Jumat, 15 Mei 2015

World War Z: Bab I: Peringatan (part 2)

Baca bagian pertama di sini.



Lhasa, Republik Rakyat Tibet

(Kota terpadat di dunia ini masih perlahan menyesuaikan diri setelah kehebohan pemilu seminggu sebelumnya. Partai Sosial Demokrat melibas Partai Lama, dan jalan-jalan masih dipadati oleh para pendukung yang kegirangan. Aku menemui Nury Televaldi di sebuah kedai kopi pinggir jalan yang ramai. Kami harus setengah berteriak agar percakapan kami tidak tenggelam di tengah riuh-rendah perayaan).

Sebelum wabah zombie menyebar, bisnis penyelundupan di Cina sama sekali tidak populer. Menyiapkan paspor dan perjalanan tur palsu, kontrak dan jasa perlindungan selama perjalanan, semuanya memerlukan uang. Dulu, jalur penyelundupan paling populer hanya ada dua, ke Thailand dan Myanmar. Di Kashi, tempat tinggalku dulu, satu-satunya jalur penyelundupan yang tersedia hanyalah ke Uni Sovyet. Tak ada orang yang mau pergi ke sana, jadi aku tak pernah membayangkan akan menjadi seorang shetou.* Aku bisa dibilang berbisnis barang impor: opium mentah, permata yang belum diasah, perempuan, anak laki-laki, apapun yang berharga. Wabah itu mengubah segalanya. Tiba-tiba saja kami dibanjiri permintaan, dan tidak hanya dari para liudong renkou** tapi juga orang-orang kaya dan pejabat. Mereka ini orang-orang yang sanggup mengeluarkan uang sebanyak apapun dan tidak peduli akan pergi kemana, yang penting mereka bisa keluar.

Tahukah kau apa yang mereka hindari pada saat itu?

Kami mendengar desas-desusnya. Di Kashi bahkan sudah ada kasus penyebaran wabah saat itu. Pemerintah memang cepat-cepat menutupinya, tapi kami sudah tahu ada yang tidak beres.

Apakah pemerintah tidak berusaha membasmi kalian?

Secara resmi, ya. Hukuman untuk penyelundupan semakin keras, dan pos-pos pemeriksaan di perbatasan semakin ketat. Mereka kadang-kadang mengeksekusi satu atau dua shetou di depan publik sebagai peringatan. Kalau kau tidak tahu apa-apa soal apa yang terjadi sebenarnya, kau mungkin berpikir langkah-langkah itu efektif.

Jadi maksudmu itu tidak efektif?

Ada banyak orang yang jadi kaya karena aku: penjaga perbatasan, kaum birokrat, polisi, bahkan walikota. Saat itu masih bisa dibilang masa-masa keemasan bagi Cina, dimana semua orang menganggap cara terbaik mengenang Ketua Mao adalah dengan melihat wajahnya sebanyak mungkin di lembar-lembar uang ratusan Yuan.

Dan kau sukses besar.

Ya. Kashi menjadi penuh sesak dengan cepat. Ada sekitar sembilan puluh persen atau mungkin lebih lalu-lintas darat menuju perbatasan, dan hanya sedikit sekali ruang untuk jalur udara.

Ada jalur udara?

Sedikit. Aku bertanggungjawab mengantar orang-orang yang pergi lewat jalur udara, lantas beberapa penerbangan kargo ke Kazakhstan atau Rusia. Hanya pekerjaan remeh-temeh, tidak seperti di timur, dimana kota-kota seperti Guangzhou dan Jiangsu memfasilitasi puluhan ribu orang setiap minggunya.

Bisa dijelaskan lagi?

Penyelundupan manusia lewat udara adalah bisnis besar di area timur. Para pelanggannya adalah orang-orang kaya, mereka yang bisa membayar paket-paket perjalanan mahal di muka dan mendapat visa turis kelas satu. Pada akhirnya, mereka akan turun dari pesawat di London, Roma atau bahkan San Fransisco, masuk hotel, keluar jalan-jalan, dan akhirnya menghilang. Bisnis itu untungnya banyak sekali, dan aku selalu menginginkannya.

Tapi bagaimana dengan infeksi yang menyebar? Bagaimana dengan resiko jika ketahuan?

Itu tak jadi masalah sampai adanya Penerbangan 575. Pada awalnya, tidak banyak orang-orang terinfeksi yang menggunakan jalur udara. Kalaupun ada, biasanya hanya mereka yang baru di stadium awal. Para shetou yang menggunakan jalur udara sangat berhati-hati. Jika kau adalah penumpang yang mulai menunjukkan tanda-tanda infeksi, mereka tak akan mau mengangkutmu. Mereka sangat berhati-hati soal bisnis mereka. Kau tidak akan bisa membohongi petugas imigrasi jika kau tidak bisa membohongi shetou. Kau harus terlihat dan bersikap seolah kau sehat-sehat saja, padahal kau sedang berpacu dengan waktu. Sebelum ada Penerbangan 575, aku mendengar cerita tentang pasangan suami istri ini. Suaminya seorang pebisnis sukses, dan dia tergigit. Dia tidak langsung berubah; gejalanya hanya muncul perlahan. Mereka pasti mengira bisa menemukan obatnya di negara-negara Barat; banyak dari orang-orang ini yang berpikir demikian. Mereka nampaknya berhasil masuk ke sebuah hotel di Paris, tepat sebelum keadaan si suami bertambah parah. Istrinya mau menelepon dokter, tapi si suami melarangnya. Dia takut mereka akan dikirim balik ke Cina. Si suami menyuruh istrinya pergi meninggalkannya, dan si istri melakukannya. Selama dua hari, terdengar suara geraman dan ribut-ribut di kamar si suami, dan para pelayan hotel akhirnya mendobrak pintunya. Aku tidak tahu apakah itu yang mengawali penyebaran wabah di Paris, tapi mungkin saja.

Kau bilang mereka tidak mau menelepon dokter karena khawatir akan dikirim balik, tapi mengapa mereka pergi mencari obat ke negara Barat?

Kau ini tidak paham isi hati para pengungsi. Mereka orang-orang putus asa; terperangkap antara ancaman infeksi dan ancaman akan digelandang serta "dirawat" oleh pemerintah. Kalau seseorang yang kau cintai terinfeksi, entah itu anggota keluarga atau anak, dan kau mendengar ada setitik harapan untuk mengobati mereka di suatu tempat, tidakkah kau akan berusaha sekuat tenaga untuk pergi ke sana? Tidakkah kau akan percaya bahwa masih ada harapan?

Kau tadi bilang istri pria itu dan para pengungsi lainnya menghilang.

Itu tidak aneh, sejak sebelum wabah juga seperti itu, apalagi banyak pengungsi miskin yang jadi punya hutang besar kepada mafia Cina. Mereka biasanya menghilang ke area-area paling bobrok di negara tujuan mereka.

Maksudmu daerah kumuh?

Ya, kalau kau mau menyebutnya begitu. Tempat apa lagi yang lebih baik untuk bersembunyi daripada area-area yang dijauhi sebagian besar anggota masyarakat? Memangnya kau pikir kenapa penyebaran wabah di negara-negara maju itu selalu dimulai dari daerah kumuh?

Kudengar ada shetou yang menyebarkan kabar burung bahwa ada obat ajaib di negara-negara tujuan.

Benar.

Apakah kau melakukannya?

(Diam sejenak). Tidak.

Bagaimana Penerbangan 575 mengubah segalanya tentang penyelundupan udara?

Pengamanan udara memang diperketat, tapi hanya di beberapa negara. Shetou udara sangat waspada tapi juga cerdik. Mereka punya pepatah: "setiap rumah orang kaya punya pintu khusus untuk pembantu."

Maksudnya?

Jika Eropa Barat mengetatkan penjagaannya, masuklah lewat Eropa Timur. Amerika tak mengijinkanmu masuk? Menyusuplah lewat Meksiko. Aku yakin penduduk negara-negara kulit putih itu pasti merasa aman, walaupun infeksi sudah meluas di luar perbatasan mereka. Tapi ini bukan keahlianku; bisnisku terutama adalah transportasi darat, dan negara-negara tujuanku kebanyakan ada di Asia Tengah.

Apakah negara-negara itu lebih mudah dimasuki?

Mereka bisa dibilang memohon agar kami mau berbisnis dengan mereka. Negara-negara itu benar-benar bobrok, dan para pejabat mereka begitu korup sehingga mereka justru membantu membuatkan surat-surat resmi untuk kami untuk sedikit persen. Di sana bahkan ada shetou, atau apapun sebutannya dalam bahasa barbar mereka, yang menyelundupkan pengungsi kaya melewati negara-negara pecahan Sovyet menuju Rusia, India, bahkan Iran, walaupun aku tak pernah benar-benar menanyakannya. Pokoknya, semua tugasku selesai di perbatasan; hanya memastikan dokumen mereka dicap, kendaraan mereka ditandai dan penjaga diberangkatkan, sebelum aku akhirnya mengambil bayaranku.

Apakah kau melihat orang-orang yang terinfeksi?

Pada awalnya tidak. Wabah menyebar sangat cepat, apalagi transportasi darat tidak secepat transportasi udara. Perlu waktu berminggu-minggu untuk mencapai Kashi lewat jalur darat, dan aku diberitahu bahwa mereka yang terinfeksi hanya bertahan selama beberapa hari. Orang-orang yang terinfeksi biasanya menjadi zombie saat masih berada di perjalanan, dan mereka kemudian ditangani oleh polisi setempat. Tak berapa lama kemudian, ketika jumlah zombie semakin banyak dan polisi mulai kewalahan, aku mulai melihat lebih banyak dari mereka.

Apakah mereka berbahaya?

Tidak juga. Keluarga mereka biasanya mengikat dan menyumbat mulut mereka. Kau kadang melihat sesuatu bergerak-gerak di bangku belakang mobil, meronta-ronta dan tertutup selimut tebal. Kadang juga ada suara benturan dari lantai mobil, atau dari dalam bagasi mobil van yang diberi lubang udara. Orang-orang itu masih belum tahu apa yang terjadi pada anggota keluarga mereka.

Apakah kau sudah tahu waktu itu?

Ya, tapi percuma saja menjelaskannya pada mereka, jadi aku hanya mengambil uangnya dan mengirim mereka ke perbatasan. Aku masih beruntung, karena aku tidak pernah harus mengurusi perjalanan lewat air.

Apakah itu lebih sulit?

Ya, dan berbahaya. Rekan-rekanku yang berbisnis di perjalanan lewat air harus berurusan dengan resiko para zombie ini lepas dari ikatan mereka dan menkontaminasi seluruh isi kapal.

Apa yang mereka lakukan?

Aku mendengar mereka menjelaskan beberapa "solusi." Kadang-kadang, kapal-kapal itu akan berbelok sebentar ke perairan terbuka dan melemparkan orang-orang yang terinfeksi ini ke laut. Aku pernah dengar cerita kapten kapal ini yang melemparkan satu kerumunan zombie sekaligus langsung ke laut; itu mungkin menjelaskan kasus-kasus perenang atau penyelam yang mendadak menghilang tanpa jejak, atau cerita-cerita dari orang-orang di berbagai wilayah yang mengatakan bahwa mereka melihat zombie keluar dari laut. Pokoknya, setidaknya aku tak pernah berurusan dengan hal-hal itu.

Akhirnya, aku mengalami insiden ini, yang membuatku memutuskan pensiun untuk selamanya. Truk tua bobrok ini datang, dan ada suara-suara erangan keluar dari dalamnya. Kepalan tinju terdengar menghantam-hantam dindingnya. Truk itu sampai bergoyang-goyang. Yang menyetirnya adalah seorang bankir kaya dari Xi'an. Ia jadi kaya raya lewat bisnis yang berkaitan dengan hutang-hutang kartu kredit Amerika. Ia menawariku uang untuk meloloskan seluruh anggota keluarganya, yang ada di dalam truk itu. Jas Armaninya nampak kusut dan kotor. Ada bekas cakaran di salah satu sisi wajahnya, dan sorot matanya liar. Tatapannya sama seperti tatapan mataku sendiri waktu itu, yang menyiratkan pemahaman bahwa uang sebentar lagi tak akan banyak gunanya.

Aku memberinya selembar uang lima puluh Dolar dan mengucapkan "semoga beruntung." Hanya itu yang bisa kulakukan.

Kemana truk itu pergi?

Kyrgyzstan.


Baca bagian selanjutnya di sini.

*Shetou: "kepala ular," orang yang menyelundupkan pengungsi gelap.
**Liudong renkou: julukan untuk kaum buruh miskin di Cina yang tak punya tempat tinggal tetap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar