menyiksa, tapi semangat West tak pernah surut. Sesekali, ia menempelkan stetoskopnya ke tubuh spesimen, dan merespon potensi kegagalan dengan kata-kata filosofis. Setelah sekitar 45 menit tanpa keberadaan tanda-tanda kehidupan apapun, West dengan kecewa mengumumkan bahwa zat buatannya mungkin kurang bagus, tapi ia masih bertekad memanfaatkan setiap kesempatan. Ia akan mengubah komposisi cairan buatannya dan menyuntikkannya lagi ke mayat sebelum menyingkirkannya. Kami sudah menghabiskan sepanjang siang menggali lubang di ruang bawah tanah, dan kami berencana mengubur mayat itu subuh-subuh, karena walaupun kami sudah mengganti semua kunci di rumah itu, kami tetap tak mau mengambil resiko ketahuan. Lagipula, kondisi mayat itu pasti sudah tak keruan malam berikutnya. Kami akhirnya meninggalkan tamu kami di meja operasi dan membawa lentera kami ke laboratorium, berusaha membuat campuran zat baru, dengan West mengamati setiap penimbangan dan pengukuran dengan tatapan nyaris fanatik.

Insiden itu terjadi begitu mendadak. Aku sedang menuangkan sesuatu dari satu tabung ke tabung lain, dan West sibuk berkutat dengan pembakar Bunsen, ketika kami mendadak mendengar rentetan raungan mengerikan dari ruang operasi yang gelap gulita. Seandainya lubang neraka mendadak terbuka, suara yang keluar dari dalamnya tak akan sama mengerikannya, karena raungan-raungan tersebut seolah mencerminkan teror supranatural dan sifat tak alamiah dari makhluk yang sama sekali asing. Tak mungkin itu manusia -- tak ada manusia yang bisa membuat suara seperti itu -- dan tanpa berpikir, aku dan West langsung bertemperasan, menyenggol berbagai perkakas kami saat berebut melompati jendela seperti anjing dipukul. Meja, lampu dan perkakas laboratorium kami berhamburan saat kami melesat keluar, berlari ke arah kota, walaupun kami kemudian berhasil menahan diri dan berlagak seolah kami hanya sepasang teman yang pulang setelah terlalu banyak minum di bar.

Kami kembali ke kamar sewaan West di kampus, dimana kami terjaga dan bicara semalam suntuk dengan lampu gas menyala. Saat itu, kami akhirnya berhasil menenangkan diri dengan berbagai alasan rasional dan rencana penyelidikan, dan akhirnya kami tertidur sepanjang hari dan melewatkan kelas-kelas kami. Akan tetapi, berita di dua koran sore edisi hari itu membuat kami tak bisa tidur lagi. Rumah pertanian kosong di Chapman terbakar habis; pasti karena lentera dan pembakar yang kami senggol. Ada juga berita tentang upaya perusakan kuburan di pemakaman desa, dengan tanda-tanda penggalian yang dilakukan dengan tangan. Kami tak tahu bagaimana itu terjadi, karena kami menggunakan sekop dan sudah memastikan kuburan itu rapi kembali.

Selama tujuh belas tahun berikutnya, West kerap gelisah, dan berkata bahwa ia seolah mendengar langkah-langkah kaki asing mengikutinya. 

Sekarang, ia menghilang.

Bersambung

Baca bagian selanjutnya di sini.

2 komentar:

  1. aahhh karya lovecraft, baru blog mbak loh yang memuat si lovecraft stories pake bahasa. Saya juga lagi seneng sama H.P Lovecraft cuma merasa agak kesulitan baca karya-karya nya karena bahasa inggris saya masih pas pasan. Ditunggu terjemahan dari si legendaris Cthulhu yaa. salam kenal

    BalasHapus
  2. Salam kenal juga, makasih ya sudah mampir. Saya tadinya bikin blog ini buat latihan nerjemahin, tapi pinginnya spesifik, jadi saya pikir, gimana kalo bikin terjemahan cerpen2 horor klasik/penulis yang sudah mapan? Berhubung lagi kerja, jadi ngerjainnya ya disambi, tapi emang rencananya mau banyak bikin karya2 Lovecraft. Ditunggu ya :-)

    BalasHapus